Ini 10 Jenis Batik Terpopuler di Indonesia

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Tidak dapat dipungkiri batik kini adalah salah satu hal yang menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Walau tidak berbaju batik atau hanya memiliki 1 lembar batik yang diragukan asal muasalnya, apakah buatan Indonesia atau buatan Tiongkok, orang Indonesia sangat bangga jika mendengar batik disebut-sebut apalagi oleh bangsa lain. Dan cukup gerah jika mendengar negara tetangga menyebut-nyebut batik sebagai kebanggaan mereka pula.

Pada tanggal 2 Oktober 2009, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan batik Indonesia pada keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan dan budaya yang terkait, sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi. Inilah yang membuat batik Indonesia tidak bisa diklaim oleh bangsa lainnya.

Pada awalnya teknik pewarnaan menggunakan malam sudah dikenal sejak abad ke-4 SM dan menyebar mulai dari benua Afrika hingga Asia. Tapi alat membatik yang bernama canting hanya dimiliki oleh Indonesia yang diperkirakan ditemukan pada abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur.

Keberadaan batik sendiri mulai mengalami masa keemasannya pada awal abad ke-19 dan sempat memukau para pengunjung dan seniman di pameran Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900.

Hingga kini batik semakin beragam corak dan asal daerah pembuatannya. Jika pada awalnya batik hanya berasal dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya, kini batik Indonesia sudah merambah hingga Aceh, Kalimantan, dan Papua. Selain diproduksi secara tradisional di daerah-daerah tertentu, batik pun kini sudah merambah dunia industri.

Berikut adalah merek batik yang cukup populer di Indonesia beserta profil dan sejarah singkatnya:

1. Danar Hadi

Tahun 1967 merupakan awal dari perusahaan ini berdiri. Didirikan oleh pasangan suami istri H. Santoesa Dullah dan Hj. Danarsih Santosa, nama Danar Hadi merupakan gabungan dari penggalan nama ibu Hj. Danarsih dan sang ayah yang bernama H. Hadipriyono. Sementara itu kakek buyut H. Santoesa Dullah adalah alm. H. Bakri yang merupakan salah satu tokoh Serikat Dagang Islam yang aktif di jaman pergerakan kemerdekaan nasional.

Sejak tahun 1975 Batik Danar Hadi melebarkan sayapnya ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Tidak hanya pabrik tenun, pemintalan, dan jaringan distribusi yang melebar, Batik Danar Hadi pun merambah furnitur, museum batik dan tempat pernikahan, serta restoran. Danar Hadi yang awalnya usaha wiraswasta di Solo kini telah menjadi aset nasional yang melayani kalangan menengah ke atas.

2. Batik Keris

Usaha yang awalnya merupakan batik rumahan ini, kini telah berkembang menjadi perusahaan terbatas dengan pabrik garmen yang besar dan toko-toko yang tersebar di Nusantara. Bertujuan untuk melestarikan budaya Indonesia melalui pakaian (batik, ikat, lurik, dsb.) dan kerajinan, perusahaan ini ingin menjadi pusat kerajinan nusantara. Batik Keris dimulai pada tahun 1947, ketika pasangan suami istri alm. Kasom Tjokrosaputro dan Ibu Gaitini mulai berjualan batik dan belajar membuat batik dari orang tua sang suami. Kemudian mereka membuka toko batik bernama “Keris” di Jln. Kom. Yos Sudarso di Solo. Usaha mereka pun terus berkembang, mereka lalu mendirikan pabrik tepat di belakang toko. Pada tahun 1970 mereka mendirikan pabrik printing dan lalu menjual produknya di pusat perbelanjaan yang sangat terkenal saat itu, Sarinah, di tahun 1972. Perusahaan batik Keris terus berkembang hingga saat ini melayani pelanggan menengah ke atas.

3. Batik Semar

Batik Senar didirikan pada tahun 1947 di Solo oleh alm. Somadi Kasigit dengan nama Batik Bodronoyo. Bodronoyo sendiri merupakan nama lain dari Semar, tokoh panutan dalam pewayangan. Setahun kemudian Somadi menikahi Elia dan mereka pun kompak menjalankan usaha keluarga tersebut. Batik Semar pada awalnya memproduksi batik tulis saja. Tapi karena penjualan batik tulis terbatas hanya pada kalangan menengah ke atas karena harganya yang tinggi, Batik Semar memproduksi juga batik cap dan batik kombinasi sehingga batik dapat dibeli oleh kalangan menengah ke bawah. Sejalan dengan perkembangan jaman, pada tahun 1972 muncul teknik pembatikan baru yaitu printing atau sablon. Untuk menjawab tantangan jaman, Batik Semar pun memperbanyak mode, corak, dan warna.

