Home INTERNASIONAL Ukraina di Ambang Perang Besar

Ukraina di Ambang Perang Besar

166
tank ukraina

KIEV, CITRAINDONESIA.COM- Konflik di Ukraina semakin menajam dan terancam menuju perang besar yang bahkan mungkin lebih dahsyat dari Perang Dunia (PD) II.

Ancaman ini diungkapkan sendiri oleh Menteri Pertahanan Ukraina, Valeriy Geletey, yang agaknya telah sangat gregetan oleh ulah Rusia yang mendukung pemberontak di timur negara itu dan menamakan diri Republik Rakyat Donetsk.

Seperti dilansir Xinhua, melalui akun Facebooknya, Senin (2/9/2014), Geletey mengatakan bahwa konflik antara negaranya dengan pemberontak pro-Rusia telah meningkat jadi “perang”.

“Perang besar datang ke hadapan kami, perang yang belum pernah terjadi di Eropa sejak Perang Dunia II,” katanya.

Geletey menegaskan, operasi militer untuk membebaskan bagian Ukraina yang menjadi basis gerakan pemberontak, telah selesai dan Kiev akan melancarkan tindakan terhadap para pemberontak dan Rusia.

Dia menuduh Moskow merupakan biang keladi peningkatan tensi konflik di Luhansk dan Donetsk, dan bahkan menuduh Rusia yang “melalui pernyataan tak resminya” telah mengancam akan menggunakan “senjata nuklir taktis” untuk menghancurkan Ukraina.

Geletey memperkirakan, jika perang besar jadi berkobar, korban jiwa akan mencapai ribuan, bahkan puluhan ribu orang.

Sebelumnya, Senin, militer Ukraina menarik pasukannya dari Bandara Luhansk setelah diserang oleh tank-tank Rusia.

Al Jazeera melaporkan, dalam sebuah pernyataan resminya, juru bicara militer Ukraina Andriy Lysenko mengaku, pihaknya terlibat baku tembak dengan satu batalion tank milik Rusia di dekat bandara, dan penarikan pasukan dari bandara atas perintah Kiev.

“Terkait Luhanks, kami menerima arahan agar pasukan Ukraina menarik diri dari bandara,” kata dia.

Koresponden Al Jazeera, Paul Brennan, mengatakan, Bandara Luhansk merupakan infrastruktur strategis di Ukraina, yang sebelumnya masih dikuasai militer Ukraina.

“Dari tempat ini peralatan militer bisa dengan mudah dipasok melalui udara,” katanya.

Terkait pernyataan Geletey, Kremlin mengatakan, sulit percaya  Kiev mengeluarkan pernyataan seperti itu, dan kembali membantah telah memasok persenjataan dan mengerahkan pasukan untuk membantu pemberontak seperti yang dituduhkan Ukraina dan sekutu-sekutunya di Barat.

Perundingan damai yang digelar beberapa pihak di Belarus, Senin, tidak menghasilkan kesepakatan apa pun, dan akan dilanjutkan Jumat (5/9/2014).

Perwakilan kelompok separatis kepada media Rusia mengaku telah melunakkan tuntutan mereka terhadap Kiev dengan hanya memperoleh status istimewa untuk wilayah mereka di timur Ukraina, bukan lagi kemerdekaan.

Data PBB menyebutkan, konflik berkepanjangan di timur Ukraina telah merenggut 2.593 jiwa. Angka itu bertambah jika 298 korban pesawat Malaysia Airlines MH17 yang ditembak jatuh pemberontak dengan rudal pada 17 Juli lalu, dimasukkan. (kris)

Pada Senin pagi, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow takkan ikut campur secara militer dalam krisis yang berkecamuk di Ukraina, dan mendesak Amerika Serikat serta Uni Eropa agar membantu menghentikan Kiev menggunakan senjata berat.

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar