Kegaduhan Impor Beras Ditambah ‘Ombudsman’ Kegaduhan Baru

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Ombudsman Republik Indonesia barus saja merilis temuan berkaitan dengan pengelolaan data persediaan beras dan kebijakan impor beras. Ada enam gejala maladministrasi. Di antaranya ditemukan pasokan beras pas pasan dan tidak merata. Disarankan pemerintah hentikan kegiatan membuat opini soal beras surplus dan kegiatan perayaan panen yang berlebihan.

Pengamat kebijakan publik, Muh. Syaifullah mengatakan : ‘Lha ini kan malah menambah kegaduhan baru, yaitu data. Jangan sampai data dijadikan tumpuan sumber masalah. Data kan sudah dari dulu adanya demikian. Mestinya kan fokus masalah rencana impor ini’, tegasnya.

‘Mengenai adakah surplus beras? Ya serahkan saja pada yang kompeten. Data yang ada digunakan maksimal untuk menghitung beras, lama waktu bila mencari data lagi. Saya yakin instansi yang bersangkutan piawai menghitungnya’, ujarnya percaya.

Lebih lanjut penulis dan peneliti dari Pusat Kajian Inovasi dan Entrepreneurship (PKIE) ini mengatakan : ‘Nah bila ada pihak lain yang merasa memiliki data baru ya dikonfirmasikan saja pada instansi tersebut, saya yakin mereka akan terbuka membahasnya’.

‘Kalau begini kan saya jadi ikutan bingung. Dalam waktu singkat Ombudsman menyimpulkan stock beras pas-pasan dan menipis. Itu kayaknya stock Bulog ya? Kok terlalu sederhana hanya menghitung sebaran stock Bulog’, ujarnya memberkan.

‘Untuk diketahui stock beras banyak dan tidak hanya di Bulog, yaitu ada di petani, di penggilingan, di pedagang, di berbagai gudang, di konsumen, di horeka dan lainnya. Ingat Indonesia negara kepulauan, jadi so pasti lah stock beras itu bervariasi karena dikenal ada daerah sentra dan non sentra padi’, ungkapnya.

Tambahnya : ‘Logika saya saat ini stock tidak tipis. Buktinya survei BPS pada Maret, Juni dan September 2015, saat itu dalam kondisi musibah El-Nino terbesar, ditemukan stock berada di berbagai tempat kisaran 8 hingga 9,7 juta ton. Dibanding kondisi sekarang iklim normal, ya pastilah stock sekarang lebih besar’, jelasnya mengkaunter Ombudsmen.

‘Bukti sekarang stock berlebih adalah saat harga ini naik tinggi di atas 10 persen, tidak ada rush pada memborong beras tuh. Artinya tetap ada pasokan terus mengalir ke pasar. Justru saya malah curiga ada janggal kenapa harga naik liar, sementara pasokan cukup? Harga beras termurah I^64-III di PIBC mulai tanggal 3 – 9 Januari 2018 naik liar, sementara pasokan cukup, padahal saat Natal dan Tahun Baru harga wajar’,  ungkapnya.

‘Ini kok aneh ya. Kenapa kok merayakan panen disuruh dihentikan (Ombudsmen)? Justru perayaan panen itu kan tanda syukur, berkah bagi petani. Apa itu berlebihan? Saya kira biasa-biasa saja. Gak ada hal baru, dari dulu juga petani merayakan panen’, pungkas Syaifullah menyindir pihak tertentu. (olo)




Harga Gabah Paling Murah Rp4600/Kg, Masih Diatas HPP

LOMBOK, CITRAINDONESIA.COM- Harga Gabah Kering Panen (GKP) hanya Rp4.600/Kg di tengah musim panen di tiga wilayah Lombok yakni Lombok Barat (Lobar) dan Lombok Timur (Lotim) dua Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

‘Daerah ini memanen Padi varietes unggul baru (VUB) Inpari 32 seluas sekitar 35 ha’, ujar Marihot H Panggabean kepada citraindonesia.com di Jakarta, Senin malam (15/1/2018) secara tertulis.

Sekedar tahu. Harga jual GKP Rp4600/kg itu tergolong murah dibanding harga di daerah lainnya di Indonesia yang juga tengah melakukan panen. Namun masih jauh di atas HPP (Harga Pembelian Pemerintah) sebesar Rp3.700/kg sejak tahun 2017.

Berikut kisaran harga Gabah di tingkat daerah sekarang :
1. Konawe per 15 Januari 2018 Rp 4700 – 4800/Kg. Sempat turun jadi Rp4600/Kg.
2. Harga Gabah di tengah sawah di Singosari per 23 Desember 2017 Rp4.300.
3. Di Lampung harga GKG Rp6.300/Kg, GKP Rp4.800/Kg.
4. Di Lombok GKP Rp4600/kg per 15 Januari 2018

Sementara itu lanjut Marihot, daerah tersebut juga produktivitas hasil panen semakin baik setelah penggunaan varietas VUB Inpari 32 tesebut. Dan petani memiliki indeks pertanaman 300 alias tanam tiga kali setahun.

‘Selain Desa Mekar Sari, panen juga Desa Dasan Tereng, Kecamatan Narmada oleh para anggota Poktan Pancakarya.

‘Petani desa ini menanam varietas Inpari 32. Meskipun tingkat harga GKP sama dengan Desa Mekar Sari, produktivitas Padi di Desa Dasan Tereng 5 ton/ha’, ujar Sahardi, ketua Poktan Pancakarya, yang hari ini panen sekitar 15 ha. (dewi)




Gabah Hasil Panen Petani Konawe 9749 Ton

KONAWE, CITRAINDONESIA.COM- Panen raya para petani di Kota Unaaha Kabupaten Konawe tengah berlangsung sejak Januari 2018, sekitar 799 ha dengan produktivitas sekitar 6 ton per hektare atau setara 4794 ton Gabah atau setara 5000 ton beras.

‘Luas panen sekitar 799 ha’, ujar Ramlah SP, Kepala BPP Unaaha Dinas Pertanian Kab Konawe, tertulis melalui Kabag Himas Kementan, Marihot H Panggabean, kepada citraindonesia.com, Senin (15/1/2018) di Jakarta.

Menurutnya, panen itu dilakukan para petani di 5 Kelurahan secara bersamaan, yakni Tobeu, Tuoy, Unaaha, Asambu dan Wawonggole.

‘Panen diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2018. Harga gabah petani Rp4.700, menurun dari pekan sebelumnya yang mencapai Rp4.800 per kg GKP’, jelasnya berharap naik lagi.

Panen menggunakan alsintan combine harvester dari bantuan Kementan, juga milik masyarakat.

‘Penggunaan alsintan ini sangat membantu percepatan panen petani serta mengurangi kehilangan hasil panen’, ujar Iwan L. Danpos Ramil Unaaha yang juga turut memantau panen padi di Wilayah Unaaha.

Soal harga beras, Peneliti BPTP Balitbangtan Sultra Zainal Abidin bilang : ‘Fenomena peningkatan harga beras di Kab.Konawe imbas harga beras secara nasional’.

Menurutnya Konawe maupun Kabupaten lain yang menjadi lumbung beras di Provinsi Sultra seperti Konawe Selatan. Kolaka dan Kolaka timur. (dewi)




Amran : Dalam Dua Tahun Kita Sukses Swasembada Beras

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan bahwa hanya dalam dua tahun, Indonesia sukses meraih predikat swasembada Beras dan tidak melakukan impor beras medium untuk konsumsi rakyat.

‘Tahun 2016 dan 2017 kita tidak melakukan impor beras. Itu menandakan bahwa Indonesia mampu melakukan swasembada beras’, tegasnya saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementan RI bertema “Mengangkat Kesejahteraan Petani” di Hotel Bidakara, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (15/1/2018).

Mentan juga menceritakan bahwa kondisi swasembada beras pernah dicapai oleh Pemerintahan Indonesia pada tahun 1984, namun ada saat itu Indonesia masih harus melakukan impor beras juga.

‘Definisi swasembada itu seperti apa dulu? Pada bulan November tahun 1984 Indonesia juga pernah mencapai swasembada beras, namun saat itu ketika di cek kembali ternyata masih ada impor beras sebanyak 414 ribu Ton. Kalau di tahun 2016-2017 ini sama sekali kita tidak ada impor beras medium’, terangnya.

Dirinya juga memaparkan kejadian pada tahun 2015 lalu saat dilakukan impor beras itu dikarenakan kondisi alam yang sedang dilanda cuaca elnino yang memang mengharuskan sekali Indonesia melakukan impor beras.

‘Dulu rekomendasi impor keluar di tahun 2015 itu karena ada elnino, namun di tahun 2016-2017 sama sekali Indoenesia tidak ada impor’, tutup Amran. (Ning)




Pandeglang Turut Sukseskan Swasembada Pangan

PANDEGLANG, CITRAINDONESIA.COM- Para petani dari berbagai Desa di Kabupaten Pandeglang, Banten, turut serta mensukseskan program swasembada pangan dilalksanakan Pemerintah Pusat.

‘Kami berterima kasih atas kemudahan yang diberikan pemerintah terutama adanya sarana irigasi di tempat kami’, ujar Abdul Azis, Ketua Poktan Wargamekar, tertulis melalui Kabag Humas Kementan RI, Marihot H Panggabean kepada citraindonesia.com, di Jakarta, Senin (15/1/2018).

Lebih lanjut Azis menjelaskan bahwa saat ini, mereka sudah melaksanakan IP 300, produksi padi semakin meningkat dengan kualitas lebih baik, produktivitas yang diperoleh mencapai 6.5 ton per hektare.

Menurutnya, sejak Desember 2017 hingga saat ini, para petani Pandeglang terus melakukan panen di sejumlah lokasi pada hamparan yang cukup luas, minimal 5-20 ha pada satu titik lokasi. Hal ini semakin memperkuat eksistensi wilayah ini sebagai sentra utama padi di Provinsi Banten, dan turut menjaga kesuksesan swasembada pangan.

Panen hari ini di Kabupaten Pandeglang terpantau pada tiga titik lokasi, dua di Kecamatan Mandalawangi dan satu di Kecamatan Kaduhejo. Panen di Kecamatan Mandalawangi berada di lokasi Poktan Wargamekar Desa Mandalawangi, dan Poktan Wangunsari Desa Cikoneng. Panen di Kecamatan Kaduhejo berlangsung di Poktan Karyatani Desa Ciputri.

Berbagai unsur di wilayah ini terus berupaya untuk peningkatan produksi pangan, baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat, dan keterlibatan penuh petugas lapangan, penyuluh dan POPT, serta peran aktif dan sikap kooperatif dari para Kelompok Tani.

Peran Pemerintah Daerah baik Provinsi Banten maupun Kabupaten Pandeglang antara lain bersama-sama dengan Pemerintah Pusat melaksanakan dan mengawal kesuksesan pelaksanaan Program Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Pajale (Padi, Jagung, dan Kedelai). Berbagai bantuan telah dikucurkan oleh pemerintah untuk memperlancar proses produksi petani di wilayah ini, antara lain bantuan benih unggul dan bersubsidi, alsintan, bantuan obat2an untuk serangan hama yang merugikan petani, jaringan irigasi, dan lain-lain.

Salah satu contoh jaringan irigasi yang sangat dirasakan manfaatnya oleh petani saat ini adalah irigasi yang ada salah satu lokasi panen hari ini, yaitu di Poktan Wargamekar Desa Mandalawangi.

Dalam rangka suksesnya swasembada pangan, BPTP Balitbangtan Banten sebagai Unit Pelaksana Kementerian Pertanian di wilayah ini, sesuai dengan tupoksinya secara khusus melakukan pendampingan teknologi kepada petani baik melalui Program UPSUS maupun melalui Program Pendampingan Pengembangan Kawasan Pangan, dan kegiatan lainnya.

Bentuk pendampingan yang dilakukan antara lain melaksanakan demplot, demfarm, dan gelar teknologi sebagai wahana percontohan bagi petani. Selain itu, juga melakukan Bimtek/pelatihan kepada petani.

Peran penyuluh daerah dan POPT juga tak kalah pentingnya untuk kesuksesan swasembada. Secara rutin, penyuluh lapangan dan POPT ke lokasi-lokasi lahan petani untuk memberikan pendampingan secara langsung kepada petani dan memantau perkembangan OPT yang berbahaya bagi tanaman. (dewi)




‘Impor Versus’ Panen Petani Karawang Setara 1,18 Juta Ton Beras

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Gapoktan Srimulya di Lumbung Beras Kabupaten Kawarang sedang Panen Raya Padi 540 hektare dengan tingkat produktivitas rata-rata 6,89 ton per hektare setara 3,78 ribu ton padi atau sekitar 1,18 juta ton Beras awal tahun ini.

‘Kami sudah panen beberapa hari ini sampai 10 hari ke depan’, ujar H. Narim, Ketua Poktan Harapan, anggota Gapoktan Srimulya saat ditemui dilokasi panen, Minggu (14/1/2018).

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi bersama Kepala Badan Karantina Pertanian Banun Harpini menyaksikan langsung panen ikut gembira.

‘Kita bisa melihat sendiri, ternyata areal persawahan yang dipanen dan siap panen masih banyak’, ujar Agung. Di sini tidak ada paceklik’.

Banun Harpini, penanggung jawab program upsus pajale Provinsi Jawa Barat, mengatakan : ‘Panen ini kita melihat langsung, tidak hanya di areal persawahan yang siap panen, juga di gudang-gudang dan tempat penggilingan gabah petani’, ujarnya.

Menurutnya adanya panen padi ini, menunjukan pemerintah masih banyak memiliki stok gabah dan beras untuk memenuhi konsumsi masyarakat, karena pasokan beras cukup dan harganya relatif stabil.

Sementara itu Kadis Pertanian Kabupaten Karawang, Hanafi mengatakan pada tahun 2017 luas panen di Karawang 160.983 hektar, produktivitas rata-rata 6,89 ton per hektar, sehingga total produksi mencapai 1.1 juta ton.

‘Dengan jumlah penduduk Karawang 2,3 juta jiwa, dan kebutuhan beras mencapai 187.000 ton per tahun, kami surplus 508.215 ton’, jelasnya.

Mengantisipasi dampak paceklik, pemerintah telah menyalurkan bantuan cukup banyak ke petani, seperti pompa air, traktor dan benih berkualias, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, embung dan lainnya.

Petani Desa Sri Kamulyan, H. Ita mengungkapkan, perhatian dan bantuan pemerintah memang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani.

Bantuan diterima antara lain berupa pompa air, transplanter dan traktor. Dengan bantuan tersebut membuat tanaman padi berhasil dipanen dengan hasil 7 ton per hektar.

‘Dulu ketika musim paceklik seperti ini, produktivitasnya hanya 4,5 ton per hektar. Namun setelah ada program pemerintah, hasil panen lebih bagus’, ungkapnya.

Data Kementan, luas tanam padi secara nasional pada Juli – September 2017 mencapai 1,0 – 1,1 juta hektar perbulan. Ini berarti naik dua kali lipat dari tahun sebelum ada program Upsus hanya 500 ribu hektar perbulan.

Total panen padi di bulan Desember 2017 ini seluas 1,1 juta hektar dengan hasil mencapai 6 juta ton GKG atau 3 juta ton beras. Produksi ini mampu memenuhi kebutuhan konsumsi beras nasional 2,6 juta ton dan berarti surplus 0,4 juta ton.

Peningkatan luas tanam musim kering Juli -September naik dua kali lipat merupakan solusi permanen dari dampak Program Upsus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah menyelesaikan rehabilitasi jaringan irigasi tersier 3,4 juta hektar atau 113%, pembangunan 2.278 unit embung/dam parit/ long storage, perluasan dan optimasi lahan 1,08 juta hektar, pengembangan lahan rawa 367 ribu hektar, mekanisasi dengan bantuan alsintan traktor, pompa, rice transplanter, combine harvester 284.436 unit naik 2.175 persen dari tahun 2014. Kemudian, bantuan benih 12,1 juta hektar, pupuk bersubsidi 27,64 juta ton serta asuransi usaha tani padi 1,2 juta hektar. (linda)




Kelompok Tani Tolak Impor Beras Sedang Panen

PANDEGLANG, CITRAINDONESIA.COM- Ketua Kelompok Tani Bina Karya, Desa Kadugemblo, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, Banten,  Asep Suherman, meminta Pemerintahan Presiden Joko Widodo hentikan impor beras bila peduli kepada nasib para Petani di seluruh Indonesia.

‘Menyatakan jangan sampai ada impor’, tegas Asep Suherman, tertulis melalui Kabag Humas Kementan RI, Marihot H Panggabean diterima citraindonesia.com, Minggu (14/1/2018) di Jakarta.

Seperti diketahui, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sudah mengumumkan importasi beras khusus 500.000 tom dari Thailand dan Vietnam dan akan masuk Indonesia akhir Januari 2017.

Kementerian Perdagangan RI, menerbitkan Permendag Nomor 1 Tahun 2018 sebagai payung hukumnya, dan menunjuk PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI Persero) sebagai importirnya.

‘Kami berikan izin impor beras khusus 500.000 ton, yang tidak diproduksi di Indonesia di dalam negeri. Kami tak mau mengambil resiko kekurangan beras di Indonesia’, ujar Enggar konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (11/1/2018) yang dihadiri asosiasi peritel Indonesia.

Asep Suherman pun memastikan impor beras melemahkan daya saing dan memiskinkan para petani. Terumata kata dia, petani di Pandeglang ini sebentar lagi mencapai puncak panen Padi pada Februari-Maret 2018.

‘Bila impor dilakukan saat ini, berarti bulan depan saat panen raya Gabah melimpah dan harga jual GKP menjadi murah, petani menjerit’, jelasnya.

Dia lantas meminta bukti nyata Pemerintah Presiden Jokowi yang selama ini menyebutkan pro petani.

Kalau itu benar maka wajib Jokowi stop impor beras. Biarkanlah petani menikmati harga GKP yang sedang baik ini, toh tidak terlalu lama lagi. Kasihanilah kami’, keluhnya mewakili puluhan kelompoknya. (dewi)

 




Petani Halmahera Utara ‘Lawan Impor’ Panen Tiga Kali Setahun

HALMAHERA UTARA, CITRAINDONESIA.COM- Para petani di Halmahera Utara masih terus panen Padi. Setelah di Desa Sangaji Jaya dan Makarti, Sabtu panen dilakukan di desa Wonosari, Kecamatan Kao Barat.

‘Karena adanya peningkatan indeks pertanaman sehingga petani bisa menanam padi 3 kali setahun’, ujar Kabag Humas Kementan RI, Marihot H Panggabean tertulis kepada citraindonesia.com di Jakarta, Sabtu malam (13/1/2018).

Menurutnya, panen Varietas Inpari 30 seluas 3 hektar dan Mekongga 7 hektar, kisaran produktivitas 6 hingga 7 ton/ha.

Sementara itu menurut Putu Artana Jaya, Pasiter Kodim 1508/Tobelo, bilang, hingga akhir Januari 2018, luas panen di desa ini mencapai 90 hektar.

Pihaknya telah menugaskan Babinsa Juwono untuk mengawal kegiatan panen di desa wonosari yang merupakan salah satu lumbung padi sawah di Kabupaten Halmahera Utara. ‘Total luas potensi sawahnya mencapai 210 ha’, ujarnya.

Panen Padi ini Halmahera Utara mamastikan tidak ada paceklik. Meskipun terjadi kenaikan harga beras di pasaran, namun petani di Wonosari ikut merasakan sedikit berkahnya.

Harga beras yang biasanya Rp8000- 8500 per Kg, kini pedagang siap membeli dengan kisaran harga Rp9.000-10.000/Kg.

Ketua kelompok tani rejeki I, Rohman, mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah dan tim UPSUS Halmahera Utara yang membantu budidaya Padi di wilayahnya.

Sejak tahun lalu kelompoknya mendapatkan bantuan mesin panen combine harvester sehingga kegiatan panen jauh lebih cepat dan hemat.

‘Ada program desa mandiri benih sehingga petani di desanya sudah tidak perlu lagi mendatangkan benih dari luar daerah’, ujar Rohamn. (dewi)




Harga Gabah di Konawe Turun Jadi Rp4600/Kg

SULTRA, CITRAINDONESIA.COM- Panen Padi para Petani di Kecamatan Pondidaha, Sultra, berlangsung sejak Desember 2017 sekarang, seperti di Desa Lalonggotomi, Wonua Monapa, Belatu dan Laloika. Namun harga Gabah turun Rp200/Kg menjadi Rp4600/Kg dari sebelumnya Rp4800/Kg.

‘Luas sawah di Kec. Pondidha 1.973 ha. Yang sudah di panen sekitar 60% dengan produktivitas antara 4 – 7 ton Gabah per ha’, ujar I. Nyoman Trima, Dinas Pertanian Kabupaten Konawe, tertulis melalui Kabag Humas, Kementan RI, Marihot H Panggabean di Jakarta, Sabtu malam kepada citraindonesia.com.

Mengenai harga Gabah menurut Roe petani di Desa Lalonggotomi, sedang turun menjadi Rp4.600/Kg. ‘Lebih rendah dari pekan sebelumnya Rp4.800/Kg’, ujarnya seraya berharap harga naik lagi meningkatkan kesejahteraan para petani setempat.

Menjawab hal itu, Zainal Abidin, Peneliti BPTP Balitbangtan Sultra, bilang penurunan harga gabah ini karena luas panen terus bertambah di Konawe ecara keseluruhan terutama Kecamatan Lambuya, Wawotobi Wonggeduku serta Uepai yang dikenal sentra penymbang hasil panen terbesar.

Sementara petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Pondidaha menyatakan panen di Pondidaha ini berdekatan waktunya dengan waktu tanam.

‘Pada Januari ini sekitar 560 ha sawah siap tanam, dan sisanya akan tanam bulan Februari hingga awal Maret’, ujarnya.

Pertanaman ini kata dia, lebih cepat dibanding musim sebelumnya. Hal ini menyambut program percepatan tanam padi sawah di Kabupaten Konawe, di mana bulan Januari ini air irigasi Wawotobi bendungan terbesar di Sultra telah di buka, dan akan dimamfaatkan para petani setempat. (dewi)




Prof Bungaran Saragih : Untuk Apa, Untuk Siapa Beras Impor Itu?

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Menteri Pertanian Kabinet Gotong Royong di Era Megawati Soekarno Putri, Profesor Bungaran Saragih, meminta Pemeritahan Presiden Jokowi- JK, segera meninjau kembali impor beras khusus 500.000 ton dari Thailand dan Vietnam. Waktunya tidak tepat di tengah petani sedang panen Padi.

‘Saya meminta agar mempertimbangkan rencana impor beras dalam waktu dekat’, tegas Bungaran Saragih, dalam sambutannya pada Perayaan Natal Bersama di Jakarta, Jumat malam (12/1/2018).

Panen Raya para Petani Yogyakarta

Sebelumnya, importasi beras tersebut sudah mendapatkan izin dari Kementerian Perdagangan RI, melalui Permendag Nomor 1 Tahun 2018, dan menunjuk PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI Persero) sebagai importirnya.

Salah satu alasan impor beras ini karena kekhawatiran kecukupan pasokan kepada masyarakat dan Beras Premium berkisar Rp11- 12.000/Kg, jauh di atas HET Rp9.450/Kg, meski sudah OP Beras beberapa bulan lalu dengan Perum Bulog dan Satgas Pangan.

Sekadar tahu, umumnya para petani dan Ketua Komite II DPD RI, Parlindungan Purba, serta para anggota Komite II DPD RI menolak importasi beras 500.000 ton di tengah panen raya para petani.

‘Kebijakan impor beras ini momennya tidak tepat. Pemerintah harus meninjau ulang ini. Ini pasti menyengsarakan petani. Kan lagi musim panen’, tegasnya, Jumat (12/1/2018) saat dihubungi tengah blusukan dan dalam perjalanan di daerah Pematang Siantar (Sumut) untuk mengunjungi para rakyat yang diwakilinya di daerah dapilnya tersebut.

Bertolak dari itu, Bungaran Saragaih menyayangkannya. Terlebih sekarang para petani kita itu sedang panen raya Padi di berbagai daerah Indonesia. Bahkan panen itu sejak Desember 2017 hingga Januari 2018. Hasilnya surplus. Serta panen ini diperkirakan akan berakhir Maret 2018.

‘(Menteri Amran) sudah bekerja keras. Ini terbukti tidak ada impor selama 3 tahun. Saya juga ikuti terus aktivitas Mentan. Sungguh luar biasa. Hargai ‘kerja keras petani’, tegas sang profesor mengingatkan Pemerintahan Jokowi- JK.

Dan yang jelas, Profesor Bungaran, melihat bahwa saat ini, ‘tidak perlu (impor Beras). Karena dalam waktu yang tidak begitu lama, hanya hitungan hari (Indonesia) akan memasuki masa panen raya. Akhir Januari hingga Maret (2018) ke depan kita akan panen raya. Untuk apa dan untuk siapa (beras impor)? tanya Bungaran dengan heran.

Menurutnya (kita) harus mempercayai (Menteri Pertanian), yang bertanggung jawab pada produksi dan petani. Dan bila ingin impor, sebaiknya kita tanya dulu Mentan.Bila Mentan mengatakan bahwa produksi cukup, kenapa harus impor”, tanya Bungaran lagi.

Sejatinya, kata dia Pemerintahan Jokowi- JK ini harus percaya sepenuhnya kepada Menteri Pertanian terkait data dan produksi Beras Indonesia. (olo)