Home Breaking News STPP Punya Enam Cara Regenerasi Petani Indonesia

STPP Punya Enam Cara Regenerasi Petani Indonesia

267
Menteri Pertanian Andi-Amran Sulaiman (tengah baju putih) bersama para mahasiswa STPP Bogor. Foto Ningsih.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Pertanian RI (Kementan) kini punya enam cara untuk melakukan regenerasi petani Indonesia mempercepat upaya swasembada seluruh komoditi bahan pangan strategis.

“Jadi, enam STPP yang tadinya program studinya hanya penyuluhan yaitu penyuluhan pertanian, penyuluhan perkebunan, dan penyuluhan peternakan, akan ditambah program studinya seperti berorientasi agribisnis hortikultura, agribisnis perkebunan, mekanisasi pertanian. Dengan demikian, ke depan akan bertambah generasi muda yang disiapkan untuk menjadi petani sekaligus pelaku usaha pertanian,” ungkap Kepala BPPSDMP, Momon Rusmono di Jakarta, Minggu (7/10/2017).

Sebelumnya Presiden Joko Widodo, memang meminta kepada para pembantunya untuk mengubah paradigma sektor pertanian ini menjadi agro pebisnis modern.

“Inilah paradigma harus kita ubah. Jangan sampai kita terlalu berkutat pada sektor budidaya yang berkaitan dengan pupuk, dengan benih, insektisida,” tegas Kepala Negara dalam pengantar Rapat Terbatas tentang Mengkorporasikan Petani di Istana Negara, Selasa (12/9/2017).

Ke-6 upaya untuk regerenasi petani itu antara lain, pertama, transformasi pendidikan tinggi vokasi pertanian. Di mana, Kementan memiliki 6 STPP yang tersebar di berbagai daerah seperti di Medan, Bogor, Malang, Magelang, Gowa dan Manokwari.

“Ke-enam STPP itu segera akan ditransformasi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian,” tambah Momon.

Nah, khusus STPP Magelang, program studinya sekarang berada di 2 provinsi, yaitu program studi peternakan berada di Magelang dan program penyuluhan pertanian di Yogyakarta.

Karena itu, dalam rangka mendukung percepatan regenerasi petani, STPP Magelang akan di pecah sehingga STPP Magelang nanti menjadi Politeknik Pertanian Magelang dan yang di Yogyakarta menjadi Politeknik Pertanian Yogyakarta.

“Yang tadinya enam (6) STPP jadi tujuh (7). Begitu pun yang SMK PP. Kita tingkatkan statusnya. Yang tadinya SMK Pembangunan Pertanian, juga menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian. Sehingga, yang tadinya enam plus tiga. Ke depan, kami akan punya 10 Politeknik Pembangunan Pertanian yang berorientasi pada program studi ilmu pertanian terapan dalam rangka regenerasi pertanian,” ujarnya.

Kedua, Kementan menginisiasi Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian bagi alumni perguruan tinggi pertanian.

Bahwa kegiatan tersebut bersinergi dengan 16 perguruan tinggi negeri (PTN) di tanah air. Ketiga, pelibatan mahasiswa/alumni/pemuda tani dalam pendampingan/pengawalan program-program Kementan.

“Keempat, menumbuhkan kelompok usaha bersama (KUB) di bidang pertanian bagi pemuda tani. Kelima, pelatihan dan magang bagi pemuda tani. Kemudian keenam, mendorong penyuluh untuk menumbuhkembangkan kelompok pemuda tani,” sebutnya.

Momon menjelaskan, untuk mensukseskan transformasi tersebur, ada beberapa upaya yang dilakukan. Selain pengembangan program studi, juga orientasi para lulusan harus berubah drastis.

Kongretnya bila zaman dulu Lembaga STPP lebih banyak mendidik para penyuluh yang sudah berstatus PNS, akan tetapi ke depan, menerima lulusan-lulusan SLTA, lulusan SMK Pembangunan Pertanian (PP) yang dididik selama empat tahun.

“Orientasinya untuk menumbuhkembangkan wirausahawan muda di sektor pertanian,” pungkasnya.

Sekedar tahu jumlah wirausahawan Indonesia sangat rendah dibandingkan di negara luar sana sbb :

-Di Indonesia hanya sekitar 0,24 persen dari total penduduk sekitar 238 juta jiwa.

-Amerika Serikat sekitar 11 persen.

-Singapura mencapai 7 persen,

-Malaysia mencapai 5 persen.

“Wirausahawan kita itu hanya sekitar 0,24 persen. Ini tantangan kita,” ujar Menkop Syarifuddin Hasan ketika kunjung dinas di Sulawesi Barat, Sabtu (26/2/2011). (olo/andi)

Komentar

Komentar