Home Breaking News Tulus : Ironi Kenaikan Harga Garam

Tulus : Ironi Kenaikan Harga Garam

178
Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, (Foto: Pemi/citraindonesia)

Selain kontroversi soal beras oplosan yang kini hilang dengan sendirinya, kini masyarakat konsumen di Indonesia masih diserimpung dengan persoalan komoditas pangan lain, yakni garam.

Boleh jadi rasa garam tak lagi asin, karena harganya mencekik leher konsumen. Harga garam yang semula hanya Rp5.000 per bungkus, melonjak menjadi Rp12.000 per bungkus. Disaat kenaikan harga komoditas lain, tentu makin menambah beban pengeluaran masyarakat konsumen.

Melambungnya harga garam, menjadi ironi yang sangat besar bagi negeri ini, karena:

Garis pantai Indonesia adalah terpanjang di dunia. Seharusnya, kita adalah negeri dengan pasokan garam yang melimpah ruah. Bahkan bukan hanya untuk konsumsi lokal/nasional, tapi mampu memasok untuk kebutuhan ekspor. Tapi apalah daya, Indonesia justru menjadi negeri dengan rangking ke-35 di dunia, untuk produksi garam, yang hanya 700 ribuan ton per tahun.

Faktor penyebab rendahnya produksi garam di Indonesia bisa ditengarai oleh beberapa sebab :

1. Lahan produksi garam tdk bertambah secara signifikan, bahkan di Gresik karena pertimbangan ekonomi lahan garam dikonversi menjadi lahan industri.
2. Produksi garam nasional mengandalkan petani garam rakyat, sementara di sejumlah negara dikelola dalam skala korporasi, dan
3. Alasan cuaca/iklim selalu dijadikan pemerintah sebagai sebab gagal panen, sementara di sejumlah negara seperti di China, kendala cuaca sudah bisa diatasi dengan teknologi, sehingga masa produksi garam lebih lama.

Dengan fakta yang demikian, maka pantaslah jika 100% kebutuhan garam industri dengan kadar NaCl diatas 97% masih impor.

Melambungnya harga garam patut pula diwaspadai dan bahkan dicurigai bahwa ini hanyalah trik belaka untuk justifikasi menaikkan kuota impor garam. Apalagi terbukti Menteri Perdagangan menyatakan izin impor telah dikeluarkan.

Patut diduga mafia garam akan memanfaatkan hal ini. Bukan petani atau pedagang (kecil) garam yang diuntungkan atas kenaikan ini, tetapi importir dan pedagang besar (distributor) garam.

Kami mendorong pemerintah untuk mengatasi kenaikan dan kelangkaan garam dengan meningkatkan produksi garam nasional, berikan insentif pada petani garam. Jangan jadikan alasan kenaikan harga garam hanya untuk justifikasi terselubung untuk menaikkan kuota impor garam.

Namun demikian, bagi masyarakat, pada titik tertentu kenaikan harga garam bisa juga dijadikan momen untuk mulai mengurangi/mengendalikan konsumsi garam. Ingat, kini bersama rokok, gula dan lemak garam menjadi salah satu pemantik timbulnya berbagai penyakit degeneratif seperti stroke dan jantung koroner.

Menyediakan harga pangan yang terjangkau, termasuk garam, adalah tugas dan tanggungjawab negara.

Tulus Abadi,
Ketua Pengurus Harian YLKI

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar