Home Breaking News Soal Beras Kita Jangan Tiru Bangladesh

Soal Beras Kita Jangan Tiru Bangladesh

438
ilustrasi

Indonesia jangan mau seperti negara Bangladesh, yang semula negara eksportir Beras, namun kini menjadi pengimpor Beras utama di dunia, kata USDA. Bahwa keberhasilan kita membalikkan tradisi ketergantungan importasi Beras selama bertahun- tahun, harus dipertahankan selamanya. Kita harus buktikan bahwa kita sebagai bangsa pemenang dan pantas jadi negara lumbung Beras dunia- jadi jangan lagi banyak retorika. Lebih baik sedik bicara namun banyak bekerja. Ayooo kubur tuh mimpi – mimpi di siang bolong!

Kita sudah melangkah se langkah ke depan. Bangsa Indonesia sudah bangga. Karena negaranya sudah mulai bnerani unjuk gigi di dunia internasional sebagai negara eksportir Beras. Bahkan Presiden Jokowi sudah berani janji kepada Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. Bahwa Indonesia sanggup dan siap menyediakan Beras konsumsi sebesar 20 persen dari total kebutuhan negara jiran itu. Maka itu, jangan mundur lagi seperi Bangladesh. Maka kita harus maju. Kita bukan bangsa pemalas dan pecundang. Kita harus jadi bangsa jawara yang disegani kawan maupun lawan. Terlebih tinta emas sebagai eksportir komoditas hasil pertanian sudah kita goreskan sejak kemarin. Itu kita harus tingkatkan lagi ke depan. Tak ada istilah lelah pegal linu, asam urat.. apalagi bilang malas!

Sekedar tahu, kemarin, Beras dari daerah Sanggau, Kalbar diekspor ke negara jiran Malaysia sebanyak 25 Ton, kualitas Premium dan Medium. “Surplus ini yang kita kirim ke negara tetangga (Malaysia) melalui perbatasan (Entikong),” kata Amran Sulaiman saat melakukan launching ekspor beras, Kamis (2/11/2017).

Bahwa, apa yang dialami Bangladesh adalah sangat tragis dan menyedihkan. Mereka dulunya negara produsen beras utama di dunia, tapi kini telah menjadi berubah menjadi negara pengimpor beras utama, ini menyedihkan. Namun mereka lalai dalam merawat tradisinya sebagai pemasok makanan dunia. Kini Bangladesh memiliki kesepakatan importasi Beras (B to B), dengan Vietnam, Kamboja, Myanmar, India dan Thailand. Bayangkan berapa banyak uang harus dihamburkan sementara tanahnya subur.

USDA mencatat kesepakatan perdagangan beras pertama antara negara-negara tersebut dalam satu dekade.

Hujan ;

Hujan deras berkepanjangan di Bangladesh telah membasahi lahan dan produksi Padi, menurut laporan Environmental Information Technology (GAIN) 30 Oktober dari Dinas Pertanian Luar Negeri Departemen Pertanian A.S. (USDA).

Total area yang akan ditanam Padi di Bangladesh diperkirakan mencapai 11,372 juta hektar pada 2017-18, turun dari 11,748 juta hektar pada 2016-17, menurut USDA. Sementara produksi beras diperkirakan mencapai 33.150 juta ton, turun dari 34.578 juta ton pada 2016-17.

Namun hujan membasahi lahan pertanian ini juga membawa dampak buruk bagi nasib petani, yakni banjir bandang merusak tanaman.

Sejumlah besar panen hancur akibat banjir, menyebabkan kesulitan ekonomi pada jutaan petani dan rumah tangga, kata USDA mencatat dalam laporan GAIN.

Setelah banjir bandang yang dahsyat di bulan Maret, musim hujan kedua menyebabkan banjir parah pada bulan Juli dan khususnya bulan Agustus. Banjir tersebut mempengaruhi 34 distrik dari 64 distrik administratif di negara tersebut. Hujan akhir musim hujan yang parah di provinsi hulu Assam, Meghalaya dan Arunachal di India menyebabkan banjir di distrik timur laut Bangladesh.

Mengutip data Pemerintah Bangladesh, mengatakan bahwa banjir benar-benar menghanyutkan sekitar 100.000 hektar lahan pertanian. Tanaman Padi rusak 500.000 hektar. Separoh lagi merusak lahan pertanian sayuran dan komoditas lainnya.

Lokasi paling terkena dampak adalah Sawah yang ditanami Beras Ausralia, Beras Aman, Bibit Padi Aman, Rami dan sayuran. Dan hal itu dibenarkan USDA.

Jakarta 30 November 2017

(citrainstitute) Email; [email protected]

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar