Home EKUIN P3DN Serapan P3DN Tinggi Bila Sinkron di Hulu- Hilir Sinkron

Serapan P3DN Tinggi Bila Sinkron di Hulu- Hilir Sinkron

101
Berbagai macam produk hasil anyaman yang berasal dari kertas koran yang dipamerkan oleh Salam Rancage di acara Trade Expo Indonesia 2016. (Foto: Badia Andrew/citraindonesia.com)

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Rasanya sulit menata usaha industri micro hingga besar bila sektor hulu – hilirnya tidak sinkon. Terlebih pemerintah sekarang ini kurang memperhatikan masalah ketidaksinkronan hulu- hilir ini.

“Berabe. Sampai kiamatpun hulu- hilir ini tidak akan pernah sinkron. Pelaku industri hulu egonya tinggi, malahan banyak di antara mereka yang jadi importir barang jadi. Tapi pemerintah kan diam saja. Inikan tidak mendidik,” ungkap Eddy Pepen, pengusaha kepada citraindonesia.com di Jakarta, jumat (23/12/2016).

Kenapa pelaku industri yang punya pabrik jadi importir, tanya citraindonesia.com.

“Yaa…  kalau dia tidak dapat pasokan bahan baku, gimana dia mau produksi? Bahwa produsen bahan baku lokal tak mampu mensuplay mereka, lihat saja sektor Baja misalnya. Mampunya cuma suplay 30% bahan baku, nah yang 70% pasti impor kan? Nah dari pada pabriknya stag- karyawan nganggur, sementara bunga bank harus bayar, ya wajar mereka banyak yang jadi importir. Itu kenyataannya. Tapi kan pemerintah juga diam saja,” lanjutnya bernada prihatin.

Lantas jalan keluarnya? “Pemerintah harus mendorong swasta lokal meningkatkan produksi bahan baku. Baik itu industri Baja, Agro atau Kakao mentah jangan diekspor, Makan- minuman, bahan baku Obat 95% impor, jadi produksi bahan bakunya harus diperbesar sehingga hulu- hilir itu bekerja happy dan tidak tergantung bahan baku impor. Ini harus dilakukan Jokowi-JK menghadapi persaingan global yang makin sulit,” bebernya.

Dia juga memperkirakan 14 paket kebijakan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan  kinerja perekonomian akan mubazir bila penguatan produksi bahan baku industri itu tidak dilakukan. Terlebih jika tidak diberikan insentif kepada pelaku usaha lokal serta bunga bank bersaing di bawah 7%.

“Sampai kapanpun industri kita itu takkan mampu bersaing kalau hanya mengandalkan bahan baku impor, kemudian bunga bank tinggi, harusnya seperti di Singapura di bawah 7%,” lanjutnya

Lantas? “Orang asing itu luar biasa piawai berbisnis. Juga program safeguard hingga dumping atas bahan baku impor itu masih terstigma. Dalam arti kalau ada yang minta safeguard ya dikasih, tapi kalau tidak ada yang minta ya lolos aja barangnya masuk ke tanah air, dumping juga begitu. Seharusnya mekanismenya otomatis. Jadi tidak ada industri lokal yang anak mas dan anak perak. Nah bila semuanya regulasi terejawantahkan- kita bisa meningkatkan penyerapan kandungan lokal (P3DN) yang lebih tinggi,” pungkasnya. (ling)

 

Komentar

Komentar