Home Breaking News Petani Minta Mentan dan Bulog Bentuk Tim Pemantau Pembelian Gabah

Petani Minta Mentan dan Bulog Bentuk Tim Pemantau Pembelian Gabah

318
Tampak Mentan Andi Amran Sulaiman, Gubernur Papua, Lukas Enembe, Bupati Merauke, Fredikus Gebze melepas ekspor perdana 10 Ton beras ke Papua Nugini di Merauke, Senin (13/2/2017).

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kini muncul pertanyaan. Masih adakah pejabat Devire Perum Bulog di daerah berani menolak membeli gabah petani sesuai HPP (Harga Pembelian Pemerintah) sebesar Rp3700/Kg? Maka itu diminta agar Mentan dan Perum Bulog membentuk tim khusus pemantau pembelian gabah hasil panen petani tersebut. Juga perlu dibuat SMS center untuk pengaduan.

“Itu bisa aja terjadi… ada yang berani mengingkari. Orang Indonesia itu kan sebagian adatnya kau yang berjanji kau yang mengingkari,” ujar Irsan Hasibuan, petani desa Rimba Sping, Padangsidempuan, Sumut, Minggu (19/7/2017).

Alalannya para pejabat Devire Bulog menolak membeli?  “Satu masalah harganya. Kedua mereka akan pura- pura tidak tahu ketika petani panen sehingga harga jatuh ke bawah HPP. Misalnya jadi Rp3500/Kg- atau Rp3400/Kg. Itu yang terjadi selama ini. Makanya harga gabah anjlok hingga Rp2500/Kg saat panen,” jelasnya. “Jadi tdak usah heran,” imbuhnya.

Senada dikatakan Bisman Harianja, petani di Pinang Sori, Sobolga (Sumut). “Kalau soal permaianan pembelian itu kan lagu lama. Biar dikata apa….kan Bulog cari untung juga. Bukan cari rugi. Kalau rugi kan pemimpinnya disemprot pusat juga. Nah mereka akan buat strategi untuk cari untung. Dan dalam hukum bisnis itu logis, cuma sekarang ada HPP. Ya kita lihat saja nanti,” ujar ayah 4 anak ini.

Sementar Nariman, warga Bondowoso, memperkirakan hal yang sama. “Pejabat itu, kalau di depan atasannya kan nggeh- nggheh. Tapi pemimpinnya pergi ya dee lali (dia lupa) ewes- ewes,” ujarnya.

Sudah tidak heran kata dia kalau para pejabat daerah dan bahkan pusat karena mengaku lupa, atau pura- pura lupa.

“Penyakit lupa ini kan ketika pejabat misalkan ditanya program A, B, C. Nah untuk pembelian gabah ini juga sama. Beda apa? Apalagi mengeluarkan uang besar. Jadi saran saya, Perum Bulog Pusat harus bentuk Tim Khusus bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk memantau sistem pembelian gabah petani ini. Kalau cuma ngomong doang, itu hanya dibibir saja,” pungkasnya.

Seperti diketahui, bahwa Menteri Pertanian dalam panen raya padi di Jawa Timur dan Percepatan Serap Gabah Petani (Sergab), Selasa (7/32017), meminta supaya Perum Bulog intensif membeli atau menyerap gabah petani dalam keadaan apapun. Dan harganya Rp3700/Kg sesuai HPP dimaksud.

Ini menindaklanjuti arahan Presiden Jokowi untuk menjaga kedaulatan pangan dengan menyerap gabah petani minimal 4 juta ton setara beras dalam waktu 6 bulan yakni Maret – Agustus 2017 dengan harga gabah kering panen petani Rp3.700 per kg.

“Tidak ada alasan Bulog tidak menerima. Jangan biarkan rakyat berteriak. Tidak ada alasan beras tidak diterima, dan tidak ada lagi alasan petani dirugikan, tolong kita bahu membahu,” ujarnya,” tegas Amran.

Pada kesempatan itu, Direktur Perum Bulog Sumberdaya Manusia dan Urusan Umum, Wahyu Suparyono, mengikuti panen raya padi di Desa Tri Tunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Selasa (7/3/2017) menegaskan: “Sesuai dengan perintah Menteri Pertanian, kami siap serap berapaun gabah yang dihasilkan petani sesuai HPP. Kadivre dan Kasubdivre di daerah yang tidak sanggup, kami tidak main-main akan segera copot. Ini komitmen kami,” tegasnya. (sup/ahmad/donal/olo)

Komentar

Komentar