Curhat Nicholas Sean, Anak Ahok Soal Orangtuanya!

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Curhat Nicholas Sean, anak sulung Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta soal masalah perceraian kedua orangtuanya!

Bahwa Ahok telah melayangkan gugatan cerai kepada istrinya Veronica Tan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara pekan lalu. Dan akan disidangkan pada ahir Januri 2018.

Wajarlah anak muda ini curhat, atau apapu. Karena keretakan rumah tangga kedua orangtua beribat buruk kepada anaknya, dan jadi korban.

Lagi pula ayahnya seorang mantan pejabat tinggi dan tokoh politisi yang dalam kasus itu mungkin membuatnya terganggu baik dalam pergaulan bersama teman- temannya terlebih di tempat dia belajar… kasihan  Nicholas Sean, juga adiknya. Sejatnya, Ahok dan Veronica Tan, berdamailah demi kebaikan bagi kedua jagoan itu!

Ungkapan anak Ahok ini seperti tertuang di video ini ;




Kesabaran Ahok Kepada Veronica Terbatas, Ini Kisahnya!

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kesabaran Ahok kepada istirnya Veronica Tan ternayata terbatas sehingga akhirnya mengalir ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Bahwa gugatan cerai Ahok kepada Veronica Tan itu akan disidangkan pada akhir Januari 2017. Ini kisah kasusnya versi video.




Bandar Sabu Asal Malaysia Mampus Ditembak

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mengungkapkan personelnya bandar sabu-sabu asal Malaysia berinisial LTW mampus ditembak mati di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta Utara pada Senin (8/1/2018) lalu.

‘Pelaku melarikan diri dan melakukan perlawanan saat pengembangan pengusutan’, kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Jakarta Kamis (11/1/2018).

Argo menjelaskan awalnya petugas menerima informasi peredaran narkoba yang dilakukan Warga Malaysia PG di Hotel Boutiqe Tomang Jakarta Barat pada 3 Januari 2018.

Petugas menangkap PG dengan barang bukti sabu-sabu 10 kilogram di kamar lantai 9 Hotel Boutiqe Tomang Jakarta Barat. Hasil pemeriksaan PG mengaku barang terlarang itu milik tersangka LTW yang ditangkap petugas di parkiran Hotel Pullman Central Park Tanjung Duren Jakarta Barat pada 3 Januari 2018.

PG dan LTW mengambil sabu-sabu dari Medan Sumatra Utara menuju Jakarta berdasarkan perintah warga asing yang berstatus buron berinisial UN pada 28 Desember 2017.

Dari Medan, PG menggunakan bis sedangkan LTW menumpang pesawat menuju Jakarta untuk bertemu di salah satu hotel.

Pada 8 Januari 2018, petugas membawa LTW untuk pengembangan jaringan sabu-sabu asal Malaysia itu di Jakarta Utara namun tersangka melarikan diri dan melawan sehingga dilakukan tindakan tegas dan terukur.

Dari tangan kedua tersangka, petugas menyita sabu-sabu siap edar sebanyak 10 kilogram, paspor atas nama PG dan LTW, serta dua unit telepon selular. (ntmc/ling)

 




Alasan Kapolres Jakbar Kelilingi Kantornya

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kapolres Jakarta Barat, Hengki Haryadi mengelilingi kantor Polres Jakbar memeriksa kinerja anak buahnya serta kelayakan setiap ruangan di sana.

Ia pun tertegun dengan sebuah ruangan bernama Aula Aris Dinata. Sepintas, tidak ada yang istimewa dari ruangan di lantai dua gedung Polres Jakbar itu.

Tapi, nama ruangan itu diambil dari nama Aipda Anumerta Aris Dinata, anggota Satuan Narkoba Polres Jakarta Barat, yang gugur saat hendak menangkap bandar narkoba di Jalan Bugis No 85, Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Senin 18 Januari 2016. Ayah dari dua anak ini tewas akibat dihujani peluru oleh pelaku.

Kala itu, Aris beserta timnya yang dipimpin Iptu Supriyatin hendak menangkap bandar narkoba yang bernama Ical. Penangkapan itu dilakukan atas pengembangan kasus peredaran sabu di Apartemen Gading River View, Kelapa Gading, Jakut.

Saat hendak masuk ke rumah mencari bandar tersebut, pelaku langsung menghujani petugas dengan tembakan. Akibatnya, Aris terkapar terkena peluru di dada kanan. Tak hanya Bripka Aris, peluru pelaku juga mengenai tangan kanan Iptu Supriyatin.

Keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun Aris tidak tertolong karena lukanya terlalu parah.

Hengki mengakui bahwa bandar narkoba adalah musuh yang sangat berbahaya. Berbahaya bukan hanya bisa menyebabkan kerusakan bagi rakyat di negeri ini, tapi juga terhadap petugas yang hendak menangkapnya.

‘Belum lama ini juga ada anggota kami yang terluka cukup parah dipukul kepalanya dengan balok oleh bandar narkoba yang akan ditangkap. Bandar itu juga sempat melawan dengan pisau saat hendak ditangkap yang kedua kali. Tapi dia bisa dilumpuhkan anggota’, kata dia.

Hengki pun mengakui bahwa ia tertegun melihat aula itu karena teringat kinerja Aris yang dilakukan di luar batas kemampuannya. ‘Aula ini dinamai dengan nama almarhum sebagai simbol bahwa Polres Jakbar tidak pernah lupa dengan kinerja anggota yang sangat luar biasa, terlebih yang mengorbankan nyawa’, kata dia.

Hengki pun menyatakan berkomitmen memberikan apresiasi tinggi terhadap anggotanya yang bertugas dengan sungguh-sungguh, terutama dalam memberantas narkoba. ‘Kemarin juga kami mengakukan kenaikan pangkat luar biasa bagi anggota yang berhasil mengungkap peredaran 1,3 ton ganja’, lanjutnya.

Hal ini, kata kapolres yang pernah memberantas preman di Jakbar itu, dilakukan untuk memotivasi anggota berperang melawan kejahatan di Jakbar. ‘Target saya saat ini membersihkan kampung narkoba di Jakbar hingga ke akar-akarnya’, tutupnya. (ling)




Pengacara dan Dokter Setya Novanto Ditersangkakan KPK

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi dan dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, resmi ditetapkan tersangka oleh KPK hari ini, Rabu (10/1/2018) karena keduanya dinilai menghalangi para penyidikan KPK mengusut kasus mega korupsi eKTP merugikan negara Rp2,3 triliun.

‘Meningkatkan status FY dan BST dari penyelidikan ke penyidikan. FY ini advokat dan BST seorang dokter’, ungkap Pimpinan KPK Basaria Panjaitan dalam konfresni pers di Gedung KPK,  Jakarta Selatan, Rabu (10/1/2018).

Sebelumnya, penyidik KPK datang ke rumah sakit itu ketika mobil Setya Novanto kecelakaan dan dirawat di situ. Dokter yang menangani Novanto adalah Bimanesh Sutarjo.

Sementara FY kala itu bersikeras melarang tim penyidik KPK sekitar 10 orang untuk melihat mantan Ketua DPR RI itu, karena menurutnya sedang dirawat, akibatnya penyidik harus pualng dengan tangan kosong.

Sebelumnya juga sempat pupuhan penyidik KPK datangi rumah Novanto di kawasan Jakarta Selatan, tetapi yang bersangkutan tidak ada dan lantas menghilang sehingga KPK meminta Polri mengeluarkan surat DPO.

Berselang beberapa hari kemudian Novanto kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit tersebut. Namun setelah Novanto dirujuk ke RSCM, beberapa hari kemudian dengan bekerja sama dengan IDI, KPK berhasil membawa mantan Ketua Partai Golkar itu. KPK tengah berliku mengusut Novanto ini.(adams)




Kedua Anak Setya Novanto, Rheza Herwindo dan Dwina Michaella Bungkam

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- ‘Akankah’ Rheza Herwindo dan Dwina Michaella, anak lelaki dan anak perempuan terdakwa koruptor eKTP ‘sepaket’ dengan Fredrich Yunadi, mantan pengacara Setya Novanto, susul ayahnya ke bilik jeruji besi penjara KPK? ‘Allohu waklam’.

Yang jelas dalam beberapa kali menghadiri pemanggilan pemeriksaan di KPK, kedua anak mantan Ketua DPR RI itu, tak pernah memberikan sepatah kata alias bungkam setiap kali diminta komentar para awak media, seperti pada hari ini, Rabu (10/1/2018) yang kesekian kalinya. Mereka selalu bungkam. Pun ibunya Deisti Astiani Tagor.

Kedatangan kedua anak Novanto itu di gedung anti rasuah itu menjalani pemeriksaan selama sekitar 3 jam. Merka adalah saksi tersangka Anang Sugiana Sudihardjo, Direktur Utama PT Quadra Solution, konsorsium proyek KTP elektronik diduga merugikan Rp2,3 triliun dan mengakibatkan rakyat sekarang banyak tak punya eKTP.

Sebelumnya, Rheza dan Dwina diperiksa atas tersangka Anang Sugiana Sudihardjo pada 22 Desember 2017 dan Dwina pada 21 Desember 2017.

KPK memeriksa kakak adik ini mengenai saham PT Mondialindo Graha Perdana, pemegang saham mayoritas PT Murakabi Sejahtera, pelaksana proyek eKTP. Namun sejauh ini belum diketahui apakah KPK sudah temukan bukti keterlibatan mereka berdua di mega skandal itu. (adams)




KPK Tentukan Status Fredrich Yunadi Hari Ini

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- KPK tampaknya bakan memberikan baju oranye kepada Fredrich Yunadi, mantan pengacara Setya Novanto, dengan  tersangka karena dinilai menghalangi proses penyelidikan.

‘Informasinya sudah penyidikan, akan diumumkan sore ini (tersangka)’, ujar Jubir KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Fredrich selama ini tampak getol mendampingi mantan Ketua DPR RI yang tersangka korupsi berjamaah eKTP itu mengaku belum tahu status barunya ini.

‘Belum tahu, tetapi masalah cekal betul’, kata Fredrich seperti dilansir dari Antara. Fredrich dicekal ke luar negeri selama 6 bulan bersama tiga orang lainnya yakni Reza Pahlevi, M. Hilman Mattauch dan Achmad Rudyansyah.

‘KPK mengirimkan surat kepada imigrasi Kementerian Hukum dan HAM tentang pencegahan terhadap empat orang, yaitu Fredrich Yunadi, Reza Pahlevi, M. Hilman Mattauch dan Achmad Rudyansyah’, kata Febri, kemarin.

Pencegahan itu efektif sejak 8 Desember 2017. “Tujuannya karena keempat orang tersebut dibutuhkan keterangannya dan saat dipanggil sedang berada di Indonesia dengan dasar hukum: Pasal 12 ayat (1) huruf b UU KPK,” jelas Febri. (adams)




Kosim Pemilik Sabu 100 Gram Ditangkap

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- SA alias Kosim, pengedar sabu dibekuk aparat Polsek Metro Tamansari, saat menumpang ojek ke rumahnya di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa, (9/1/2018) subuh.

‘100 gram sabu diamankan petugas dari tangan pelaku’, ujar Kapolsek Metro Tamansari, AKBP Erick Frendiz.

‘Pelaku ditangkap setelah anggotanya melakukan pengintaian dan membuntuti saat akan menyerahkan sabu ke pelanggannya. Petugas menggeledah dan ditemukan 100 gram sabu di saku celana’, ujarnya.

SA mengatakan barang haram diperoleh dari bandar di kawasan Kiapang, Palmerah, Jakarta Barat, atau dikenal sebagai Kampung Boncos.

‘Setelah memeriksa SA anggota langsung menuju Jalan Kiapang lalu menangkap dua penyuplai sabu kepada SA’, kata Erick.

SA juga mengaku telah beberapa kali mengambil sabu dari seorang bandar di Boncos. ‘Pengakuan sudah lima kali dan per gram dia jual Rp1,3 juta’, tutur Erick.

Polisi masih pengembangan kasus ini. Beberapa orang sudah dimintai keterangan untuk mendapatkan bandar utama yang memasok sabu kepada SA alias Kosim. (ntmc/adams)

 




Fredrich Yunadi Eks Pengacara Setya Novanto dan 3 Orang Dicekal

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Fredrich Yunadi, eks pengacara Setya Novanto, dan mantan jurnalis Metro TV, Hilman Mattauch dicekal keluar negeri selama 6 bulan untuk kepentingan penyelidikan KPK.

Dicegah empat orang yaitu Fredrich Yunadi, Reza Pahlevi, M. Hilman Mattauch dan Achmad Rudyansyah’, ujar Jurbis KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Pencegahan menurut Febri, kepentingan penyelidikan dugaan tindak pidana mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan terhadap tersangka SN.

KPK mengirimkan surat pencekalan kepada Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM. Jadi terhitung 8 Desember 2017, keempat orang itu dilarang pergi ke luar negeri. (ling)




Bentuk Satgas Politik Uang, Kapolri : OTT!

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Satgas Politik Uang (SPU) diharapkan bisa meng- OTT para oknum curang suap pemenangan kandidat tertentu dalam Pilkada serentak tahun 2018.

(Satgas Politik Uang) lebih pada operasi tangkap tangan (OTT)’, ujar Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Para pasukan SPU menurut Kapolri mengawasi para paslon dan timses paslon sehingga mereka tidak berbuat curang terhadap siapapun termasuk kepada penyelenggara pemilu yakni KPU atau KPUD.

‘Jika ada yang bayar ke KPU, Bawaslu atau Kepala Daerah masih menjabat sawer-sawer uang, pasti diselidiki’, jelas mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Sementara itu, para anggota PSU terdiri dari unsur penyidik dari jajaran Polda di mana Pilkada dilaksanakan.

PSU tengah dibentuk Kabareskrim Polri Irjen Pol Ari Dono. ‘Kabareskrim sedang mengupayakan pekan ini untuk membentuk satgas’, pungkasnya.

Mengenai teknis penindakannya, Kapolri menyatakan akan bertemu Pimpinan KPK. Sebelumnya Kapolri bilang, mereka yang tertangkap suap Pilkada ini langsung diserahkan langsung kepada KPK untuk diproses secara hukum. (adams)