Home Breaking News Pertemuan Intersesi Indonesia Bersama UE CEPA, Sepakat Identifikasi Masalah Teknis

Pertemuan Intersesi Indonesia Bersama UE CEPA, Sepakat Identifikasi Masalah Teknis

1089
Percepat Negosiasi IEU CEPA, Indonesia-Uni Eropa Lakukan Pertemuan Intersesi. (Foto: Kemendag)

BRUSSELS, CITRAINDONESIA.COM- Indonesia dan Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) melakukan pertemuan intersesi pada tanggal 6-9 Juni 2017 di Brussels, Belgia, dimana pertemuan berikut akan diadakan pada bulan September yang akan datang.

“Kita ingin menjaga momentum yang kita bangun pada perundingan putaran ke-dua Januari lalu di Bali dengan memperdalam pembahasan teknis atas draft teks yang ada agar kedua delegasi lebih siap memasuki perundingan putaran berikutnya pada bulan September nanti,” jelas Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo, seperti dalam siaran tertulis yang diterima citraindonesia.com, di Jakarta, Jumat (9/6/2017).

Delegasi Indonesia pada pertemuan tersebut terdiri dari wakil sejumlah instansi melakukan pembicaraan intensif atas draft teks perjanjian di beberapa sektor seperti perdagangan barang, ketentuan asal barang, perdagangan jasa, investasi, Hak Kekayaan Intelektual, dan kerjasama ekonomi dan peningkatan kapasitas.

Dalam pertemuan intersesi ini kedua delegasi sepakat untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi ke dalam dua kategori. Pertama, adalah isu yang bersifat teknis atau terkait dengan proses penulisan teks (drafting).

Untuk isu-isu dalam kelompok tersebut, penyelesaian dapat dilakukan pada tingkat kelompok runding masing-masing atau di tingkat Ketua Perundingan. Kelompok kedua adalah isu-isu yang terkait dengan kebijakan (policy), yang penyelesaiannya memerlukan pertimbangan Ketua Perundingan kedua pihak atau bahkan pada tataran menteri.

“Kita ingin pastikan tidak ada pendekatan hostage-taking dalam perundingan ini. Semua isu harus dibahas secara paralel sesuai dengan bobot kepentingannya masing-masing. Sejak awal kita sepakat bahwa perundingan ini dilakukan berdasarkan prinsip single-undertaking, yang artinya paket perjanjian lengkap akan disetujui apabila setiap bagian dari perjanjian itu telah disepakati. Namun kami ingin pastikan tidak ada penyanderaan perundingan di satu isu ketika terjadi kebuntuan pada isu yang lain,” imbuh Iman.

Perundingan Indonesia – EU CEPA diluncurkan pada tanggal 18 Juli 2016 setelah pada bulan April 2016 Presiden RI Joko Widodo dan Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker mencatat dicapainya kesepakatan mengenai lingkup perundingan.

Gagasan Indonesia – EU CEPA itu sendiri berangkat dari kajian yang dilakukan oleh Indonesia – EU Vision Group yang terdiri dari para wakil dunia usaha, akademisi dan pemerintah dari kedua pihak untuk meningkatkan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Uni Eropa.

Pada tahun 2016 Uni Eropa merupakan tujuan ekspor dan asal impor nonmigas terbesar ke-3 bagi Indonesia, dengan nilai masing-masing sebesar USD 14,4 miliar dan USD 10,7 miliar. Adapun total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa mencapai USD 25,2 miliar. Selama kurun waktu lima tahun terakhir, neraca perdagangan kedua ekonomi menunjukkan surplus bagi Indonesia.

Sejauh ini investasi Uni Eropa ke Indonesia masih tergolong kecil dibanding investasi Uni Eropa ke beberapa negara anggota ASEAN. Diharapkan melalui CEPA yang saat ini masih dirundingkan, hubungan perdagangan dan investasi Indonesia dan Uni Eropa dapat meningkat melampaui negara ASEAN lainnya. (pemi)

Komentar

Komentar