Home Indonesian Way Tidak Ada Proyek, Tidak Ada Kegiatan

Tidak Ada Proyek, Tidak Ada Kegiatan

312
Presiden Gus Dur (kiri) dan Menteri Marzuki Usman (kanan). Foto olo.

Oleh : Marzuki Usman

Peristiwanya, barusan terjadi dalam bulan Maret 2014. Penulis diundang oleh sahabat karib untuk menghadiri resepsi pembukaan hotel barunya di salah satu pulau yang eksotik di bumi Indonesia. Tidak kepalang tanggung, sahabat karib ini mengundang juga para orang kaya alias konglomerat Indonesia untuk ikut mensyukuri dibukanya hotel baru berkelas Internasional di tanah kelahiran dari pada si pemilik hotel itu. Ternyata diantara teman-teman itu, terdapat enam orang kaya Indonesia, menurut Majalah Forbes Indonesia.

Acara pembukaan ini lengkap dihadiri oleh : Menteri, Bapak Gubernur, Bapak Bupati, dan Bapak-bapak pejabat-pejabat lain dari Provinsi dimana hotel baru itu berada. Bahkan dihadiri pula oleh seorang Wakil Gubernur dari Provinsi lain, yang beliau ini juga sehabat dari pemilik hotel itu. Walhasil pestanya meriah dan memuaskan, dan berjalan dengan baik, meskipun untuk melaksanakan pesta ini, semua sumber daya ekonomi yang berada di pulau itu dipakai untuk mensukseskan pesta ini.

Bapak Gubernur menaruh harapan besar dengan dimulainya dibangun hotel berbintang di pualu ini, akan menarik para investor domestik dan manca negara berlomba untuk berinvestasi di sektor pariwisata. Diharapkan pada gilirannya akan menambah jumlah turis domestik dan turis manca negara berkunjung ke pulau ini.

Kenapa demikian? Karena pulau ini banyak memiliki keunikan-keunikan yang bersifat endemik. Artinya objek itu, seperti batu-batuan, taman-tamanan, bahan tambang, keindahan lainnya, dan sebagainya, hanya ada disitu saja di dunia ini. Bahkan di pulau ini turis-turis bisa menyaksikan pelangi lebih dari satu. Bahkan kalau turis lagi bernasib baik, dia bisa menyaksikan Pelangi kembar tiga diatas langit di pulau ini?

Keesokan harinya, oleh si empunya hotel para tamu diajak naik kapal bertamasya menikmati keindahan lautnya yang bening, jernih dan membiru, yang dihiasi oleh batu-batuan meteorit yang tersebar dimana-mana. Dan, tidak ayal lagi dihiasi dengan pemandangan ikan-ikan yang berloncat-loncatan. Disertai dengan angin laut yang sepoi-sepoi basah.

Dan, kemudian para tetamu diajak mendarat di pulau kecil, dimana berdiri Mercu Suar, yang juga rupanya tempat penyu-penyu menitipkan telur-telurnya. Menarik untuk dicatat, ternyata Mercu Suar itu dibangun 130 tahun yang lalu oleh pemerintah Kolonial Belanda.

Penulis membatin andaikata Indonesia tidak dijajah oleh Belanda, apakah mungkin kita memiliki mercu suar dimana-mana, di Nusantara ini? Ketika penulis bertanya kepada si penunggu mercu suar itu, kira-kira ada berapa jumlah mercu suar yang dibangun oleh Republik setelah Merdeka. Dia jawab, sekitar 20% saja?

Lebih menarik lagi, menurut kepala SKPD Pariwisata dari kabupaten itu, beliau mengeluh sebagai berikut. Dari pihak penguasa pusat, mungkin Kementerian Perhubungan, dan atau Kementerian Kehutanan, perahu motor dan kapal-kapal dilarang berlabuh ataupun lego jangkar di dekat pulau itu. Inilah hambatan kenapa turis-turis tidak berdatangan ke pulau ini, karena tidak boleh dibangun pelabuhan. Di depan pulau ini, ada lagi pulau kecil yang jaraknya sekitar 100 meter saja dari pulau mercu suar.

Lalu penulis mengusulkan, bagaimana kalau di dekat pulau kecil itu ditaruh tongkang dan lego jangkar. Dengan demikian tidak dibangun pelabuhan, tetapi kapal-kapal dan perahu motor dapat menurunkan turis di tongkang itu. Kemudian pakai perahu rakyat yang didayung ke pulau kecil, dan setelah itu pakai perahu dayung lagi ke pulau mercu suar. Jadi pulau-pulaunya tetap lestari, demikian dengan lautnya.

Aneh tetapi nyata, di kepala SKPD ini tidak menyambut ide ini dengan antusias. Pada hal dia tidak akan mengeluarkan biaya apa-apa, tetapi tujuan untuk meramaikan pulau mercu suar dengan para turis-turis dapat tercapai. Keheranan penulis ini, lalu dapat dijawab oleh seorang aktivis LSM yang peduli kepada kelestarian alam. Dia berkata, iya Bapak, ide Bapak adalah bagus sekali. Tetapi, si kepala SKPD Pariwisata itu tidak berbahagia. Kenapa? Karena dia tidak bisa memiliki proyek. Hal ini berarti kalau tidak ada proyek berarti tidak akan ada kegiatan. Dan, lalu dia akan mendapat apa? Atau bahasa terangnya dengan usul bapak itu, si SKPD bertanya, Gua Dapat Apa, alias GDA?

Kesimpulannya, kalau prilaku para birokrat Indonesia kebanyakan seperti ini, maka pertanyaannya, kapanlah Indonesia ekonominya bisa menyusul RRC? Jawabnya seperti di pesantren-pesantren, “Wallahuaklan bissawab!” Artinya, Allah yang lebih tau?

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar