Home Indonesian Way Penghasilan Yang Tidak Tertangkap

Penghasilan Yang Tidak Tertangkap

242
Marzuki Usman, Mentan Menteri Kehutanan Era Presiden GusDur. Foto olo.

Penghasilan Yang Tidak Tertangkap (Income Forgone)

Oleh : Marzuki Usman

Didalam ilmu ekonomi selalu diajarkan, bahwa penghasilan (income) secara ekonomi, adalah berbeda dengan pengertian penghasilan yang senyatanya, yakni yang diketahui oleh orang banyak Misalnya, seorang pegawai negeri sipil, penghasilan senyatanya sebulan adalah gajih yang diterima setiap bulan, ditambah lagi honorarium kalau dia ikut kerja khusus (team), alias panitia kerja, dan sebagainya. Sudah barang pasti itu adalah jumlah penghasilan yang halal, dan bukan termasuk pungutan macam-macam, seperti uang tanda terima kasih, dan sebagainya, yang sering dikenal dengan istilah Pungutan Liar (Pungli). Dikatakan sebagai Pungli, karena pungutan itu tidak ada dasar hukum atau undang-undangnya.

Seorang tenaga terlatih, biasanya dia dibayar sesuai dengan keterampilannya. Seorang pesuruh yang tidak bisa apa-apa, kecuali menyediakan air teh untuk tuannya atau mempersilahkan tamu masuk keruang bosnya, sudah barang tentu penghasilannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan seorang pemain bola kaki yang sangat terampil. Ambilah contoh pemain bola kaki, Luis Suarez, pemain bola kaki yang kesohor disalah satu klub bola kaki di Eropah. Dia berasal dari negara Amerika Latin. Dia ini konon kabarnya di Eropah setiap harinya dibayar sebesar Rp. 500 juta.

Pada pertandingan bola dunia di Brazil, dia kembali memperkuat team dari negara diamana dia berasal. Dan dia dibayar atau mungkin tidak dibayar sama sekali. Andaikata dia korbankan waktunya satu bulan untuk menaikan nama baik klub bola kaki negaranya, berarti dia sudah kehilangan penghasilannya sebesar 30 x Rp. 500 juta = Rp. 15.000 juta. Inilah yang disebut dengan penghasilan yang tidak tertangkap atau penghasilan yang hilang (Income Forgone). Hal ini dibaca secara moral dia sudah mengorbankan kehilangan penghasilan Rp. 15.000 juta, untuk menjaga nama baik bangsanya.

Contoh yang lain, seserorang sekolah dokter. Tenyata dia tidak lulus, dan akhirnya menjadi tenaga medis di Rumah Sakit dengan gajinya cuma Rp. 1.000.000 perbulan. Andaikata dia lulus menjadi dokter, maka penghasilannya bersih sebulan bisa mencapai Rp. 60 juta. Andaikata tenaga medis itu, tadinya belajar dengan baik sehingga menjadi dokter, maka di bisa berpenghasilan Rp. 60 juta perbulan. Hal ini berarti dia kehilangan penghasilan (income forgone) sebanyak Rp. 60 juta dikurangi Rp. 1 juta = Rp. 59 juta perbulan.

Lalu bagaimana caranya agar dia bisa merebut kembali income forgone itu? Jawabnya dia harus sekolah lagi sehingga menjadi dokter.

Contoh yang diatas tadi, adalah contoh secara mikro ekonomi. Dalam hal makro ekonomi, dimana pelaku ekonominya bisa pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah kota atau kabupaten. Misalnya pemerintah kota Jambi. Andaikata ada suatu wilayah yang bisa dipromosikan untuk tempat hotel-hotel baru, restoran baru, atau show room mobil atau motor yang baru, yakni diberikan stumulus keringanan Pajak Bumi Bangun dan Pajak Pembangunan Satu untuk hotel dan restoran.

Maka berdirilah hotel-hotel, restoran-restoran dan show room-show room yang baru. Akibatnya, pemda kota Jambi akan bertambah Pendapatan Asli Daerahnya, katakanlah dengan jumlah Rp. 1 triliun. Meskipun projek ini bersifat feasable, dan viable, dan serta menguntungkan, tetapi tidak dapat terwujudkan, karena satu dan lain hal. Akibatnya kota Jambi akan kehilangan penghasilan (income forgone) Pendapatan Asli Daerahnya sebesar Rp. 1 triliun. Akibat lebih jauh, kota Jambi akan semakin ketinggalan pertumbuhan ekonominya dibandingkan dengan kota-kota lain.

Adapun moral dari cerita ini, adalah menjadi kewajiban bagi setiap pimpinan unit usaha, pimpinan daerah, Bupati, Walikota, dan Gubernur untuk mengambil keputusan yang tepat dan menghasilkan. Gagal melakukan hal seperti ini, maka yang diderita oleh daerah yang bersangkutan, atau perusahaan yang bersangkutan, adalah pertumbuhan yang semakin lambat. Hasil akhirnya, kalau itu perusahaan, maka dia terpaksa keluar dari industrinya, alias, kaput atau bangkrut. Kalau hal yang sama terjadi bagi daerah, dia akan menjadi daerah yang semakin kerdil, dan tertinggal!

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar