Home Breaking News “Terbukti Memuliakan Petani, Jokowi- Amran Sulaiman Capres dan Cawapres Tahun 2019-2024!”

“Terbukti Memuliakan Petani, Jokowi- Amran Sulaiman Capres dan Cawapres Tahun 2019-2024!”

452
Mentan Andi Amran Sulaiman (kiri) dan Presiden Jokowi (kanan).

Bak pepatah jadoel. “Tak kenal maka tak sayang”. Tanpa kita sadari, pepatah itu benar adanya. Misalnya, ketika kita dengan sadar 100% dan mengamati secara cermat lakon- demi – lakon sesosok pria bernama Andi Amran Sulaiman. Yang menurut hemat penulis bahwa sosok menteri paling unik dan energik. Oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi, ditunjuk sebagai Menteri Pertanian RI kabinet Kerja periode 2014-19. Keputusan sangat tepat!

Di mata penulis, dia (Amran), adalah Menteri Pertanian RI terhebat yang pernah ada sejak Repelita Lima, tepatnya mulai pada Kabinet Pambangunan III Tahun 1978- 1983 era Presiden Soeharto- Adam Malik. Di mana para Mentannya Pak Harto, seperti Soedarsono Hadisapoetro (1978- 1983), Ir. Achmad Affandi (19 Maret 1983-22 Maret 1988), Wardojo (1988–1993), Sjarifuddin Baharsjah (1993- 1998), karir dan kinerjanya tidak se-konclong kinerja Andi Amran Sulaiman.

Buktinya, tidak ada menteri yang mampu mengagkat harkat negeri ini dalam menciptakan eksport komoditas pertanian kita. Bahkan hingga masuk pada era Presiden BJ Habibie, Presiden Megawati. Era Presiden SBY, Kementan RI menjadi bulan- bulanan media, akibat sindikat importasi Daging Sapi. Dan tahun pertama dan kedua kabinet Jokowi- JK, kita masih mengalami ketergantungan ekspor bahan pangan, kita harus mengemis- ngemis, kita bagai Tikus Mati di Lumbung Padi, kita kekurangan bahan pangan, mulai dari beras, bawang merah- putih, cabai, ikan meski kita negara bahari dengan bibir pantai terpanjang kedua di dunia setelah Denmark, sayuran lainnya, buah- buahan, jeruk, lemon, apple- dan bahkan kancing baju kita harus import. “Artinya hampir semua hajat yang kita buang setiap hari termasuk air buatan asing- padahal produk itu ada di sini, Mata air itu ada di sini, tapi milik asing, bumi pertiwi tercinta ini menangis loh. Tapi memasuki tahun ketiga Kabinet Kerja Jokowi-JK, lewat tangan dingin Andi Amran Sulaiman, Pemerintahan Presiden Jokowi- JK, sektor pertanian negeri ini khususnya mulai ditata oleh Andi Amran Sulaiman- dia mulai berevolusi. Alhamdulillah. Lambat laun, philing Presiden Jokowi menunjuk Andi Amran Sulaiman adalah sangat tepat dan jitu. Negeri kita kini menjadi negara eksportir. Walaupun angkanya baru seuprit. Tetapi sudah start up.

Bertolak dari itu, sebagai bangsa yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia, kita harus mengapresiasinya. Itulah pahlawan kusuma bangsa kita, yang berhasil membangkitkan semangat para petani kita, yang selama ini oleh pendahulu kita membiarkan negeri subur nan kaya raya ini mangkrak gak karuan karena para decicion maker kita terbius dengan luar negeri minded untuk berkipas- kipas bagai tukang Jagung Bakar, “jagungnya impor pula?” Jadi sebagai bangsa kita harus bertanya kepada dirikita sendiri. “Apa yang sudah kau sumbangkan kepada negeri ini. Jadi jangan pernah bertanya apa yang akan kau dapatkan?

Namun mohon maaf bila kami salah menafsirkan. Bahwa sejak hampir 40 tahun, dari Kabinet Pembangunan III, para pengambil kebijakan negeri tercinta ini boleh dikatakan hanya duduk sembari melek di kursi goyang di belakang meja, berpakaian mahal, nyentrik, sepatu mengkilap dan pelayan super cantik- artis- artis muda hingga nikah siri dan kini menjanda setelah si menteri berpulang ke berpulang keharibaannya untuk selamanya. Pendeknya mereka hanya menerima laporan ABS, tapi komisi paling tebal. Proyek pat gulipat, korupsi merejalela. Anak istri bisa lebih lebih hebat dari peran presiden, anak -istri bisa lebih hebat dari menteri dan lainnya. Akibatnya pemerintahan tidak berjalan semestinya, semua serba tidak terkendali atau serba tidak terkontrol bagai “Katak di bahwa tempurung”. Rakyat prustrasi, timbul kesenjangan sosial, lahir genarasi bangsa pemalas yang pada akhirnya lahir peristiwa Trisakti, dan Soeharto Tumbang. Bagai membuat kesadaran bagi mereka bahwa Indonesia itu ternyata luas dan orangnya ratusan juta jiwa.

Kemudian pemerintahan jatuh ke tangan BJ Habibie yang Wapres Pak Harto, tapi tidak bisa berbuat banyak- kabinetnya hanya 1 tahun saja, kabinet tersingkat dalam sejarah negeri ini setelah 32 tahun Soeharto. Kemudian paketan GusDur- Megawati Soekarnoputri naik tahta. Tapi sektor pertanian ini tak juga bergaung. Malah importasi bahan pangan terus membanjiri, mendistorsi masar dalam. Industri hingga Petani terpuruk, dihantam barang- barang selundupan dan bahkan abal- abal.

Lantas berikutnya Persiden SBY- JK hingga SBY – Boediono naik tahta jadi orang nomor wahid negeri. Juga nasib Petani dan soal stabilisasi pangan tak bisa diatasi, Bawang Putih  misalnya, sempat tembus Rp130,000/Kg, vabai Merah Rp150,000/Kg, beras impor jor-joran, Gula pun demikian. Membuat kegalauan petani kian memuncak, al kisah, ribuan Petani Temu Indonesia ramai- ramai berunjuk rasa di Istana Negara, Kemenperin, Kemendag, menunpahkan ratusan KG gula hasil produksinya saat itu. Kondisi itu menjadi sorotan lembaga pangan PBB yakni World Food Forgramme.  Namun pemerintah terkesan cuek bebek “biar anjing menggonggong tapi kafilah tetap berlalu”. Contoh kelam wajah negeri ini dari sisi urusan perut petani dan rakyat Indonesia pada umumnya.

Namun diera Repvolusi mental dan Nawa Cita, Pemerintahan Presiden Jokowi- JK ini mendaulat dan melantik pria berdarah Bugis Makassar, Andi Amran Sulaiman menjadi pilihan utama untuk mengutak-atik sektor pertanian ke arah yang lebih baik atau harus di- start up. Dan berbekal tulus dan ikhlas menerima amanat Kepala Negara untuk diejawantahkan di lapangan,  sebagai sosok anak daerah Sulsesl, Andi Amran Sulaiman melangkah dengan Bismillah, dia tampak PD. Fakta tak terbantahkan. Dia mampu mengaplikasikan antar sistem, birokrasi, koordinasi lintas lembaga negara dan stake holders terutama para petani, sehingga ide- ide brilliant dari Kepala Negara bisa dieksekusi dengan cepat dan tepat. Kita sekarang tinggal menunggu tambahan pundi- pundi devisi dari sektor ini seberapa besar hasilnya nanti. Jalan sudah dibuka oleh Pak Amran Sulaiman.

Menjadi catatan dalam lembaran negara! Program eksportasi berbagai komoditas hasil pertanian adalah sebuah hadiah terindah bagi negeri ini ketika mereyakan HUT RI ke-72 tepat 17 Agustus Tahun 2017. Hadiah itu meluncur dari tangan dingin sesosok Andi Amran Sulaiman yang selama ini dibantu oleh tim kerjanya di Kementan RI. Di mana penulis, sosok Amran ini menjadi seorang kebanggaan dan pahlawan kesuma bangsa. Dia pemberani karena ketulusannya. Dia berani menabuh genderang PERANG STOP IMPORTASI produk pangan ke negeri tercinta ini. Jangankan untuk produknya, untuk bibit pun Amran melarang keras diimportasi. Karena Amran barangkali tahu betul, bahwa anak- anak bangsa ini juga banyak yang pintar dan bisa diandalkan dalam hal inovasi baik itu pembibitan hingga penemuan benih- benih unggul. Amran pun tampak memiliki komitmen sangat kuat untuk mendorong program eksportasi komoditas pertanian keberbagai negara peminatnya. Dan itu terbukti…. bukan sekedar omong doang (Omdo) seperti dilakoni para menteri lainnya yang banyak bergelar embel- embel di belakang namanya, tapi kinerja jeblog. Ingat kawan! Meski masih sangat kecil volumenya eksportnya, seperti Beras, Bawang Merah, hingga buah – buahan akan menyusulnya, tetapi Amran telah menancapkan Tiang Bendera Merah Putih untuk mendorong rempah- rempah kita merambah pasar eksport di luar negeri. Lagi pula banya negara sahabat yang sudah kulonuwun kepada Pak Amran untuk bersidea menjadi mitranya, artinya negara asing ingin mengimpor produk kita.

Kemudian, program Jokowi yang melakukan conter trade pembelian Pesawat Tempur untuk memperkuat regu tempur TNI Angkatan udara yang ditukar dengan komoditas pertanian, menjadi efek sangat positif bagi dunia pertanian kita ke depan, karean volume dan nilainya sangat besar. Itu yang harus kita catat bersama. Maka instansi terkait, rakyat dan stake holders harus mendukungnya. Dan rakyat pasti sangat senang karena hidupnya makin makmur. Inilah contoh sosok dambaan rakyat untuk menakhodai sektor pertaian yang tidak pernah kita temukan sejak era orde baru dan baru kita temukan sekarang ini.

Dan barangkali. Andi Amran Sulaiman ini juga penggemar berat Koes Ploes tahun 2970-an. Di mana penggalan bait- bait syair lagunya: “Orang bilang tanah kita tanah surga – tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Yang artinya, tak perlu kau tanam buah atau sayuran di ladang atau pagi di sawah. Buang sembarangan saja bibitnya di mana- mana atau belakang rumah pasti tumbuh. Pada waktunya kau tinggal memetiknya. Itulah gambaran suburnya tanah negeri tercinta yang kita menafikan selama ini karena larut dengan tingkahpolas bangsa asing.

Tetapi itulah manusia, yang serba tidak sempurna dan suka labil. Kesempurnaaan itu hanya Allah dan Rasulullah SAW. Ketika para pemimpin negeri ini tidak suka seni, akhirnya semua kaku. Dulu itu kan penyanyi saja tidak bisa membuat sair lagi yang menyinggung peranan rezim, apalagi berpolitik. Semua bisa berabe berantakan, atau bahkan ngambang di jembatan Ancol bersama para penghuni yang tidak kakainya kalau berjalan tidak menginjak tanah. Al hasil semua berantakan. Pertanian jadi lahan pertokoan, real estate, pabrik mencemarkan lahan hingga pemukiman, inpironment amburadul, lahan pertanian tercemar kimia, ikan dan ternak mati yang pada akhirnya nasib para petani jadi ewes- ewes, menjadi buruh tani di desanya, hidup nelongso, kalaupun ada yang masih memiliki lahan pertanian atau sawah, mereka sudah diijon oleh para toke. Miris memang. Inilah yang harus diejawantahkan dan diera revolusi mental Presiden Jokowi ke depan agar nasib rakyat ini tidak dimarginalkan lagi, tapi harus kita start up agar ke depan mereka lebih berdaya saing dan kita bisa menjadi negara lumbung pangan dunia.