4. Irwan Tirta

Alm. Irwan Tirta adalah seorang perancang busana yang sangat dikenal melalui rancangan-rancangannya yang menggunakan unsur batik. Setamat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Irwan melanjutkan pendidikan S2 nya di Yale University, Amerika Serikat dan London School of Economics. Ketertarikannya pada batik dimulai ketika Irwan menerima dana hibah dari John D. Rockefeller untuk mempelajari tarian keraton Kasunanan Surakarta. Sejak saat itulah Irwan mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan karya-karya batik yang tinggi hingga batik rancangannya dipakai oleh para pemimpin dunia pada kesempatan pertemuan APEC di Indonesia pada tahun 1994. Pada tahun 2003 PT Irwan Tirta didirikan dengan ITPC (Irwan Tirta Private Collection) yang menjadi merek dagangnya. Rancangan Irwan kebanyakan adalah busana eksklusif yang berharga lebih dari 5 juta rupiah per potong.

5. Parang Kencana

Parang Kencana didirikan pada tahun 1992 oleh Mariana Sutandi. Setamat kuliah hukum di Universitas Parahyangan, Mariana bergabung di perusahaan milik suaminya di bidang logam. Karena gairahnya tinggi di bidang bisnis batik, dirinya lantas memimpin perusahaan batik ternama dari tahun 1972 hingga 1993. Merasa sudah kenyang banyak memakan asam garam di dunia bisnis batik, Mariana pun lalu membuka Parang Kencana dengan modal tabungan dan membuka gerai di garasi rumahnya sendiri di kawasan Simpruk, Jakarta Selatan. Bermodal kenalan yang luas karena sosialisasinya yang tinggi di organisasi semenjak jaman SMP, Mariana pun akhirnya berhasil memasukan Parang Kencana ke mal yang cukup prestisius di jaman itu yaitu Pasaraya, dan membuka butik di Terminal D Bandara Sukarno-Hatta. Hasratnya di dunia bisnis dan cintanya pada batik ternyata telah membawa Parang Kencana berkembang cukup pesat. Parang Kencana telah membuka 30 gerai, mempekerjakan 400 perajin batik yang tersebar di Pekalongan, Cirebon, dan Jakarta, 7 desainer busana, 5 desainer batik, dan 70 karyawan.

6. Wirokuto Batik

Wirokuto Batik didirikan oleh M. Romi Oktabirawa, generasi keempat dari perajin batik di sebuah kota pesisir di Jawa Tengah yang merupakan lulusan ilmu syari’ah di Universitas Al-Azhar Mesir. Bermodal 6 juta rupiah, tahun 1996 Romi mendirikan merek batik Haji Putera yang membuat kemeja sutra berukuran besar untuk kalangan menengah ke atas. Seiring berjalannya waktu, mereknya pun banyak dikenal orang. Pertemuannya dengan salah satu desainer terkenal, yaitu Prayudi, membawanya ke babak baru yaitu buruh makloon. Merasa terkungkung walau modal dan marketing terselamatkan, akhirnya Romi mendirikan Wirokuto Batik yang mempunyai arti batik karya orang kota, disinilah dia mendesain batiknya sendiri. Rajin mengikuti pameran adalah salah satu kunci merek ini dikenal orang dan masuk ke kalangan menengah ke atas.

7. Alleira Batik

Didirikan tahun 2005 dengan nama Allure yang berasal dari bahasa Inggris yaitu “alluring” yang berarti menarik atau memikat hati, merek ini kemudian berubah menjadi Alleira untuk kepentingan memasuki pasar internasional. Lisa Kurniawaty Mihardja merupakan pendiri merek ini. Bersama dengan Anita Asmaya Vanin, seorang desainer, dan rekan bisnis lainnya, garasi rumahnya menjadi workshop jahit. Berawal dari sembunyi-sembunyi dari suaminya, wanita rumahan ini pun akhirnya menjadi pebisnis batik dengan pelanggan dari kalangan menengah ke atas. Lisa menjalin kerja sama dengan Annisa Pohan, seorang figur terkenal, untuk memasarkan merek ini. Alleira kini telah memiliki delapan butik di mal-mal terkenal di Jakarta, Medan, Makasar, Singapura, dan Kuala Lumpur.

8. Kencana Ungu

Kencana Ungu merupakan toko batik yang berpusat di Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang didirikan oleh Hartono Sumarsono, pengusaha dan kolektor batik pertama di Indonesia. Tidak hanya toko batik, Hartono pun memproduksi tekstil dan pakaian dengan label Kencana Ungu. Belakangan, di tahun 2010, Hartono juga menghasilkan kain yang diberi nama Batik Citra Lawas. Hartono Sumarsono sudah mengenal batik ketika dia duduk di bangku SMA, ketika dia mulai membantu pamannya berjualan batik di Tanah Abang. Hartono pun belakangan telah menerbitkan beberapa judul buku tentang sejarah batik di Indonesia. Harga Kencana Ungu bervariasi, mulai dari 45 ribu ke atas. Banyak orang memilih Kencana Ungu karena harganya yang murah, bahannya yang adem terutama baju tidur dan dasternya.

9. Bateeq

Bateeq merupakan merek di bawah bendera PT Efrata Retailindo dengan Michelle Tjokrosaputro sebagai President Director-nya. Michelle bercita-cita ingin membuat Bateeq sebesar Zara. Produk batik yang ditawarkan berupa kemeja, busana wanita, baju muslim, hingga t-shirt dengan berbagai bahan seperti sutera, katun, ATMB, dan cap yang juga dipadukan dengan bahan lain seperti jeans, kaos, stretch, dan sifon. Michelle merupakan putri dari Handiman Tjokrosaputro pemilik PT Dan Liris, dan cucu dari Kasom Tjokrosaputro pemilik PT Batik Keris yang terkenal. Setelah ayahnya wafat, Michelle mau tidak mau harus mengurus dan membangkitkan PT Dan Liris yang saat itu tengah kolaps menuju bangkrut. Bulatnya tekad dan bakti kepada ayah, membuat Michelle mampu membawa PT Dan Liris dari kebangkrutan. Kini Bateeq telah mempunyai 25 jaringan toko dan siap merentangkan sayapnya lebih lebar lagi.

10. Galeri Batik Jawa

Galeri Batik Jawa telah membuka gerai di lima kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bekasi, Semarang, dan Bandung. Mayasari Sekarlaranti atau yang akrab dipanggil Nita, yang telah mendirikan usaha batik dengan pewarna alami ini. Batik ini sering disebut juga batik indigo karena memakai pewarna dari tumbuhan bernama Indigofera tinctoria atau yang lazim disebut nila. Indigo menimbulkan warna biru, sedangkan untuk warna lain Nita menggunakan bahan alami lain seperti kulit batang mahoni untuk mendapat warna coklat. Galeri batik sendiri telah dikelolanya sejak tahun 2005. Sehelai kain batik tulis indigo dijual seharga 350 ribu rupiah hingga 1,5 juta rupiah. Harga yang sama juga diberlakukan untuk baju yang sudah jadi.

Itulah sekilas profil dan sejarah dari 10 merek batik populer di Indonesia. Semoga kisah mereka dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Jangan pernah takut beda dan jangan pernah menyerah, selalu bangkit dan tetap berusaha akan apa yang telah menjadi mimpi dan hasrat kita, apalagi jika mimpi tersebut untuk memajukan dan melestarikan budaya serta tradisi kita sendiri.




2017, Industri Baja Asean Diprediksi Melaju

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Sekretaris Jenderal South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) Tan Ah Yong menjelaskan bahwa Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam menunjukkan komitmen akan pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong pertumbuhan sektor baja.

“Permintaan baja di negara berkembang diperkirakan tumbuh rata-rata 1,8% pada 2016 dan 4,8% pada 2017. Tapi untuk lima negara Asean ini, World Steel Association berharap bisa menjaga pertumbuhan di sekitar 6%,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diunggah pada laman seaisi.org, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan bahwa World Steel memprediksikan pasar baja global akan turun 0,8% pada 2016, namun akan tumbuh 0,4% pada 2017. “Terlepas dari situasi ekonomi global yang sulit, negaranegara di Asean tetap menunjukkan pertumbuhan,” tambahnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan bahwa pelaku industri dalam negeri sudah mulai merasakan adanya perbaikan situasi dan permintaan.

“Sudah ada pergerakan, harga sudah menuju normal. Kalau indikasi dari raw material, yang tahun lalu harga US$260 sekarang sudah US$420. Utilitas masih belum kelihatan bagaimana kondisinya, mungkin sekitar 2-3 bulan lagi baru terlihat. Tapi terasa kalau pa sar membaik,” ujar Hidayat.

Harga acuan baja jenis billet di Tangshan, pusat produksi baja China, mencapai US$401 per ton pada akhir pekan dibandingkan dengan harga US$240 per ton pada akhir 2015.

Adapun harga baja rebar (reinforcement bar), yang digunakan sebagai struktur bangunan, memuncak di 2.891 yuan atau Rp5,94 juta per ton pada awal April di Shanghai Futures Ex change.

Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak September 2014 atau 20 bulan terakhir. Pada 2016, harga rebar sempat jatuh hingga 1.752 yuan atau Rp3,6 juta per ton pada Januari.

Hidayat tidak khawatir kenaikan harga tersebut membuat permintaan baja dari industri manufaktur dan kontraktor merosot.

Dia juga menjelaskan untuk menggenjot utilisasi pabrik dapat di lakukan melalui keberpihakan pemerintah dalam menjalankan proyek dengan menyerap produksi dari industri dalam negeri dapat terserap. Selain itu, efektivitas Program Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) diharapkan juga dapat mengurangi porsi penggunaan produk impor.

“Kalau Asean turun ya terserah. Tapi kalau untuk Indonesia kami masih optimistis. Pangsa kita justru dilirik sama negara Asean lain. Jadi kalau memang impor turun, itu bagus. Artinya utilitas kita lebih banyak,” jelas Hidayat.

Data dari SEAISI menunjukkan bahwa impor baja jadi dari negara Asean lainnya turun dari 1 juta ton pada 2014 menjadi 964.000 ton pada 2015. Penurunan impor juga terjadi pada negara Asean lainnya, seperti Malaysia yang umumnya mengimpor baja dari Indonesia mengurangi impor mereka dari hampir 100.000 ton pada 2014 menjadi 17.000 ton pada 2015.

Hal ini tentunya turut berdampak pada ekspor baja Indonesia. Ario Setiantoro, Ketua Klaster Paku dan Kawat Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), mengatakan bahwa kondisi ekspor memang masih sulit.

Untuk itu, dia berharap pemerintah dapat menjalankan segera proyek infrastruktur dengan P3DN serta ada upaya untuk meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

“Cuma ini yang bisa memicu pertumbuhan dan perkembangan industri besi baja nasional. Ekspor masih sulit sekali. Jadi daripada pangsa kita dinikmati negara lain,
kita harus pastikan penggunaan produk dalam negeri,” tutur Hidayat.

Dia menjelaskan bahwa pelaku industri sudah mulai merasakan adanya perbaikan permintaan pada kuartal I/2016 ini dibanding periode yang sama tahun lalu. “Tapi masih belum signifikan, masih di bawah 20% (dibanding kuartal I/2015). Kami lihat masih banyak juga produk asing,” tambah Hidayat

Kendati memperkirakan bahwa perbaikan industri baja dapat dirasakan tahun ini, Ario menyatakan bahwa pemerintah perlu memberlakukan SNI secara wajib bagi seluruh produk baja yang pasti digunakan dalam proyek infrastruktur.

“Ini harus diwajibkan. Karena masih ada pelaku industri yang ragu-ragu, belum mau mensertifikasi produknya. Padahal pelaku industri juga harus sadar, kalau
mau produknya dipakai dalam proyek infrastruktur dalam negeri, ya harus perbaiki kualitas dan siap sertifikasi,” ujar Hidayat. (*)




Ekonomi Melambat ke Depan, Impor Bahan Baku Ciut!

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kinerja industri nasional diperkirakan akan melambat ke depan, sejalan dengan menciutnya nilai impor bahan baku industri versi BPS.

“Nampaknya kinerja ekspor ke depan menurun, karena impornya khusus bahan baku kan merosot dalam data BPS,” ujar Hartono Adhipradono, pelaku usaha kepada awak media di Jakarta, Senin (16/1/2017).

Seperti diketahui, Indonesia ini memang memiliki ketergantungan bahan baku untuk berproduksi. Katakanlah, industri manufaktur otomotif, besi baja, obat- obatan bahkan sekotor pangan, di mana rau sugar misalnya masih terus diimpor.

“Kita itu hampir semua jenis barang ekspor kan bahan bakunya masih diimpor. Mulai dari industri manufaktur hingga produk makanan dan minuman. Yang tidak kita impor ya cuma Rotan barang kali,” tambahnya.

Dia juga menyoroti melambatnya perekonomian global akhir- akhir ini. Mengkhawatirkan kalangan dunia usaha.

“Pasar global juga melambat. Tapi nggak tahu nanti setelah Donald Trump dilantik 20 Januari. Tapi nampaknya dunia rada pesimistis juga,” imbuhnya.

Dia berharap pemerintah bisa menstimulasi pasar dalam negeri dengan memberantas peredaran barang impor illegal atau yang tidak sesuai SNI demi pasar produk dalam negeri.

“Pasar dalam negeri ini harus distimulasi dengan baik. Barang impor illegal dibersihkan dari pasar. Kan mendistorsi pasar produk kita,” pintanya.

Seperti diketahui, BPS merilis data bahwa nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Desember 2016 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, masing-masing sebesar 5,73% dan 9,64%.

Sebaliknya, impor golongan barang konsumsi meningkat 13,54%.

“Naiknya impor barang konsumsi ini artinya karena banyaknya indsutri yang mulai berdagang. Mungkin mereka sulit impor bahan baku… ya mungkin bea masuknya tinggi, termasuk BMAD-nya,” tandasnya. (friz)

 




Ini Sebab Entrepreneur Bandung Pilih BRI Syariah

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Banyak sudah pelaku usaha kecil yang memamfaatkan fasilitas Bank BRI Syariah untuk modalnya.

“Karena memang membantu. Kami pakai BRIsyariah,” ujar Achmad Hamami, seorang entrepreneur muda kepada citraindonesia.com, di Bandung, Senin (16/1/2017).

Banyak untung diraih kata dia, misalnya permohonan tak terlalu berbelit. Kemudian tak berbunga atau riba.

“Kan gak pakai bunga. Sangat membantu orang seperti kita yang pemula,” tambahnya.

Pria ini memulai usaha butiknya sejak tahun 2014. Berawal dari iseng dengan istrinya Siti Aliyah (29).

“Kini kita berani rekrut pegawai walau pegawai itu masih keluarga. Tapi lumayan sudah ada kemajuan. Tks BRISyariah,” imbuhnya seraya menyebut omsetnya sekarang hampir Rp500,000 per hari.

Ditanya apakah akan meminjam modal kepada bank- bank kompensional, ayah dua anak ini mengaku: “Tidak. Saya cocok dengan BRIsyariah,” imbuhnya.

Siti Aliyah menambahkan bahwa pihaknya lebih suka jual barang- barang anak- anak Bandung.

“Kan program pemerintah kita harus perkuat P3DN, ya tentunya barang- barang lokal supaya sama- sama maju. Pada akhirnya PAD Kota Bandung meningkat dan pembangunan makin bagus, harapannya begitu,” . (dadang)

 




Baik Peluang Ekspor Pakaian Batik Tahun 2017

PEKALONGAN, CITRAINDONESIA.COM- Bagaiman tren ekspor pakaian Batik yang sudah berlabel dunia tahun 2017?

“Kalau peluang ekspor Batik saya rasa tahun 2017 ini masih baik. Karena produksinya lancar dan market potensial ke seluruh dunia,” ujar Ade Sumarto, seorang pedagang produk diakui UNESCO ini kepada citraindonesia.com, saat kopi darat di salah satu cafe di Pekalongan (jateng), Kamis (12/1/2017).

Pasar potensial Batik kata dia, selain Asean seperti Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Filipina, China dan Jepang serta Asia tengah dan timur.

“Produk kekayaan budaya asal Indonesia ini juga sudah menjadi salah tren kekinian di pasar Eropa dan Amerika, bahkan. Alhamdulillah. Pada Trade Expo tahun 2016 kemarin kami dapat order ke Eropa dan Amerika,” ujarnya sumringah.

