Pemerintah Pertahankan Tarif Listrik dan Harga BBM Hingga 31 Maret 2018

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan tidak mengubah atau mempertahankan harga listrik maupun harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium, Solar, dan Minyak Tanah pada 1 Januari – 31 Maret 2018.

‘Tarif listrik untuk 1 Januari sampai 31 Maret 2018 dinyatakan tetap, jadi sama dengan periode 3 bulan terakhir di tahun ini. Jadi tidak ada kenaikan, karena memang penetapan tarif listrik tiap 3 bulan,’ kata Menteri ESDM Ignasius Jonan pada konferensi pers, di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Dengan ketetapan tersebut, maka besaran tarif rata-rata untuk beberapa pelanggan listrik adalah sebagai berikut:

– Rumah tangga 450 VA, tetap sebesar Rp415 per kWh.
– Rumah tangga 900 VA tidak mampu, tetap sebesar Rp586 per kWh.
– Rumah tangga 900 VA mampu, tetap sebesar Rp1.352 per kWh.
– Pelanggan non subsidi (tariff adjustment), tetap sebesar Rp1.467 per kWh.

Sedangkan untuk harga BBM, Menteri ESDM Ignasius Jonan juga menyatakan bahwa harga jual Jenis BBM Tertentu jenis Solar dan minyak tanah, serta Jenis BBM Khusus Penugasan yakni Premium mulai 1 Januari 2018 tidak mengalami perubahan.

‘Harga eceran BBM untuk yang Gasoline RON 88 atau yang biasa disebut Premium dan juga Gasoil 48 atau Solar ditetapkan harganya sama atau tidak naik untuk periode 1 Januari sampai 31 Maret 2018,’ tegas Jonan.

Dengan demikian, harga jual BBM jenis penugasan yang berlaku pada periode 1 Januari-31 Maret 2018 adalah:

– Minyak Tanah – Rp2.500
– Minyak Solar – Rp5.150 (termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor)
– Bensin Premium RON 88 – Rp6.450 (termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor).
– Jona menjelaskan, penetapan tarif listrik dan harga BBM tersebut semata-mata mempertimbangkan daya beli masyarakat.

‘Penetapan Pemerintah tidak naik ini satu-satunya itu karena mempertimbangkan daya beli masyarakat,’ ujarnya.

Untuk tarif listrik dan harga BBM Jenis BBM Tertentu dan Khusus Penugasan pada periode tiga bulan selanjutnya, yakni 1 April-30 Juni 2018, menurut Menteri ESDM, akan ditetapkan kemudian.

‘Nanti (periode) selanjutnya kita lihat lagi karena penetapannya setiap 3 bulan,’ pungkas Jonan. (*)




DPR RI Dorong PT PLN Tingkatkan Elektrifikasi

YOGJAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) meminta jajaran PT PLN dan Dirjen Kelistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serius mendorong angka elektrifikasi nasional.

Peningkatan angka elektrifikasi nasional menjadi salah satu target penting yang harus dicapai oleh PT. PLN (persero), apa yang terjadi di Provinsi DIY menjadi gambaran penting bagi segenap pemangku kepentingan bahwa keterjangkauan dan akses menjadi prioritas penting dalam pemenuhan kebutuhan listrik bagi masyarakat’, ujar Anggota DPR RI Komisi VII Rofi Munawar saat dialog bersama jajaran Pemerintah Provinsi DIY, Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero), Kamis (14/12/2017).

Dalam kunjungan kerja (kunker) ke DIY, terungkap bahwa data Kementrian ESDM per juni rasio elektrifikasi Provinsi tersebut mencapai 89,63 persen, namun dalam kenyataannya masih banyak daerah yang belum terjangkau aliran listrik.

Rofi memberikan penjelasan, berdasarkan peta potensi energi yang dimiliki oleh DIY, sesungguhnya kekuatan terbesar ada di Energi Baru Terbarukan (EBT).

Bagaimana masyarakat yang berlokasi didaerah terpencil dan merupakan masyarakat yang tidak mampu, mendapatkan akses energi listrik dengan memanfaatkan EBT untuk tujuan pembangunan ekonomi dan sosial secara keseluruhan. Terlebih, selama ini DIY berada dalam sistem Interkoneksi Jawa Madura Bali (JAMALI) dan belum memiliki sistem pembangkit berskala besar.

‘Pemda perlu berencana menambah atau mengeksplorasi kawasan baru di Jogja yang bisa dimanfaatkan untuk membangun fasilitas pembangkit listrik tenaga hybrid, angin dan sejenisnya’, ungkap Kapoksi VII FPKS ini.

Legislator asal Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menambahkan, secara umum masih terdapatnya disparitas akses energi yang ada di Yogyakarta. Hal ini bisa terlihat dari lebih majunya wilayah yang mendapat akses ke energi dibanding yang kurang memiliki akses.

‘Juga, lebih majunya kabupaten/ Kecamatan/Desa yang mendapat akses ke energi dibanding yang kurang memiliki akses’, imbuhnya. (linda)




Tren Harga Komoditi Berjangka Internasional

LONDON, CITRAINDONESIA.COM- Harga minyak berjangka di Bursa London, Inggris, terus menunjukkan penguatan memasuki akhir pakan, Jumat atau Sabtu WIB (9/12/2-17).

‘Indikatornya adalah harga minyak Brent Crude Oil di pasar Futures naik menjadi $ 63.33 per barrel atau +1.13 setara sekitar +1.8%’ lapor bbc.

Kenaikan ini jauh di atas harga sebelumnya. Minyak mentah West Texas turun 3% menjadi US $ 55,98 per barel, Brent tergelincir 2,6% ke $ 61,24 per barel karena data produksi AS lebih besar dari yang diharapkan.

Berikut tren perdagangan komoditas berjangka lainnya ditutup Jumat sore ;

ICE Futures Europe
Brent Crude Oil Futures $/barrel Fri 21:15 63.33
+1.13
+1.8
Brent Crude Oil Spot $/barrel Wed 13:05 58.59
+0.98
+1.6
ICE Futures US
West Texas Intermediate Crude Oil Futures $/barrel Fri 21:15 57.33
+0.64
+1.1
Cocoa Futures $/m tonne Fri 08:00 1885.00
0.00
0.0
Coffee “C” Futures US cents/pound Fri 08:00 120.85
0.00
0.0
Cotton No. 2 Futures US cents/pound Fri 08:00 74.23
0.00
0.0
Sugar No. 11 (World) Futures US cents/pound Fri 08:00 14.31
0.00
0.0
Sugar No. 16 Futures US cents/pound Fri 08:00 26.70
0.00
0.0
Gold
Forex Gold Index(am fix) $/oz Fri 13:15 1245.85
-10.95
-0.9
Forex Gold Index(pm fix) $/oz Fri 16:30 1250.65
-4.35
-0.4
Dubai Gold Futures $/oz Fri 20:45 1250.40
+2.30
+0.2
Silver
Silver Index $/oz Fri 13:15 15.82
-0.09
-0.5
London Metal Exchange
Aluminium Alloy Cash Unofficial Confirmed $/m tonne Tue 16:40 1596.00
0.00
0.0
Aluminium Alloy 3mo Unofficial Confirmed $/m tonne Tue 16:35 1595.00
0.00
0.0
Primary Aluminium Cash Unofficial Confirmed $/m tonne Fri 16:35 1897.00
0.00
0.0
Primary Aluminium 3mo Unofficial Confirmed $/m tonne Thu 16:35 1601.00
0.00
0.0
Copper Cash Unofficial Confirmed $/m tonne Fri 16:35 5905.50
0.00
0.0
Copper 3mo Unofficial Confirmed $/m tonne Mon 16:35 5800.00
0.00
0.0
Lead Cash Unofficial Confirmed $/m tonne Thu 16:38 2264.00
0.00
0.0
Lead 3mo Unofficial Confirmed $/m tonne Mon 16:35 2229.50
0.00
0.0
N. American Special Alum Alloy Cash Unofcl Confmd $/m tonne Fri 16:35 1822.00
0.00
0.0
N. American Special Alum Alloy 3mo Unofcl Confmd $/m tonne Fri 16:40 1735.00
+10.00
+0.6
Nickel Cash Unofficial Confirmed $/m tonne Fri 16:35 9280.00
0.00
0.0
Nickel 3mo Unofficial Confirmed $/m tonne Mon 16:35 9080.00
0.00
0.0
Tin Cash Unofficial Confirmed $/m tonne Fri 16:35 20075.00
0.00
0.0
Tin 3mo Unofficial Confirmed $/m tonne Fri 16:40 19262.50
+142.50
+0.8
Zinc Cash Unofficial Confirmed $/m tonne Fri 16:35 2752.50
0.00
0.0
Zinc 3mo Unofficial Confirmed $/m tonne Mon 16:35 2704.00
0.00
0.0
CBOT Futures
Corn Futures US cents/bushel Thu 19:30 395.75
0.00
0.0
Oats Futures US cents/bushel Thu 19:15 238.50
0.00
0.0
Soybeans Futures US cents/bushel Thu 19:15 1029.25
0.00
0.0
Soybean Oil Futures US cents/pound Thu 19:30 35.11
0.00
0.0
Wheat Futures US cents/bushel Thu 19:15 496.00
0.00
0.0
Euronext LIFFE Futures
Cocoa Futures £/m tonne Fri 08:00 1552.00
+226.00
+17.0
Corn Futures euros/m tonne Fri 17:31 153.75
-0.50
-0.3
Feed Wheat Futures £/m tonne Fri 08:00 141.65
+3.60
+2.6
Milling Wheat Futures euros/m tonne Fri 17:31 156.50
-0.75
-0.5
Rapeseed Futures euros/m tonne Fri 16:15 364.50
-2.00
-0.6
Robusta Coffee Futures $/m tonne Fri 08:00 1884.00
+154.00
+8.9
White Sugar Futures $/m tonne Fri 08:00 385.20
+14.00
+3.8
Bloomberg Commodity Index Wed 20:50 85.59
0.00
0.0

 




OPEC dan Rusia Sepakat Kurangi Produksi Minyak

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- OPEC dan negara penghasil minyak dipimpin Rusia sepakat perpanjang penguangan produksi sampai akhir tahun 2018.

“Kesepakatan saat ini untuk mengurangi produksi Minyak 1,8 juta barel per hari akan berakhir pada bulan Maret tahun depan,” ujar nhk, Jumat (1/12/2017).

Atas kesepatakan OPEC di Wina itu, benchmark WTI berjangka naik menjadi lebih dari 100 dolar per barel 3 tahun lalu.

Namun akhir- akhir ini turun hingga di bawah 30 dolar AS per barel pada satu titik disebabkan banjir pasokan minyak shale AS.

WTI sekarang melayang di bawah 60 dolar AS per barel di tengah negara penghasil minyak memutuskan perpanjangan pengurangan produksi. (friz)




Pemerintah Dorong Penggunaan Energi Terbarukan

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kebutuhan energi akan terus meningkat seiring bertumbuhnya perekonomian Indonesia. Berbagai langkah strategis pun telah dilakukan untuk menjamin ketersediaan energi Nasional, salah satunya dengan mendorong secara masif pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, pemerintah mendorong penggunaan energi terbarukan untuk ketahanan energi nasional. Oleh karena itu ada beberapa pembangkit yang bersumber dari bauran energi yang tengah dikerjakan.

“Saat ini sedang dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap dengan kapasitas 75 mw dan diharapkan Commercial Operation Date (COD/beroperasi secara komersial) pada awal 2018,” tuturnya, dalam Siaran Pers Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (1/12/2017).

Selain Sidrap, Jonan melanjutkan, ada beberapa proyek EBT yang sedang dilaksanakan seperti PLTB Jeneponto di Sulawesi Selatan dengan kapasitas 65 mw dan PLTB Tanah Baru di Kalimantan Selatan.

Menurutnya, pengembangan EBT ini dimaksudkan agar tarif listrik berbasis EBT kedepannya akan lebih murah dan kompetitif.

Seperti harga jual listrik PLTB Sidrap sebesar USD11,4 sent per kWh, dan sekarang dipersiapkan PLTB Sidrap Tahap II kapasitas 50 mw, dengan harga jual ke PLN yang jauh lebih murah, sekitar USD6 sent per kWh.

Lebih lanjut, Jonan menyampaikan bahwa untuk PLT Arus Laut, proyek berkapasitas 20 mw akan dikembangkan di Larantuka dengan harga jual listrik dari pengembang ke PT PLN sebesar USD7,19 sent per kWh.

Sangat kompetitif dibandingkan pembangkit listrik dari sumber energi primer lainnya.

Saya percaya ke depannya EBT akan kompetitif apabila dibandingkan energi fosil, mungkin belum sekarang, tetapi secepatnya di masa depan akan terwujud,” harapnya. (*)




Soal Tarif Listrik, “Nyaman dan Produktif dengan Tambah Daya Gratis”

Rencana Pemerintah menyederhanakan golongan listrik telah memantik keriuhan baru di tengah berjejalnya kegaduhan yang terjadi di negeri ini. Opini publik terbelah. Ada yang pro dan, tentu saja, juga kontra. Tapi kalau mau jujur, sepertinya lebih banyak yang kontra ketimbang setuju.

Penentangan (penentangan? Wuih…, dramatis sekali. Hehehe…), umumnya disebabkan adanya kekhawatiran rencana program tersebut bakal kian memorakporandakan kantong rakyat. Maklum, rakyat negeri ini sudah tercekik dengan naiknya harga beragam kebutuhan hidup. Maka, penyederhanaan golongan listrik pun disikapi dengan prasangka (negatif).

Pertanyaannya, benarkah penyederhanaan golongan listrik bakal kian membebani pelanggaan? Buat menjawab pertanyaan ini, yuk kita kuliti dulu program penyederhanaan golongan listrik yang memicu kehebohan ini.

Dulu, konsumen dibatasi pemakaian listriknya oleh _mini circuit breaker_ (MCB). Maklum, saat itu kemampuan PLN memang masih terseok-seok memasok listrik. Konsekwensinya, pelanggan hanya bisa memakai peralatan listrik secara bersamaan secara terbatas.

Begini contonya. Saat pelanggan 1.300 VA (6A) bermaksud memakai aneka perlengkapan listrik secara bersamaan, MCB otomatis _njeglek_ alias turun. Listrik padam. Pasalnya, pemakaian listrik lebih besar dari daya tersambung. Beda halnya kalau pelanggan menaikkan daya tersambung menjadi, misalnya, 5.500 VA (MCB 25A). Maka MCB tetap on. Listrik tetap menyala. Pelanggan pun _happy_ karena bisa menikmati kehidupan rumah tangga lebih leluasa.

Berangkat dari pengalaman inilah, PLN bermaksud meningkatkan pelayanannya kepada pelanggaan. Seperti dikatakan Dirut PLN Sofyan Basir, ide penyederhanaan golongan listrik sebetulnya datang dari pelanggan. Alasannya, selama ini jika pelanggan bermaksud menaikkan daya, selalu kena biaya tambahan. Padahal, kebutuhan listrik terus meningkat, baik bagi rumah tangga maupun untuk menjalankan usaha skala rumahan alias usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dengan penyederhanaan golongan listrik, kelak daya 1.300 VA ke atas akan didorong naik menjadi 5.500 VA. Hebatnya, kenaikan daya ini sama sekali tanpa dikenai biaya. Dari sini, pelanggan untung karena tidak perlu merogoh kocek untuk tambah daya. Sebaliknya, PLN pun demikian. Jualan setrumnya jadi laris-manis. Pada saat yang sama, pemerintah juga untung. Minimal, kalau yang listriknya naik daya adalah UMKM, maka akan ada tambahan tenaga kerja yang terserap. Di akhir tahun Pemerintah bakal memperoleh pajak. Tentu saja, kalau bisnis si UKM tadi bergulir manis dan berbuah laba.

PLN lebih pe-de

Di tangan Sofyan yang mantan bankir senior ini, PLN kini memang makin pe-de alias percaya diri. Buktinya, dia berani menawarkan program tambah daya. Hal ini dimungkinkan karena kapasitas instalasi listrik sudah mencukupi.

Sampai Januari 2015, kondisi kelistrikan sistem besar saat beban puncak di beberapa daerah memang masih defisit. Beberapa wilayah itu antara lain Sumatera Bagian Utara (-7%), Tanjung Pinang (-23%), Lampung (-34%), Sulawesi Utara-Gorontalo (-10%), dan Jayapura (-4%).

Tapi sejak September 2017, tidak ada lagi defisit listrik. Di sejumlah daerah bahkan memiliki cadangan daya di atas 30%. Mereka yang surplus listrik di atas 30% itu antara lain Nias, Tanjung Piinang, Khatulistiwa, Mahakam, dan Ambon.

Kapasitas instalasi listrik yang terdiri atas pembangkit listrik, transmisi, gardu induk, dan trafo distribusi memang kian membaik. Itu artinya tidak ada lagi alasan membatasi konsumen memakai listrik. Lewat program ini, kelak konsumen lebih leluasa dalam memanfaatkan listrik sesuai kebutuhannya, kapan saja, dengan peralatan listrik apa saja.

Kabar bagusnya, konsumen hanya membayar listrik sesuai yang dikonsumsi. Misalnya, empat perlengkapan listrik masing-masing digunakan selama empat jam pada waktu yang berbeda. Listrik yang dikonsumsinya mencapai 7,2 KwH atau ekuivalen Rp10.562. Begitu juga bila keempatnya digunakan di waktu yang sama, total konsumsinya tetap 7,2 KwH atau ekuivalen Rp10.562. Singkat kata, besarnya KwH tergantung pada lamanya peralatan listrik digunakan, bukan banyaknya peralatan listrik yang dipakai saat bersamaan.

Biaya tidak naik

Program penyederhanaan golongan listrik hanya berlaku konsumen rumah tangga. Tapi pelanggan 450 VA dan 900 VA subsidi dan 900 VA nonsubsidi sama sekali tidak disentuh. Kelak, hanya golongan 1.300-5.500 VA yang akan disatukan menjadi 5.500 VA. Sedangkan golongan 6.600 VA ke atas akan _loss stroom_. Di atas semua itu, program tambah daya sifatnya _voluntary_ alias sukarela. Yang mau saja. Yang tidak mau, ya tidak harus ikut.

Bagaimana dengan tarif listriknya? Pasti bakal naik! Hehehe… jangan khawatir. PLN menjamin tidak akan ada kenaikan tarif listrik dari naiknya daya tersambung. Harga yang dibayar akan tetap sama per KwH-nya. Lagi pula, asal tahu saja, kendati selama ini ada sedikitnya sembilan jenis golongan listrik, untuk golongan 900 VA ke atas tarifnya sama, yaitu Rp1.467,28/KwH.

Khusus untuk golongan 900 VA nonsubsidi tarifnya lebih murah, yaitu Rp 1.352/KwH. Sedangkan golongan 450 VA dan 900 VA yang disubsidi, masing-masing tarifnya Rp415/KwH dan Rp586/KwH.

Sampai di sini persoalan salah persepsi publik (boleh saya sebut begitu?) pun muncul. Jangan-jangan publik bakal dikenai biaya tambahan atas penyederhanaan golongan listrik tadi? ”Tidak ada biaya tambahan atas tambah daya menjadi 5.500 VA. Gratis!” tukas Sofyan mantap.

Ok, tambah daya memang tidak kena biaya. Tapi, kalau dayanya makin tinggi, kan biaya abonemen alias batas pemakaian minimum jadi membengkak. Begitu kekhawatiran lain yang menyeruak. Menariknya, biaya abonemen juga tidak naik. Pelanggan tetap membayar seperti besaran rekening minimum di daya awal. Kalau sebelumnya 1.300 VA, setelah naik jadi 5.500 VA abonemen yang dibayar tetap di 1.300 VA.

Yang pasti, kenaikan daya ini bakal menguntungkan konsumen. Antara lain, bisa dapat memakai lebih banyak peralatan listrik secara bersamaan sehingga lebih nyaman. Sebelumnya harus menggilir pemakaian pompa air, _rice cooker_, mesin cuci, AC, pemanas air, _microwave_ dan lainnya pada waktu berbeda karena daya listrik terbatas. Kelak, jurus akrobat seperti itu tidak diperlukan lagi. Berbagai perlengkapan listrik itu bisa digunakan secara bersamaan. Bahkan, konsumen juga tidak perlu mengeluarkan ongkos tambahan dengan tarif yang lebih mahal saat menambah daya sementara untuk keperluan hajatan atau pesta.

Batas daya lebih besar dari kebutuhan normal juga mengurangi gangguan kerusakan MCB. Selain itu, variasi suku cadang MCB lebih sedikit sehingga lebih hemat dan lebih cepat bagi PLN dalam melayani konsumen.

Tetap bijak dan produktif

Penyederhanaan golongan lisitrik dengan segala manfaatnya tadi memang bakal membuat konsumsi listrik melonjak. Saat ini, konsumsi per kapita listrik nasional hanya 900 kWh per tahun. Ini termasuk rendah di ASEAN. Hanya di urutan ke-5 setelah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Jika program sukses, bukan mustahil angkanya bakal loncat menjadi 1.500 kwh per tahun per kapita pada dua tahun ke depan.

Sebagian orang mungkin akan mengatakan program tersebut paradoks dengan slogan hemat energi yang dikampanyekan. Pada titik ini, prilaku bijak konsumen tetap dibutuhkan. Program naik daya ke 5.500 VA memang gratis. Tarif dan abonemen pun tidak berubah. Kendati begitu, konsume tetap diminta memakai listrik secara efektif. Gunakan listrik untuk keperluan produktif yang dapat menambah penghasilan rumah tangga.

Sayangnya, seabrek manfaat program ini belum bisa buru-buru dinikmati. Ada sejumlah langkah persiapan sebelum akhirnya bisa dieksekusi. Yaitu, meliputi sosialisasi mekanisme dan manfaat program, penyiapan formulir/aplikasi pendaftaran, penyiapan MCB, dan penyiapan petugas penggantian MCB. Yang tidak kalah penting lagi, penyiapan regulasi pelaksanaannya. Jika tahapan-tahapan ini bisa mulus dilalui, barulah program bisa direalisasi.

Salah judul?

Tapi, prosedur dan tahapan panjang itu sebenarnya bisa dipangkas kalau saja sejak awal Pemerintah dan PLN bisa lebih royal dalam menebar informasi kepada publik. Selain itu, satu ‘kesalahan’ cukup fatal yang dibuat keduanya adalah, program ini dilabeli dengan sebutan “program penyederhanaan golongan listrik.”

Label ini rawan memantik silang-pendapat, bahkan penolakan. Terlebih lagi dalam suasana ‘murung’ seperti saat ini. Daya beli menurun, harga-harga terus merangkak naik, lapangan kerja terbatas, terjadi fenomena deindustrialisasi yang berujung pada gelombang PHK massal, ekonomi tumbuh tidak beringsut jauh dari lilma koma nol sekian persen, dan persepsi negatif lain terhadap pemerintah. Keruan saja judul program tadi membutuhkan penjelasan panjang-lebar yang, sayangnya lagi-lagi, terkesan lambat disampaikan.

Kegaduhan mungkin bisa dihindari kalau saja Pemerintah dan PLN memberi judul yang lebih ringkas dan langsung ke pokok tujuan. Misalnya, ‘program tambah daya gratis.’ Frase _program tambah daya gratis_ jelas lebih seksi di telinga publik ketimbang _penyederhanaan golongan listrik_. Ditambah embel-embel ‘gratis’ tentu jadi jauh lebih menarik lagi. Siapa, sih, yang tidak mau barang gratisan? Bukankah inti dari program penyederhaan golongan listrik adalah tambah daya gratis?

Pada frase _penyederhanaan golongan listrik_, publik lebih awam. Jangankan soal penyederhanaan golongan, _lha wong_ ‘golongan listrik’ saja bisa jadi sebagian besar baru tahu. Kata ‘golongan’ itu sendiri sudah menunjukkan pengkelas-kelasan. Nah, di tengah ‘suasana kebatinan’ seperti sekarang, segala hal berbau kelas dan pengkelas-kelasan sangat rawan bakal memicu _prejudice_.

Pemilihan judul yang tepat, bisa sangat membantu menggapai sasaran yang diinginkan tanpa energi habis untuk perkara-perkara yang tidak perlu. Ditambah dengan konten penjelasan dan komunikasi publik yang ciamik, rasanya bakal lebih mulus. Coba simak baik-baik frase ini; _program tambah daya gratis_. Gimana? Lebih asyik, kan? (*)

Jakarta, 20 November 2017

Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for economic and Democracy Studies (CEDeS)




Pekerjaan Menteri ESDM: “Buru Harta Kekayaan dengan Jual Aset Negara”

PEKERJAAN MENTERI ESDM “Menjual Kekayaan Negara, menjual aset BUMN, Untuk Memperkaya Taipan dan Asing”

Berikut kebijakan dan langkah Kementrian ESDM dalam memburu harta kekayaan :

1. Mengobral ladang minyak kepada asing. Sekitar 85 persen kontrak migas akan berakhir dan dapat diperpanjang semuanya pada tahun terakhir 5 tahun pemerintahan Jokowi.

2. Melakukan superholding BUMN energi yakni PLN, Pertamina dan PGN sebagai alat untuk mobilisasi utang BUMN. Utang merupakan sumber pembiayaan mega proyek. Mega proyek adalah bancakan oligarki penguasa untuk memperkaya diri.

3. Melakukan IPO BUMN energi, menjadikan BUMN energi yakni PLN, PGN dan Pertamina sebagai perusahaan terbuka. Ini adalah langkah privatisasi BUMN energi. BUMN Energi untuk menjadi ajang rebutan oligarki penguasa.

4. Melakukan privatisasi penuh terhadap BUMN pertambangan seperti PT Antam, PT.Timah, PT. Bukit asam untuk diserahkan kepada taipan dan asing.

5. Memuluskan jalannya penjualan saham Newmont kepada taipan dan asing. Seharusnya saham Newmont jatuh ke tangan negara atau BUMN sebagaimana Kontrak Karya (KK), UU Penanaman Modal dan UU Minerba. Faktanya saham Newmont telah jatuh sepenuhnya ke tangan Taipan.

6. Melakukan rekayasa licin dan bulus dalam dalam negosiasi Freeport sehingga menguntungkan swasta dan asing. Rekayasa mencakup perubahan KK menjadi IUPK, perpanjangan jangka waktu ekspor Freeport, Perpanjangan kontrak tambang Freeport, pengabaian batas waktu pembangunan smelter Freeport, keringanan pajak Freeport, dan manipulasi divestasi saham 51% Freeport.

7. Memperlemah BUMN energi dengan berbagai cara. Intinya BUMN harus lemah, sehingga mudah dijadikan bancakan oleh taipan dan asing. Selanjutnya lini bisnis BUMN akan diambil alih oleh taipan dan asing.

Langkah langkah di atas berkaitan dengan setoran berbagai pihak yang diuntungkan kepada oligarki penguasa. Karena penguasa sedang butuh setoran banyak. Itulah mengapa sekarang BUMN Pertambangan dan Energi sekarat, tapi penguasa kaya raya. Mau pesta tiap hari juga bisa.

Oleh: Pengamat Ekonomi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng.




Jelang Rapat OPEC, Harga Minyak Naik Jadi $ 56,57 Per Barel

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Pasar minyak hangat pada hari Senin (20/11/2017), karena pedagang enggan mengambil untuk besar menjelang pertemuan OPEC akhir bulan ini.

OPEC diperkirakan akan memutuskan apakah akan melanjutkan pengurangan produksi yang ditujukan untuk menopang harga,” ujar reuters pagi ini.

Harga minyak mentah Brent LCOc1, patokan internasional berada di kisaran $ 62,46 per barel pada pukul 00.52 GMT, turun 26 sen atau 0,4 persen dari harga penutupan terakhir mereka.

Minyak mentah berjangka A.S. West Texas Intermediate (WTI) berada di $ 56,57 per barel, naik 2 sen. Menruut pedagang mereka menghindari posisi baru yang besar karena ketidakpastian di pasar.

OPEC dan non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia, telah menahan produksi sejak awal tahun ini dalam upaya mengakhiri pasokan global dan harga melambung.

Kesepakatan mengekang output akan berakhir Maret 2018, namun OPEC akan bertemu pada 30 November untuk membahas prospek kebijakan tersebut.

OPEC diharapkan menyetujui perpanjangan pemotongan karena tingkat penyimpanan tetap tinggi meski ada penarikan baru-baru ini, ada keraguan tentang kemauan beberapa peserta untuk terus mengerut produksi.

Greg McKenna, kepala strategi pasar pada broker berjangka AxiTrader pagi ini mengatakan bahwa “perlu dicatat data menunjukkan lebih banyak komunitas spekulatif”, yang mengindikasikan ekspektasi kenaikan harga.

Meskipun demikian, bank ANZ mengatakan “investor tetap waspada terhadap berita tentang langkah OPEC memperpanjang pengurangan produksi”. (dewi)




Harga Minyak Internasional Naik 66 Sen Dolar AS

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Harga minyak internasional naik Jumat (17/11/2017), namun masih berada di jalur seminggu ini karena kekhawatiran kelebihan pasokan, karena tanda-tanda kenaikan output A.S. diperparah keraguan Rusia mendukung OPEC memperluas pembatasan produksi.

“Rebound akhir minggu membantu cakar sektor energi,” kata pialang minyak PVM hari ini kepada reuters.

Benchmark Minyak mentah Brent LCOc1 naik 66 sen menjadi $ 62,04 per barel pada pukul 1400 GMT, pulih beberapa titik setelah lima sesi kerugian. Minyak mentah A.S. mencapai tiga hari tertinggi, meningkat lebih dari $ 1 sebelum turun kembali ke $ 56,08, 94 sen naik pada hari itu.

Kebocoran minyak 5.000 barel di South Dakota – yang menyebabkan TransCanada Corp (TRP.TO) menutup bagian dari sistem pipa Keystone pada hari Kamis – ditambahkan ke nada bullish, kata PVM. Namun harga masih di jalur turun antara 2 dan 3 persen sejak akhir pekan lalu, karena kekhawatiran kelebihan pasokan di Amerika Serikat membebani.

Produksi minyak A.S. C-OUT-T-EIA mencapai rekor 9,65 juta barel per hari (bpd) bulan ini, yang berarti output A.S. meningkat hampir 15 persen sejak pertengahan 2016. Badan Energi Internasional mengatakan pada Kamis, Amerika Serikat akan mencapai 80 persen dari kenaikan global dalam produksi minyak selama 10 tahun ke depan.

“Mari berasumsi produksi minyak A.S. terus berlanjut ke atas lintasannya. Mereka bisa mencapai 10 juta bph pada akhir 2017, “kata Matt Stanley, broker bahan bakar di Freight Investor Services (FIS) di Dubai.

Tanda-tanda kenaikan produksi minggu ini di Amerika Serikat telah mengurangi dampak kesepakatan membatasi produksi disepakati OPEC, Rusia dan beberapa produsen lainnya. Pengeluaran pada produksi minyak telah menopang harga, Brent di atas $ 64 minggu lalu ke level tertinggi yang tidak terlihat sejak tahun 2015.