Bahwa penulis yakin betul di era Jokowi- JK, paham betul apa yang sudah diderita rakyat khususnya para Petani selama lebih dari 40 tahun lamanya. Di mana, sesuai arahan Jokowi, Pak Mentan Andi Amran Sulaiman, mampu mengaplikasikan perintah atau amanatnya dengan baik, teratur dan terstruktur. Pola- pola lama itu sudah dibenamkan satu- persatu, biarkanlah itu menjadi kenangan pahit yang harus berujung manis bagai sinetron “sengsara membawa nikmat”. Penulis yakin Pak Amran dan jajarannya di Kementan RI, mampu membangun sektor pertanian ini secara terintegrasi bila didukung penuh oleh pimpinan lintas kementarian, TNI, Polri hingga Pemda- pemda seluruh Indoensia serta para stake holders, terlebih negeri ini persis membelah khatulistiwa yang tidak dimiliki negara lain. Makanya subur. Artinya ini tinggal kemauan kita untuk mengejar target paling tidak bisa mengikuti pola atau sistem pertanian negara- negara industri maju di dunia yang kaya dari sektor pertanian seperti di ASEAN misalnya, Malaysia (Sawit), Thailand (Beras- karet- lada), Vietnam (Beras, Kareta dan lainnya), China hampir semua komoditas hortikultura, negara kita salah satu pasiennya, AS (Anggur, gandum dll), Brazil (Can Cun kaya kebun horti), China (bawang, cabai dan sayur- mayur, buah- buahan) Turki (kaya bahan tepung yang kita import), Australia dan Selandia Baru raksasa peternakan Sapi dan penghasil Susu segar.

Fakta menunjukkan di mata penulis. Selain mampu mengimplementasikan amanat dari Istana Negara, Pak Amran Sulaiman ini sosok yang sangat setia. Sedikit bicara tapi banyak bekerja. Di mata saya, belua ini bagai sebatang Lilin- siap melebur demi membangun sektor pertanian ini. Maka beliau tepat jadi Mentan. Andai diberikan kesempatan menjadi Wapres, mendampingi Pak Jokowi pada tahun 2019-2024, saya bisa memastikan program pembangunan sektor pertanian ini sangat cepat perkembangannya.

Artinya bila pada hari ini komoditas pertanian seperti Bawang Merah berhasil diekspor ke Thailand, setara USD 8,5 juta atau Rp100 miliar, mungkin di dalam lima tahun ke depan, angkanya bisa naik 40 sampai 50 persen dan bahkan di tahun 2014 atau 2030, kinerja eksportasi hasil pertanian ini bisa mendunia, plus kita jadi lumbung pangan dunia. Petani kita otomatis jadi raja- jara di desanya, mereka makmur, mereka bisa sumringah- anak- anaknya bisa sekolah plus negara dapat devisa. Dan untuk komoditas lainnya, sebentar lagi Jagung dan Beras Merauke akan menyusul eksport. Inilah yang tidak bisa dilakukan para mentan- mentan sebelum Andi Amran Sulaiman. Itu kita harus garis bawahi. Untuk pola kerja seorang Amran Sulaiman, jargon Kabinet Kerja Jokowi-JK, kerja- kerja- kerja “Pas kopinya”. Itulah yang menginspirasi kami membuat tulisan pendek ini.

Dekat dengan para Petani :

Kaluar masuk sawah, kebun hingga desa demi desa terpencil nun jauh di sana, adalah kesehariannya. Amran bukan sosok menteri yang deman nangkring dan duduk santai di balik meja. Otaknya terus berjalan. Amran sosok menteri gemar blusukan seperti pimpinannya, Presiden Jokowi. Menurut para stafnya, gaginya hari libur atau hari kerja sama saja. Ada saja yang diutak- atik. Itulah sosok uniknya. Dia pekerja keras. Mungkin beliau tahu betul arti pribahasa : “Hari ini harus lebih baik dari hari esok”.

Cara dia mendekatkan diri dengan para petani juga sangat bagus dan humanis. Dia tak segan- segan berangkulan dengan para petani mana saja. Misalnya dalam acara Pemberian Penghargaan Mentan Tingkat Nasional 2017, di Swiss-Bell Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (15/8/2017) yang lalu, hati ini malah sempat terkesima mendengarkan stetmen Pak Amran Sulaiman ini.

