Home Breaking News Santai: Lebih 350 Anak Ditinggal, Orang Tua Jadi TKI

Santai: Lebih 350 Anak Ditinggal, Orang Tua Jadi TKI

322
Puluhan anak berkumpul setiap sore di kelompok belajar Smart Class Dua Bersaudara di Desa Wanasaba, Lombok Timur. (foto: bbc indonesia).

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Berdasarkan penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) pada 2015, di Desa Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal orang tua untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

“Kita tidak bisa membayangkan kalau kemudian satu desa rata-rata sekitar 300 anak dan di Kabupaten Lombok Timur ada sekitar 250 desa berapa jumlah keseluruhan,” kata Direktur Santai, Suharti, yang melakukan pendampingan anak-anak buruh migran di kabupaten itu,” seperti yang dikutip dari bbc, Senin (6/3/2017).

Berdasarkan penelitian Santai, anak-anak (0-18 tahun) yang ditinggal orang tuanya tersebut ditinggal oleh ibu atau bapak dan bahkan keduanya untuk bekerja di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Hong dan negara-negara Timur Tengah. Jumlah yang hampir sama juga ditemukan di desa tetangganya, Lenek Lauk.

Lombok Timur tercatat sebagai kabupaten pengirim TKI terbesar ke luar negeri dengan jumlah 15.000 lebih pada 2016 berdasarkan data pemerintah setempat. Setiap tahun mereka mengirimkan uang dalam jumlah besar untuk sebuah kabupaten yang miskin.

Pada 2016, jumlah remitensi tercatat Rp820 miliar, belum termasuk uang yang dikirim pulang tanpa melalui bank, misalnya lewat teman atau tetangga yang pulang. Tahun sebelumnya jumlah kiriman TKI ke Lombok Timur Rp966 miliar.

Di Desa Wanasaba mayoritas yang merantau adalah perempuan, sedangkan di Desa Lenek Lauk sebagian besar yang menjadi buruh migran adalah laki-laki. Hampir setiap rumah punya anggota keluarga yang bekerja di luar negeri sebagai pekerja domestik atau pekerja perkebunan dan pekerja-pekerja kasar lain.

Adapun pendorong kepergian mereka dari desa-desa yang mata pencaharian penduduknya bertani itu adalah faktor ekonomi.

“Lemahnya perekonomian di Desa Lenek Lauk, kurangnya lapangan kerja sehingga mereka pergi ke luar negeri. Ketika kami persentasikan sesuai dengan pantauan kami di desa, persentasi masyarakat Lenek Lauk -kalau laki-laki yang pergi ke Malaysia sampai 80%,” kata Kepala Desa Lenek Lauk, M. Zaini.

“Sebenarnya masyarakat kami sering mengeluh. Seandainya Pak Kepala, ada lapangan kerja di Lombok ini, bukan hanya di skala Lenek Lauk maka kami tidak mungkin pergi ke luar negeri. Karena meninggalkan keluarga, anak, sanak famili sangat berat rasanya,” tambahnya. (pemi)

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar