Home Indonesian Way Yak Yae → Pokoke → Rapopo!

Yak Yae → Pokoke → Rapopo!

352
Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi, Kabinet Reformasi Pembangunan serta Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Kabinet Persatuan Nasional. Foto olo.

Oleh: Marzuki Usman

Judul tulisan kali ini, sengaja kita ambil bahasanya rakyat kecil. Sepintas lalu kelihatannya seperti main-main? Tetapi sebenarnya adalah serius, tetapi santai, alias Sersan? Kalau diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, maka kesannya menjadi bahasa ilmiah. Yakni, marilah dibaca dimulai dengan illusion, alias yak yae, alias mimpi, alias target yang ingin dicapai. Kemudian, mari dikerjakan dengan serius, alias just do its, alias Pokoke. Dan, hasil akhirnya adalah suatu kesuksesan, alias succes, alias Rapopo.

Orang Jawa mengatakan mari dikerjakan suatu rencana. Buatlah menjadi sederhana alias simple. Jadi kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit. Artinya, selalu mencari jalan keluar atau solusi. Jadi bukanlah merupakan bagian dari pada persoalan, tetapi lebih banyak merupakan bagian dari solusi. Setelah itu, dikerjakan dengan effisien dan effektif. Effisien, artinya tidak ada sumber daya ekonomi yang tidak terpakai, alias tidak ada pemborosan atau waste. Effektif, artinya hasil akhirnya adalah optimal. Maksudnya, dengan input yang ada, dihasilkan out put atau produk yang optimal. Akhirnya, didapatlah hasil yang sangat memuaskan, dibaca, saya tidak kecewa, bahasa Jawa, ora, opo-opo, dibaca Rapopo. Kenapa begitu, karena hasilnya sangat luar biasa bagusnya.

Alkisah, ceritanya ada suatu proyek hibah dari Amerika Serikat, yang nilainya lumayan besarnya. Katanya sekitar USA 600 juta, untuk lima tahun. Proyek ini diarahkan kepada dua provinsi, yaitu : Jambi dan Sulawesi Barat. Proyek-proyek itu direncanakan untuk membiayai proyek yang bersifat konservasi energi, dari yang membakar minyak bumi (fosil oil) kepada pembangkit listrik yang bersahabat dengan lingkungan. Maksudnya mau membangun lebih banyak pembangkit listrik mikro hidro, atau tenaga matahari, atau menggunakan limbah sawit, dan sebagainya. Dan juga dimaksudkan untuk membiayai proyek yang menghijaukan lingkungan, dan atau membuat produk-produk yang bersifat ramah lingkungan, dan sebagainya.

Karena idea ini didesain oleh kalangan ilmuan, dan mereka dari kalangan atas, maka didesain seperti kebanyakan kebiasaan di dunia Perguruan Tinggi. Diperlukan studi kelayakan (Feasibility Study), yang kemudian dinilai oleh perusahaan penilai (Appraisal Companies). Kemudian ditender pelaksanaannya kepada kontraktor yang berminat, lalu pada akhirnya dihitung Economics Rate of Return (ERR), alias dampak secara ekonomi dari proyek itu kepada rakyat setempat dan provinsi setempat. Akibatnya, pelaksanaan proyek menjadi berjalan lamban.

Para pelaksana proyek mulai merasa risih, kenapa? Mereka sudah menerima gajih yang lumayan besarnya, dan sudah lebih dari 18 bulan, pada hal hampir belum ada satu proyek yang berarti sudah dilaksanakan, yang merupakan batu penentu (miles stone) dari idea yang mulia ini.

Penulis merasa terharu kepada para pelaksana. Niat yang mulia, tetapi dilaksanakan menurut standar di ruangan kelas di Perguruan Tinggi. Lalu akibatnya menjadi tersendat-sendat sendiri. Maka, diusulkanlah untuk melakukan pendekatan-pendekatan sesuai dengan judul tulisan ini, Yak Yae → Pokoke →Rapopo!

Pada kenyataannya, sudah banyak sekali dibangun oleh rakyat sendiri, proyek-proyek pembangkit listrik super mini hidro atau disebut dengan istilah Pembangkit listrik Nano Hidro, yakni oleh rakyat yang bermukim di sekitar sungai yang airnya mengalir sangat deras sekali, karena langsung turun dari pegunungan. Sebagian dari air itu dengan tehnik sederhana dikelokan untuk menggerakan dinamo listrik yang harganya sebesar Rp. 15 juta. Dan, sudah berhasil memberikan penerangan kepada sejumlah sepuluh rumah. Kalaulah pelaksana proyek hibah itu memusatkan usahanya untuk memberikan hibah kepada masing-masing provinsi sebanyak 1000 usaha rakyat seperti ini dikedua provinsi tadi, hal ini berarti sudah dapat memberikan layanan listrik kepada 10.000 rumah atau keluarga. Kalaulah setiap keluarga beranggotakan 5 orang, maka sudah ada 50.000 orang baru, yang menikmati listrik yang bersahabat dengan lingkungan.

Dilain pihak, proyek ini dapat juga memberi bantuan kepada puluhan ribu pengusaha-pengusaha rakyat kecil yang membuat misalnya : tas dari enceng gondok, makanan dari buah pohon bakau, makanan laut dari semacam siput yang orang Madura menyebutnya dengan nama Lunjuk, dan seterusnya. Kalaulah hal-hal seperti ini dikerjakan, maka Insya Allah proyek tersebut diatas akan berjalan dengan sukses.

Inilah suatu contoh dari cara kerja yang sederhana, yakni. Yak Yae →Pokoke →Rapopo. Semoga semakin banyak orang yang arif dan bijaksana di negara Indonesia Raya yang tercinta !

Komentar

Komentar