“Potensi upside ditutup oleh kekhawatiran kelebihan pasokan yang didorong oleh lonjakan produksi minyak mentah A.S.,” kata PVM.

Perjanjian tersebut berakhir Maret lalu dan diperkirakan diperpanjang pada pertemuan OPEC berikutnya pada 30 November. Namun, tanda-tanda dukungan Rusia mungkin goyah setelah menyuntikkan ketidakpastian dan merongrong rally baru-baru ini.

Jefferies Bank Investasi A.S. mengatakan dukungan Rusia meresmikan perpanjangan “dipertanyakan, bahkan hanya menunda keputusan” sampai kuartal pertama 2018. (oca)




Masyarakat Khawatir Terkait Penyederhanaan Sistem Tarif Listrik

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Rencana kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) yang akan menyederhanakan sistem tarif listrik dengan daya minimal 5.500 VA; membuat masyarakat konsumen listrik mengalami kebingungan, marah bahkan shock.

“Konsumen sangat khawatir sistem tarif baru tersebut akan melambungkan tagihan listriknya,” seperti disampaikan Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi melalui keterangan tertulis kepada citraindonesia.com, di Jakarta, Kamis (16/11/2017).

Menurutnya, meskipun Kemen ESDM dan bahkan Dirut PT PLN menjamin bahwa kebijakan ini bukan merupakan kenaikan tarif, namun jaminan itu masih sangat meragukan jika dilihat dari beberapa indikator.

Pertama, benar bahwa rupiah per kWh-nya sama dan tanpa abonemen, tetapi pemerintah menggunakan formula baru yakni pemakaian minimal. Dari formulasi pemakaian minimal inilah tagihan konsumen berpotensi melambung. Sebagai contoh pemakaian minimal untuk 1.300 VA adalah 88 kWh (Rp 129.000), sedangkan 5.500 VA pemakaian minimal 220 kWh, atau sekitar Rp320.800.

Kedua, perubahan daya yang signifikan akan mengakibatkan konsumen harus mengganti instalasi dalam rumah. Dan artinya konsumen harus merogoh kocek untuk hal tersebut. Tanpa mengganti instalasi maka membahayakan bagi instalasi konsumen. Dan konsumen harus melakukan Sertifikasi Laik Operasi (SLO) ulang dan itu dibayar konsumen, dan biaya SLO untuk golongan 5.500 jauh lebih mahal.

Ketiga, penyederhanaan tarif ini akan mengkibatkan perilaku konsumtif/boros dari konsumen listrik. Akibat aliran listrik yang loss stroom, konsumen berpotensi tak terkendali dalam menggunakan energi listriknya. Dan hal ini tidak sejalan dengan kampanye hemat energi dan hemat listrik yang dilakukan pemerintah.

Tulus menjelaskan, dari sisi hulu kebijakan penyederhaan tarif lebih dikarenakan over supply energi listrik. Akibat pemerintah getol membangun pembangkit 35.000 MW, PT PLN mengalami over supply energi listrik.

“Apalagi diduga PT PLN terjerat take or pay listrik swasta (IPP). Atas dampak over supply dan take or pay dari IPP itulah kemudian bebannya ditransfer ke konsumen rumah tangga,” tandasnya.

Selain itu, katanya, upaya untuk meningkatkan penjualan listrik pada konsumen juga berpotensi tidak tercapai mengingat daya beli konsumen yang masih lemah. Apalagi faktanya konsumsi energi listrik di Indonesia terbukti masih rendah, rata-rata hanya 630-an kWh per tahun per kapita.

Bahkan kebijakan penyerderhaan tarif listrik, jelasnya, sebenarnya merupakan bentuk kepanikan pemerintah akibat melambungnya subsidi elpiji 3 kg yang terus melambung hingga Rp20 triliun.

“Dengan sistem baru ini konsumen didorong beralih ke kompor listrik untuk aktivitasnya. Harapan ini sulit tercapai karena konsumen harus menyiapkan/membeli kompor listrik sendiri,” imbuhnya.

Sementar, sambungnya, apalagi konsumen belum terbiasa menggunakan kompor listrik. Jadi konsumen tetap akan menggunakan gas elpiji 3 kg. Kegagalan pemerintah dalam mengawasi penjualan gas elpiji 3 kg lagi-lagi dibebankan pada konsumen listrik.

“Lebih urgen bagi pemerintah untuk mempercepat ratio elektrifikasi ke pelosok Indonesia bagian timur yang saat ini masih rendah, dan memperbaiki keandalan listrik di daerah yang masih banyak byar pet; daripada melakukan penyederhaan tarif listrik,” tutupnya. (pemi)