Ini quotation-nya : “Cukup aku menderita dulu. Aku nginap saat Satya Lencana. Kita gabung 1 kamar 6 orang. Pulangnya (kepikiran) jangan-jangan terlambat. Foto lagi makin gemetar kita. Foto saat itu saya kejar sampai ke Istana, baru dapat. Fotonya kasi ke mereka (petani teladan). Bingkai bagus-bagus. Jangan ada yang pulang kalau nggak bawa foto. Kalau ngak ada uangnya, gaji saya Agustus sudah habis, September sudah habis, gaji Oktober dikasi ke mereka, kalau ngak ada uangnya gajinya Menteri diambil,” begitulah Amran menyemangati para petani binaannya sehingga mereka berprestasi sebagaimana diharapkan ke depan agar kita tidak selalu ketergantungan importasi pangan.

Lantas Amran berinteraksi dengan para petani layaknya antar teman sendiri. Misalnya terhadap seorang petani dan peternak Sapi asal Jayapura, Provinsi Papua bernama Karir. Mengaku mendapatkan bantuan dari pemerintah yang kemudian dikembangkan hingga berbuah laris- manis.

“Sebelumnya saya dapat bantuan. Terus saya kembangkan hingga sekarang sudah mencapai 70 ekor lebih, dari semula 18 ekor selama 5 tahun sejak 2012-2017,” jawab Karir kepada Mentan Amran.

Menanggapi hal tersebut, Mentan Amran mengapresiasinya seraya mengaku kagum dengan hasil dicapai Karir, beternak. Bahkan Mentan meminta pejabatnya untuk mencari orang-orang seperti Pak Karir itu.

Mendengar celotehan si Karir, Mentan Amran lantas berbunga- nunga hatinya. “Aku cari saja seperti Pak Karir Indonesia. Kalau ada Sapi sekitar 10 ekor per tahun, sementara kita butuh Rp10 juta berarti Rp100 ribu. Mentan minta Kepada Dirjen Kementan mencari 100 ribu orang seperti Pak Karir ini. Ngak usah teori. Ini aja dicopy paste. Kalau dipilih 100 ribu anak Indonesia dengan karakter seperti dia, Republik ini swasembada dan disegani dunia. Bayangkan penduduk 260 juta orang, klo tidak ada pilih seperti ini, mulai besok daftar, cari seperti ini. Aku butuh sapi bukan diskusi,” tantang Amran seraya berpesan.

Tak hanya kagum, bahkan Mentan pun tak segan-segan memberikan Pak Karir, sebuah traktor seharga Rp400 juta untuk digunakan mengangkut sapi hasil ternaknya.

“Kasi roda empat satu, kirim ke sana. Kalau dulu mendorong, sekarang bapak naik saja, jalan traktornya, kasi (seharga) Rp400 juta. Ini bisa menjadi teladan apa saja. Teladan pertanian, sikapnya, dan seterusnya. Tolong traktornya dikirim ya, surat-suratnya, kuncinya dibawa pulang. Bisa tinggal sampai kunci traktornya ada, kalau hangus tiketnya (Karir) bayarkan,” perintah Mentan kepada stafnya.

Selain itu, kinerja nyata dari Kementerian Pertanian dibawah kepimpinan Amran Sulaiman juga dirasakan seorang petani Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

“Yang menarik pertamama pembangunan bidang fisik di irigasi. Sebelumnya, Pak Menteri sudah datang pada pelerakan batu pertama. Kedua, peningkatan produktivitas padi pertama sekali dengan jajar rebo, selain itu ada traktor gratis (dari pemerintah),” ungkap petani tersebut tanpa menyebut namanya.

“Alsintan yang tentunya kita pertama sekali traktor, kombain (alat panen) sebagian masyarakat kami sudah menggunakan traktor. Dulu (1 traktor) sampai 20 orang per hektare, sekarang cukup 3 orang, dengan waktu sekitar 1-2 jam per hektare,” ungkap petani ini.

Mentan Amran pun mengapresiasi Pak Tani tersebut. Menurutnya, bantuan itu tentunya sangat membantu kinerja para petani di Desanya. “Beda (pengerjaan dengan fisik) 25 hari dengan 2 jam per hektar (menggunakan traktor) bisa dikerjakan 1 orang,” ulas Mentan.

Menurut Mentan, tanpa teknologi, negara ini tidak bisa swasembada dan bersaing dengan negara lain, harus mekanisasi, bibit unggul, san skil petani harus diasa.

“Jangan ada yang (merasa) hebat, yang hebat adalah kebersamaan. Tidak ada orang lahir di bumi ini, khususnya di Indonesia kecuali dengan kebersamaan. Mengapa orang jatuh, karena menganggap dirinya pintar,” terang Mentan mengingatkan.

Lanjut Mentan : “Orang biasa terhormat karena tahta, dia punya harta, ekonomi bagus, kemudian dia menjadi pemimpin. Ilmuwan kita biasanya kalau sudah pernah S1, sudah merasa hebat. Di situlah awal kehancurannya, yang hebat adalah yang menciptakan kita Allah,” lanjutnya.

Lantas Amran mencirikan kerendahan hatinya bagai di depan Allah YME : “Aku ngak pernah merasa hebat. Saya di sini mengatakan swasembada berhasil karena mereka (petani), bukan karena saya. Kami (Kementan) mencoba mengubah mainset, suksesnya kita adalah karena kebersamaan. Kalau berhasil swasembada, mulai cleaning servis sampai Menteri hingga Presidennya (Jokowi) hebat,” ungkapnya.

“Memang banyak kita gagal karena terlalu banyak orang pintar. Coba gabung buat kelompok kerja. Semua di situ termasuk doktor hebat dan profesor. Aku pastikan tidak jalan program ini. Kenapa (karena) 10 kesimpulan. Nggak kerja (tapi) banyak pendapatnya, tapi pendapatannya yang kurang. Itulah yang membedakan kita, kerja dengan diskusi,” imbuh Amran.

“Petani teladan ini harus dicontoh, bisa jadi dia lebih mulia di mata Allah, dari pada kita,” begitu Amran memuliakan harkat para petani.

Orang- orang seperti inilah menurut penulis sosok sederhana, mulia hatinya yang paling pantas disandingkan dengan Jokowi pada Pilpres tahun 2019 agar dunia pertanian kita ini kembali jaya, rempah- rempahnya dieskpor ke seluruh dunia seperti zaman VOC dulu.

Sebab khawatirnya, bila berganti orangnya- menterinya, persidennya, biasanya programnya dilupakan, pasti hancur minah. Nah yang dibangun Amran Sulaiman, bisa- bisa jadi terlantar seperti dulu lagi. Terus terang, kami secara pribadi hanya kenal wajah Amran Sulaiman, juga kenal wajah Jokowi. Namun dari alur cerita mereka membangun sektor pertanian negeri ini yang 40 tahun lebih terpuruk, kini mulai bargaung menjadi start up. “Maka izinkan kami arus bawah mendukung pasangan Jokowi – Amran menjadi kandidat The Next President 2019-2024, sehingga bangsa kita yang mayoritas Petani miskin ini bisa membuktikan kepada anak cucu kita nanti dan kepada dunia internasional bahwa kita adalah benar- benar negara agraris! Di samping itu, penyerapan hasil produksi pertanian ini harus berpihak kepada petaninya.

“Ingat kawans! Para petani ini bagai Malaikat penolong bagi saya sekeluarga dan Anda sekalian. Tanpa kinerja para petani, kita semua mati kelaparan. Tidak ada lagi presiden, wakil presiden, menteri, jenderal, pengacara, wartawan, kolumnis, politikus atau apapun namanya. Maka ayo….muliakan Petani“. Berkaca dari itu, saya usulkan agar partai- partai politik mencalonkan Jokowi dan Andi Amran Sulaiman pasangan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019-2024.

Jkt 26 Agustus 2017

Penulis : Pemi Samanta dan Oloan Mulia Siregar

Komentar

Komentar