Home Breaking News “Purple Book” Buku Pintar Bank Hadapi Krisis!

“Purple Book” Buku Pintar Bank Hadapi Krisis!

337
Uang Logam. foto google

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Bank of England telah menerbitkan “Purple Book” atau semacam cetak biru bes seller untuk menentukan bagaimana industri perbankan harus melangkah secara terukur menghadapi sebuah krisis keuangan.

Buku ini menarik pastinya. Bahwa di dalamnya terdapat buah pemikiran jenius untuk kekinian, juga tentang peraturan, termasuk berapa jumlah harus disisihkan sebuah bank dan dalam bentuk apa struktur itu harus terstruktur.

Dan sangat gamblang. Tujuannya adalah untuk melindungi para masyarakat pembayar pajak dari biaya keruntuhan sebuah bank besar, misalnya.

Anda perlu memilikinya. Buku ini adalah menjawab perstiwa 10 tahun lalu sejak dimulainya krisis kredit yang membuat pemerintah Inggris menghabiskan miliaran dolar uangnya untuk menopang bank-bank besar, termasuk Lloyds dan RBS Inggris.

Aturan baru ditetapkan mulai berlaku pada 2022. Mereka merancangnya untuk memastikan bahkan bank terbesar – yang dianggap “terlalu besar untuk gagal” – dapat ditangani tanpa pembayar pajak harus menanggung beban melindungi seluruh sistem.

Kekurangan :

Persyaratan Minimum untuk Dana Milik dan Persyaratan yang Dimiliki Sendiri (MREL), berarti bank asing raksasa, seperti JP Morgan dan Deutsche Bank, harus menciptakan hutang internal khusus yang berarti kreditor “ditebus” dari pada pemerintah yang menyelamatkan mereka.

Uang jaminan berarti kreditur bank akan menanggung sebagian beban dengan memiliki bagian dari hutang yang harus mereka hapuskan, seperti yang terjadi pada mereka yang telah bersandar ke Yunani.

Bank-bank di Inggris memiliki kekurangan jumlah yang harus mereka dapatkan sebesar £ 116 miliar, kata Bank Dunia. Mereka sampai 2022 mereka harus siap mengumpulkan dana itu.

Bank Dunia mengatakan akan mulai menerbitkan rincian seberapa jauh bank dalam usaha mereka, mulai tahun 2019.

Sir Jon Cunliffe, wakil gubernur untuk stabilitas keuangan di Bank, mengatakan: “Ini adalah 10 tahun sejak krisis keuangan dimulai. Seperti banyak negara pada saat itu, Inggris tidak memiliki rezim untuk menangani bank-bank yang gagal.

“Dihadapkan dengan konsekuensi pemerintah berpotensi bencana, termasuk Inggris, merasa mereka tidak punya pilihan selain menjamin bank-bank tersebut keluar. Resolusi bertujuan untuk mengubah hal ini, memastikan bank dapat dibiarkan gagal secara tertib. Sama seperti ketika bisnis lain gagal, kerugian yang timbul dari kegagalan bank akan dikenakan pada pemegang saham dan investor.”

Buku Ungu, yang memperbarui proses yang dimulai oleh Bank pada tahun 2014 mencakup infografis, menjelaskan secara jelas bagaimana perlindungan industri perbankan akan terjadi jika terjadi sebuah krisis merontokkan perbakan.

Itulah pentingnya buku itu sebagai direktory juga perlu diketahui oleh para nasabah bank untuk menghindari kerugian tak diinginkan.

Kita di Indonesia pernah menghadapi hal seperti ini pada tahun 1998, di mana industri perbankan nyars coolaps dan gagal bayar.

Mirisnya kasus mengerikan itu karena pengucuran dana Rp6,7 triliun kepada Bank Century, yang semula dikabarkan hanya Rp6- 700 miliar, hingga kini rakyat tak tahu persis ada “setan- setan” apa gerangan di baliknya. (dewi)

Komentar

Komentar