Search
Monday 22 December 2014
  • :
  • :

Peraturan Impor Hortikultura Biaya Tinggi

Tanaman buah segar

Tanaman buah segar

CitraIndonesia.Com: Pembatasan pintu masuk impor produk hortikultura (sayur dan buah, bunga) menuai banyak komentar. Sebut salah satunya dari Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI).

Ketua Umum GINSI Yayat Priyatna menilai, peraturan tersebut tidak efisien. Harganya makin mahal. Terjadi biaya tinggi. Misalnya disebabkan ongkos transportasi barang itu dari Jawa ke Jakarta.

“Sebagai contoh pedagang di Jakarta, ah saya mendingan bawa jeruk dari Hongkong karena ongkosnya jauh lebih murah, padahal dia bisa ambil jeruk dari Berastagi karena dianggapnya kurang efisien, bertambah harganya karena adanya biaya transportasi jadi barang-barang kita yang ada di pelabuhan itu tidak bisa berkompetisi,” ujar Yayat kepada CitraIndonesia.Com, di Jakarta, Kamis (8/11/2012).

Apalagi, kata dia, penetapan 4 pelabuhan menjadi pintu masuk produk impor hortukultura, kurang kompetitif.

“Salah memperbaiki sistem, tadi ada orang-orang yang tidak berkepentingan melakukan itu, kenapa sekarang harus diubah (peraturannya), dari sekian banyak pelabuhan itu menjadi 4 pelabuhan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Pertanian Nomor 42 Tahun 2012 mewajibkan impor sayur dan buah hanya boleh masuk melalui empat pelabuhan saja, yakni Tanjung Perak (Surabaya), Makassar, Belawan (Medan), dan Bandar Udara Soekarno-Hatta (Tangerang).

Sementara Pelabuhan Tanjung Priok ditutup dengan alasan terlalu padat. Padahal konsumen terbesarnya di ibu kota negara ini.

Dia melihat, sejauh ini, pemberlakuan peraturan baru tersebut belum berdampak pada konsumsi masyarakat akan produk hortikultura.

“Ini kan baru uji coba, ya kita lihat saja ya memang harus kita lihat dulu karena saya tidak bisa berkomentar banyak. Apakah dengan pengaturan ini different cost-nya terhadap produksi akan lebih laku. Yang harus diperbaiki itu kan strukturnya, sejauh ini kita melihat, kan belum ada yang teriak. Orang masih membeli Duren Montong, meski di Sumatera banyak Duren lokal,” imbuh Yayat. (iskandar)