Berapa besar nilai kontraknya? “hhhh wartawan mau tahu semua. Ya itu dia. Pokoknya lumayanlah bisa bayar karyawan dan pajak,” kata dia lirih.

Pebesnis memang selalu begitu. Mereka jarang mau secara tegas membuka isi dapurnya. Entah apa sebabnya!

Seperti diketahui memang tren pasar Batik ini semakin ke sini kian baik. Karena itu tadi, pasarnya sudah hampir ke seluruh dunia. Bahkan almarhum Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, adalah salah seorang penggemar batik. Dia kerap memakai Batik kesaayangannya pada upacara kenegaraan semasa hidupnya.

Biar tahu saja, nilai ekspor batik Indonesia sepanjang tahun 2015 lalu telah menembus angka 3,1 miliar dollar AS atau mencapai hampir Rp41 triliun, naik 6,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Adapun pasar ekspor utama batik Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, Eropa dan terus meluas. (friz)




Industri Keramik Tumbuh 15 Persen

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Industri keramik nasional menunjukkan kinerja positif. Penjualan tumbuh 10-15 persen, volume 385-402 juta m2 pada tahun 2016. Di awal tahun 2017, sektor ini menambah kapasitas dengan beroperasinya pabrik baru di Jawa Timur.

“Kami memberikan apresiasi kepada PT. Arwana Citramulia Tbk. yang melakukan kontribusi terhadap industri keramik nasional dengan pembangunan pabrik barunya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Pabrik Ke-5 PT. Arwana Citramulia Tbk. di Mojokerto, Jawa Timur, Senin (9/1/2017).

Kementerian Perindustrian mencatat, kapasitas produksi terpasang ubin keramik nasional sebesar 580 juta m2 dengan realisasi produksi ubin keramik mencapai 350 juta m2 pada tahun 2016. Sebanyak 87 persen produksi keramik nasional di pasarkan di dalam negeri, serta sisanya di ekspor ke negara-negara di kawasan Asia, Eropa dan Amerika. “Produksi keramik nasional, antara lain ubin, tableware, sanitari, genteng (rooftile),” sebut Airlangga.

Industri keramik di Indonesia merupakan salah satu kelompok sektor yang diandalkan sebagai penggerak kinerja industri nasional selama 25 tahun terakhir. Selain itu juga menjadi salah satu industri unggulan karena dukungan ketersediaan bahan baku berupa sumber daya alam yang tersebar di wilayah Indonesia.

“Industri keramik nasional dalam jangka panjang cukup prospektif seiring dengan pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus meningkat,” ujar Airlangga. Dengan program pemerintah dalam meningkatkan pembangunan properti dan perumahan, diharapkan pula meningkatkan konsumsi keramik nasional.

“Kemenperin juga menargetkan tahun ini agar industri keramik dan kaca mendapatkan harga gas di bawah USD 6 sesuai Perpres. Apalagi Arwana yang masuk 10 besar di dunia, diharapkan menjadi industri manufaktur yang menopang perekonomian Indonesia,” paparnya.

CEO PT. Arwana Citramulia Tbk. Tandean Rustandy mengatakan, perusahaan telah mengembangkan usahanya di daerah Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan serta melakukan perluasan kapasitas produksi terpasang dengan pembangunan pabrik kelima di Mojokerto, Jawa Timur sehingga total kapasitas produksi terpasang sebelumnya 49,37 juta m2 per tahun menjadi 60 juta m2 per tahun.

Pembangunan pabrik kelima dengan kapasitas produksi 8 juta m2 per tahun, yang telah selesai dibangun dan berproduksi sejak Agustus 2016 ini menelan nilai investasi sebesar Rp. 300 miliar dan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 350 orang.”Pabrik ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan ubin keramik dan membuka lapangan kerja khususnya wilayah Jawa Timur, Bali, dan Indonesia bagian Timur,” ujar Tandean. (ling)




Produsen Keramik PT. Arwana Citramulia Bangun Dapur IKM

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Perindustrian dan PT. Arwana Citramulia Tbk, produsen Kramik. berkomitmen membangun dapur bersih industri kecil dan menengah (IKM) pangan di daerah. Meningkatkan mutu produk makanan dan minuman yang dihasikan oleh IKM dalam negeri melalui perbaikan sanitasi dan higienitas di dapur sebagai ruang produksi.

“Berdasarkan data BPS tahun 2012, populasi IKM pangan memiliki jumlah paling banyak dibandingkan IKM sektor lainnya, yakni mencapai lebih dari 1 juta unit atau 30 persen dari jumlah IKM keseluruhan di Indonesia dengan menyerap jumlah tenaga kerja sebanyak 3,17 juta orang,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Mojokerto, Jawa Timur, Senin (9/1/2017).

Menperin menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (Mou) antara Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih dengan Direktur Operasional PT. Arwana Citramulia Tbk. Edy Suyanto tentang Pembuatan Dapur Bersih Industri Kecil dan Menengah Pangan di Daerah.

Kemenperin dan PT. Arwana Citramulia Tbk. telah memfasilitasi pemberian keramik pembuatan dapur bersih IKM pangan di beberapa daerah, di antaranya Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Rote Ndao, dan Rejang Lebong selama periode 2013-2016.

Total luas keramik yang telah difasilitasi mencapai 18.700 m2, dengan rincian 12.000 m2 disalurkan ke Kab. Banyumas, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen di Provinsi Jawa Tengah, 4.500 m2 disalurkan ke Kab. Rote Ndao di Provinsi NTT, dan 2.200 m2 disalurkan ke Kab. Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Diharapkan, melalui kerja sama ini dapat terus meningkatkan daya saing IKM nasional agar mampu menguasai pasar domestik dan ekspor. (*)




Katanya Batik Berperan Penting, Namun Data Tahun 2017 Ta Ada!

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Industri Batik terbukti diklaim mampu berperan untuk memenuhi kebutuhan sandang dalam negeri. Sayangnya, data per tahun 2017 ini tak ada. Negara sebesar ini kok gak punya data- Batik ini oleh UNESCO sudah jadi warisan dunia loh… weleh- weleh!

“Industri batik kita banyak dikerjakan oleh pelaku IKM dari Sabang sampai Merauke dengan mempunyai keunggulan dan kekhasan motif sesuai kearifan lokal di daerah masing-masing,” tutur Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, di Pekalongan, Sabtu (7/1/2017).

Kemenperin bersama pemangku kepentingan terkait lainnya terus berupaya mengedukasi para generasi muda Indonesia agar mau belajar membatik.

Langkah ini untuk meningkatkan kecintaan terhadap batik nusantara sebagai warisan budaya dunia sekaligus mendorong penumbuhan wirausaha baru.

Di samping itu, lanjut Gati, pihaknya juga aktif melakukan kegiatan promosi melalui berbagai kegiatan di domestik dan internasional yang berhasil menarik perhatian masyarakat dunia terhadap batik Indonesia.

“Bahkan, kegiatan tersebut mampu meningkatkan permintaan ekspor batik nasional. Batik juga dapat mengeksplor karya kreatif mulai dari tingkatan perajin batik hingga fashion designer,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan Kemenperin, ekspor batik dan produk batik pada tahun 2015 mencapai USD 178 juta atau meningkat 25,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pasar ekspor utama batik Indonesia, antara lain Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Mendorong pengembangan daya saing industri batik nasional, Ditjen IKM telah melakukan berbagai program strategis yang meliputi bimbingan teknis dan pendampingan tenaga ahli, pemberian mesin dan peralatan, restrukturisasi mesin dan peralatan, serta fasilitasi pameran.

“Sampai tahun 2015, jumlah IKM yang mendapat fasilitasi restrukturisasi mesin dan peralatan sebanyak 25 perusahaan dengan total potongan harga mencapai Rp2,68 miliar,” tuturnya.

Untuk memperluas pemasaran, Kemenperin mengembangkan program e-Smart IKM yang memanfaatkan teknologi informasi.

“Melalui program ini, IKM dapat memasarkan produknya melalui marketplace yang ada sehingga semua konsumen dapat mengaksesnya dan IKM mendapatkan pasar yang lebih luas,” ungkap Gati.

Data BPS tahun 2016 menunjukkan, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB Kota Pekalongan berdasarkan harga berlaku sebesar 21,67 persen atau Rp1,5 triliun dengan laju pertumbuhan 6,23 persen.

Sedangkan, jumlah tenaga kerja di industri manufaktur mencapai 55.159 orang dan sebagian besarnya berkerja di industri batik.

Data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan menunjukkan, jumlah IKM batik saat ini sebanyak 1.081 unit dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 12.937 orang.

