Home Breaking News Rakyat Bicara Lelang Gula Rafinasi, Rhoma Irama Hingga Jokowi Evaluasi Mendag

Rakyat Bicara Lelang Gula Rafinasi, Rhoma Irama Hingga Jokowi Evaluasi Mendag

509
Ilustrasi: Gula rafinasi. (Foto: dreamstime)

JAKARTA, CITRAINDINESIA.COM- Para pengusaha makanan- minuman skala kecil hingga industri rumah tangga dan Koperasi menyampaikan tanggapan beragam tentang penundaan Lelang Gula Kristal Rafinasi (GKR) semula awal Oktober 2017 menjadi 8 Januari 2018. Ada yang menyambut dan ada pula yang berbicara keras hingga meminta Presiden Joko Widodo segera mengavaluasi jabatan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, dinilai membuat kebijakan yang macam- macam dan tidak pro rakyat.

“Ya kita senanglah. Lagian kalau lelang kan katanya harus sistem online. Kita gaptek internet. Mau rekrut tenaga muda kan tambah cost, sementara kondisi lagi begini nih. Lagian katanya peserta lelang harus pakai uang jaminan. Boro- boro uang jaminan, modal usaha kita aja paling juga Rp7 jutaan. Sementara Gula rafinasi yang dilelang harus ukuran Lot (ribuan kg) dari mana duitnya? Apa Pak Mendag Enggartiasto Lukita nggak tahu modalnya usaha rakyat berapa. Kalau beliau nggak tahu, belajar dong ke lapangan. Blusukan seperti pak Jokowi?,” ujar Yoyo Suroloyo, Minggu (1/10/2017).

Berbeda dengan Ny Retno dan Sukirno. Pasangan suami – istri pembuat kue- kue untuk pasar subuh Senen, Jakarta Pusat, yang sudah puluhan tahun menggeluti profesinya itu mengaku tidak sudi dengan adanya aturan- aturan lelang gula rafinasi untuk pemanis itu.

Mereka menilai sulit ikut lelang gula itu pasti lebih sulit mendapatkan gula rafinasi daripada sistem yang selama ini membeli bebas dari distributor dengan mekanisme pasar. Lantas dia bertanya. Mekanisme pasar selama ini aman- aman saja bagi rakyat, lalu apa maunya Mendag Enggartiasto membuat lelang rafinasi segala?

“Rakyat tidak mengerti caranya mas. Kan katanya kalau jadi peserta lelang gula, harus ada uang jaminan lebih besar di bank daripada harga gula akan dibeli itu. Boro- boro. Los tempat dagang ini juga kan kita cuma sewa 1×1 meter Rp15,000 per hari. Kue- kue sisanya kita langsung kirim ke kantor- kantor sama anak- anak. Mbok yoo pemerintah itu jangan bikin sengsara rakyat. Tapi saya yakin, ini cuma maunya Mendag. Kalau Pak Jokowi saya yakin belum tahu ini peraturan baru dari Pak Enggar?,” ujar Sukirno tampak yakin. “Pak Jokowi itu bukan tipe orang yang menyusahkan rakyat. Saya tahu persis, beliau itu tulus. Bukan ginian,” tambahnya percara.

Sementara Ny Retno menimpali suaminya : “Wong selama ini kita membeli gula rafinasi sudah bagus dari agen kok. Kita dapat dari distributor atau koperasi. Harga cocok yaa.. beli. Tapi ko yoo….untuk urusan perut rakyat itu kok selalu diutak- atik terus sama Menteri Perdagangan ya. Pak Enggar itu pro siapa sih ya. Pro pedagang atau pro wong cilik. Beliau itu semuanya diatur- atur. Ya beras pake HET. Ini gula rafinasi harus lelang, terus kemaren bawang ada harga atas – bawah. Wah dia ini bikin rakyat susah, iki menteri opo yoo. Sebaiknya Pak Jokowi diganti saja menteri- menteri yang tidak pro rakyat. Ini melengceng dari Nawa Cita,” tegas ibu dari 4 anak yang guru sebuah sekolah swasta ini kesal.

Pelaku usaha mikro lainnya mengaku lega dengan penundaan itu. “Syukurlah. Kami juga dah kebingungan cari gula rafinasi. Agen yang biasa tempat kita beli, gak berani jual. Takut ditangkap katanya. Karena pemerintah bilang jualan – beli rafinasi harus di pasar lelang dan berlaku 1 Oktober 2017. Tapi nggak tahu di mana pasarnya. Ini kan membingungkan. Kami minta Pak Jokowi jangan bikin bikin lelang- lelangan lah. Biarkan aja rakyat berusaha sendiri. Jangan diganggu ini – itu. Bikin riweh. Kalau saya minta bukan ditunda saja. Tapi gak perlu ada lelang- lelangan,” tegas Ny Enno Farida, pembuat kue basah berdomisili di wilayah Jakarta Tmur, Minggu (1/10/2017).

Sementara Edi Sutanto, pengusaha Kue di bilangan Pasar Minggu Jakarta Selatan, juga menyambut baik penundaan lelang gula itu.

“Saya bukan cuma senang ditunda lelangnya. Tapi Menteri Perdaangan harus urungkan niatnya untuk lelang gula rafinasi ini. Gak ada gunanya. Kebijakan Mendag ini untuk kepentingan siapa? Saya curiga ini hanya menguntungkan pihak tertentu, dekat kekuasaan, pengusaha punya uang besar. Kata kata bang Haji Rhoma Irama sih, Yang kaya makin kaya- yang miskin makin miskin. Kita pengusaha rumahan yang tak bermodal, boro- boro mau bikin uang jaminan di bank untuk ikut lelang. Buat modal usaha aja cekak. Kami minta Pak Jokowi, perintah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita stop cara- cara menyusahkan rakyat kecil. Kasihan rakyat dong. Saya jamin, bila lelang tetap diberlakukan, ribuan usaha rakyat bangrut tidak dapat gula rafinasi. Kita buktikan nanti,” tegasnya.

Ruswanda, pengusaha mamin di daerah Tangerang ucapkan syukur penundaan itu. “Sykur Alhamdulillah. Kami sudah sebulan ini kekurangan GKR. Tapi kami tak dapat beli dari agen juga dari PG (Pabrik Gula). Mereka takut ditangkap karena sistemnya akan lelang. Tapi untung ditunda sehingga kami nanti bisa beli lagi dari agen tempat biasa,” ujar pria 52 tahun mengaku lega.

Sementara itu Hadianto, pengusaha bidang perkoperasian yang selama ini mendistribusikan GKR ke sejumlah perusahaan mamin di daerah Tangerang Banten, juga mengaku heran dengan cara- cara Mendag Enggartiasto membuat sistem lelang itu.

“Lelang gula farinasi ini untuk apa dan demi kepentingan siapa? Dulu kan gula rafinasi ini gaduh gara- gara soal rembesan aja. Yang rembesin siapa? Kan saudagarnya, pabrik gulanya. Kok sekarang industri rumahan yang kecil dan koperasi yang dibabat Mendag? Sistem lelang ini mematikan pengusaha kecil dan koperasi. Kami gak dapat lagi beli gula ke Pabrik Gula, padahal biasa kita dapat pasokan karena sudah ada kontrak. Nah sekarang sejak mau lelang, PG stok suplay, terus klien kami macet usaha, kami juga nganggur gak dapat pasokan untuk didistribusikan ke klien,” keluhnya.

Dia lantas mengklaim lelang rafinasi ini memberatkan pengusaha seraya memperpanang rantai pasok hingga menimbulkan efek domino yang lebih hebat yakni bakal munculnya praktek mafia lelang hingga modus perburuan rente.

“Ini lelang kan bikin rantai pasok makin panjang dan biaya tinggi. Infrastruktur juga belum jelas. Saya yakin nanti setiap transaksi pasti ada komisi bagi pemilik bursa lelang GKR-nya. Ini kan makin sadis. Terjadi makelar atau broker. Saya gak setuju ini cara- cara  Mendag. Cara ini bukan membantu investasi seperti paket kebijakan Persiden Jokowi membantu ekonomi lemah. Tetapi lelang rafinasi ini justru menghambat dan membunuh pedagang kecil dan industri rumah tangga. Saya minta Pak Jokowi larang ini kebijakan lelang gula rafinasi dan evaluasi Mendag Enggartiaso Lukita. Yang menang lelang nanti juga pasti pengusaha yang besar- besar. Lihat nanti buktinya. Ini modus perburuan rente,” paparnya mengakhiri. (friz/dewi/oca/linda/olo)

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar