Home Breaking News Wawancara Hary Tanoesoedibjo Tentang Hubungannya Dengan Presiden Donald Trump

Wawancara Hary Tanoesoedibjo Tentang Hubungannya Dengan Presiden Donald Trump

7322
Presiden Donald Trump (kiri), Bigbs MNC Group, Hary Tanoesoedibjo serta istri Liliaana (kanan), photo okezone.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Tanggal 9 Maret ini Donald Trump genap 100 hari menjabat sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat.

Di Indonesia, paling disorot tentang Trump adalah Hary Tanoesoedibjo, pebisnis besar yang membangun Hotel Trump. Inilah wawancara eksklusif

Wartawan BBC, Karishma Vaswani, dengan Hary Tanoe tentang hubungannya dengan Trump, dan ambisi politiknya sendiri.

Bagaimana asal mula hubungan bisnis dengan Trump? “Itu hubungan bisnis yang normal. Saya memiliki dua proyek besar, satu di Bogor dan satu di Bali. Ada hotel dan golf. Kemudian kami juga membangun country club, juga villa.’

“Awalnya saat kami mencari mitra, kami pikir syarat pertama adalah mereka berpengalaman dari hotel ke golf. Tidak banyak yang seperti itu, dan Trump adalah salah satunya. Saya kemudian memutuskan memilih Trump karena cocok. Mereka membuat keputusan dengan sangat cepat, nyaris tidak ada birokrasi di perusahaan itu.”

“Staf saya kemudian berinteraksi dengan manajemen mereka dan akhirnya kami membuat perjanjian dengan mereka. Lalu saya masuk dan mulai mengenal anak-anaknya. Saya mengenal Eric Trump, Ivanka dan kemudian saya bertemu dengan Don Jr. Dan saat kami menandatangani perjanjian, ayah mereka, Donald Trump, muncul, keluar, dan kemudian kami menandatangi perjanjian bersama.”

“Pada dasarnya berhubungan dengan anak-anaknya, Eric Trump dan Don Junior. Apalagi sejak menjadi presiden Amerika Serikat, Donald Trump tak lagi terlibat dalam bisnis.”

“Tentu saja tidak ada yang mengira karena kesepakatan bisnis kami terjadi bahkan jauh sebelum dia memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi presiden.”

“Kalau ditanya kapan saya bertemu terakhir dengan Donald Trump, saya bertemu dengannya sebelum dia menjadi presiden, sebelum pelantikan.”

Tentang potensi konflik kepentingan?

“Konflik kepentingan bisa muncul andai proyek disepakati saat dia sudah menjadi presiden AS. Namun ini terjadi jauh bahkan sebelum dia mencalonkan diri. Donald Trump sendiri tidak terlibat sama sekali. Dan bahkan bagi saya, saya juga harus menjaga proyek tersebut agar dieksekusi sesuai rencana karena saya harus memastikan bahwa saya menjaga nama baik semua orang, khususnya Trump yang adalah presiden AS.”

Kesannya tentang menghadiri pelantikan Trump?

“Sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi saya karena saya belum pernah menghadiri pelantikan di luar Indonesia. Juga karena saya bukan saja menghadiri acara pengambilan sumpah namun juga pesta setelah pelantikan.”

Bagaimana bisa bekerjasama dengan perusahaan dari seorang presiden yang dianggap ‘anti-Muslim’?

“Saya pikir Trump tidak melarang Muslim masuk AS. Dia melarang warga dari tujuh (sekarang enam) negara. Saya pikir kita harus sangat jelas akan itu. Tapi tidak ada hubungannya dengan Indonesia, dan tak berdampak terhadap warga Indonesia. Juga pada apa yang terjadi di sini termasuk proyek kami di Indonesia. Hanya antara Amerika dan negara-negara tersebut. Mereka memiliki pertimbangannya sendiri tentu saja. Jadi tidak ada hubungannya dengan orang Muslim.”

Apakah Donald Trump menginspirasinya untuk jadi calon presiden Indonesia dengan membangun partai sendiri?

“Donald Trump, saya kira dia menginspirasi semua orang. Dengan pengalaman yang minim di politik, dan pengalaman yang bahkan hampir tidak pernah di birokrasi, dia dapat menjadi Presiden AS. Tapi tentang ingin menjadi calon presiden, saya tidak pernah berkata seperti itu. Pertama, saya hanya ingin membangun sebuah partai politik yang dapat membantu Indonesia menjadi negara maju. Saya prihatin dengan situasi negara saya. Karenanya saya membangun partai saya dengan uang saya sendiri. Saya tidak pernah meminta donasi, semuanya menggunakan uang saya sendiri, dalam jumlah yang sangat yang besar, tidak masalah. Inilah pengabdian saya ke negara.

“Kedua, saya berharap suatu waktu Indonesia dipimpin oleh orang dengan kemampuan memimpin yang kuat karena peliknya masalah bangsa ini. Seseorang yang memimpin dengan integritas, yang artinya dia tidak memprioritaskan dirinya atau komunitasnya. Dan ketiga, seseorang yang mampu memunculkan solusi karena negeri ini memiliki banyak masalah. Jadi jika ada orang yang seperti itu, saya pasti akan mendukung dia dengan semua yang dapat saya lakukan. Saya dapat berkampanye untuknya dan bahkan saya dapat mendukung secara finansial. Jika tidak ada yang pas sesuai kriteria saya, saya mungkin mempertimbangkan untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Saya tidak ingin berpikir sejauh itu. Namun semuanya dapat dipelajari.” (*)

Komentar

Komentar