Terdapat empat sentra batik di Pekalongan, yaitu Kampung Batik Pesindon, Kauman, Jenggot dan Pasir Sari.

Produk batik yang dihasilkan berupa kain, sarung, pakaian, tas, perlengkapan sholat, dan home decoration.

Nilai ekspor produk batik Kota Pekalongan mencapai USD 427 ribu tahun 2015. Produk batik Pekalongan sebangian besar dipasarkan ke Jakarta.

Pemilik Griya Batik Mas, Hisam Diputra mengatakan, usahanya di Desa Kauman telah menyerap tenaga kerja sebanyak 51 orang untuk memproduksi batik tulis, cap, serta kombinasi tulis dan cap. Bahan baku yang digunakan, yakni kapas, sutera dan rayon.

“Daerah pemasaran kami, meliputi Pekalongan, Jogjakarta, Cirebon, Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Padang, Medan, dan Riau,” sebutnya. (olo)

 




Sepatu Sendal Buatan Rakyat

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Gati Wibawaningsih bersama Bupati Bogor Nurhayanti meninjau proses pembuatan alas kaki di Sentra Alas Kaki Desa Mekar Jaya, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, 3 Januari 2016.

“Pada tahun 2016, penambahan investasi alas kaki diperkirakan sebesar Rp2,8 triliun dengan nilai produksinya mencapai Rp22,98 triliun,” ujar Airlangga. (ling)




Pengembangan IKM dan Daya Saing!

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Peningkatan daya saing produk usaha rakyat (Industri Kecil Menengah/IKM) dan jumlah populasi guna menyerap lebih banyak tenaga kerja, menjadi fokus KementerianPerindustrian.

“Untuk pengembangan IKM, tetap fokus pada peningkatan daya saing, populasi dan tenaga kerja sesuai potensi sumber daya industri di daerah,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Jumat (29/12/2016).

Menurutnya, IKM yang menjadi sektor dominan dari populasi industri di dalam negeri berperan penting sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

“Di tengah pelemahan ekonomi global, IKM hampir tidak terpengaruh dan pertumbuhannya relatif lebih stabil,” ungkap Airlangga.

Selama lima tahun terakhir, kontribusi sektor IKM terhadap pertumbuhan industri non-migas meningkat dari 57,84 persen menjadi 60,34 persen.

Ekspor produk IKM Januari-November 2016 mencapai USD 24,7 miliar atau kontribusinya 24,8 persen terhadap total ekspor industri non-migas.

IKM juga mampu menyerap tenaga kerja awal tahun 2016 mencapai 97,22 persen.

“Pada tahun 2016, IKM di Indonesia tumbuh mencapai 165.983 unit atau meningkat 4,5 persen dibandingkan tahun 2015 dan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 350.000 orang,” tuturnya.

Pertumbuhan IKM selama tahun 2016 menunjukkan gejala yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kemenperin mencatat, jumlah sentra IKM tahun 2016 sebanyak 7.437 sentra.

Jumlah unit sentra terbanyak diduduki sektor pangan (40 persen), kerajinan dan aneka (23 persen), serta sandang (16 persen).

”Berdasarkan RPJMN 2015-2019, kami memiliki target penciptaan 20.000 wirausaha baru,” tegasnya.

Sepanjang tahun 2016, Kemenperin telah melaksanakan program pelatihan, pemberian startup capital, dan pendampingan kepada 3.745 calon wirausaha baru, yang 200 diantaranya sudah mendapatkan legalitas usaha industri.

Dirjen IKM Gati Wibawaningsih mengatakan, Kemenperin telah melakukan pemberdayaan sentra IKM melalui penguatan kelembagaan, fasilitasi penggunaan teknologi terkini, fasilitasi peningkatan Unit Pelayanan Teknis (UPT), pendampingan Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) serta pembangunan dan revitalisasi melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) kepada 1.852 sentra IKM yang dibina pada tahun 2016.

“Untuk pengembangan produk IKM, tahun ini kami masih menjalankan bimbingan dan fasilitasi penerapan standarisasi dan sertifikasi, pendaftaran HKI serta perbaikan desain kemasan dan merek kepada 3.865 IKM,” ungkapnya.

Sedangkan, realisasi KUR bagi IKM pada tahun ini sebesar Rp4,14 triliun untuk 187.871 unit usaha. (friz)