Surplus Panen Petani Magelang Maka Ditolak Impor Beras

MAGELANG, CITRAINDONESIA. COM- Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Wijayanti secara tegas menolak usulan para pihak yang menginginkan impor beras, karena produksi di daerahnya berlimah dan bahkan tengah surplus.

‘Kalau sampai ingin diadakan impor beras, Kabupaten Magelang yang nomor 1 menolak hal tersebut. Untuk apa dilakukan impor? Sedangkan pasokan di Kabupaten Magelang saja melimpah bahkan surplus. Kalau dilakukan impor beras, hanya dapat merugikan para petani Indonesia’, tegas Wijayanti usai melakukan panen raya Padi bersama Direktur Buah dan Florikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian di desa Sawangan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, Kamis, (11/1/2018).

Dirinya menjelaskan bahwa selama bulan Januari-Desember luas tanam yang tersebar di wilayah Kabupaten Magelang ada sekitar 76,319 hektar dengan luas panen berkisar 76,866 hektar, produksi gabah 449,042 ton dengan ketersediaan 283,795 ton, jumlah konsumsi 136,382 dan surplus 147,413 ton.

‘Biasanya kan untuk Kabupaten Magelang, yang terkenal produksi hortikulturanya namun saat ini dapat menghasilkan jumlah produksi tinggi bahkan membuat Magelang selalu surplus setiap tahunnya,” terang Wijayanti bangga.

Hal tersebut kata dia, dapat dibuktikan dengan total panen yang saat ini sedang dijalani di desa Pagersari Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang yang sekitar 14 hektar dan 12 hektar di Desa Sawangan Kecamatan Sawangan, mampu menghasilkan produksi sekitar 6,3 ton per hektare.

Wijayanti menceritakan bahwa semenjak adanya upaya khusus Padi, Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale) membuat produktivitas di Kabupaten Magelang terjaga dan terus meningkat dibandingkan sebelumnya.

‘Dulu sebelum ada upsus Pajale itu produktivitas hanya 80-100 ton sekarang meningkat menjadi 50 persennya. Kabupaten Magelang rata-rata kebutuhan beras 11.583 ton perbulan,” jelas Kadis Pertanian dan Pangan Wijayanti.

Untuk Kabupaten Magelang ada bulan Januari ini dapat menghasilkan panen seluas 3,652 hektare dengan produktivitas 6,3 ton perhektar sehingga dapat menghasilkan 21,380 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setata 13.512 ton Beras.

Di tempat yang sama, Sarwo Edhy, Direktur Buah dan Florikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, juga menjelaskan bahwa impor itu sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Dalam kurun waktu 2 tahun, Indonesia telah berhasil membuktikan tidak perlu diadakan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Dan data Kementerian Pertanian itu benar adanya karena ada di Badan Pusat Statistik (BPS).

‘Untuk apa dilakukan impor beras kalau kebutuhan di beberapa daerah berlimpah? Ini hanya keinginan beberapa oknum yang menginkan Indonesia impor saja. Terkait data Kementan itu memang sudah terbukti benar karena sama dengan data yang ada di BPS‘, ujar Sarwo Edhy meyakinkan. (Ning)