Home Breaking News Pengamat Soroti Surplus Neraca Perdagangan Bali

Pengamat Soroti Surplus Neraca Perdagangan Bali

1578
Dolar AS.

BALI, CITRAINDONESIA.COM- Surplus neraca perdagangan Pemprov Bali cukup signifikan.

“Ekspor Bali Februari 2017 itu sekitar US$ 45,150,313, impornya US$ 4.573.455. Neraca perdagangan surplus 40,576,858 juta,” ujar I Made Suarte, seorang pengamat perdagangan di Bali, Kamis (20/4/2017).

Tingginya nilai surplus perdagangan itu menurutnya harus terus dijaga oleh par apengambil kebijakan.

“Ini momen bagus bagi Bali. Perekonomian satu daerah itu dapat diukur dari neraca perdagangan. Jadi harus dijaga ini dengan baik,” tegasnya.

Sebelumnya data BPS setempat menyebutkan nilai ekspor barang asal Pulau Dewata itu dikirim lewat beberapa pelabuhan di Indonesia pada bulan Februari 2017 mencapai US$ 45.150.313.

Angka ini mengalami peningkatan 15,39 persen dibandingkan nilai ekspor bulan Januari 2017 yang mencapai US$ 39.129.878.

Capaian Februari 2017 juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 11,95 persen dari kondisi bulan yang sama tahun sebelumnya, dimana ekspor mencapai US$ 40.331.684.

Sebagian besar ekspor pada bulan Februari 2017 ditujukan ke Amerika Serikat, Singapura, Perancis, Australia, dan Jepang dengan proporsi masing–masing 24,21 persen, 8,39 persen, 7,34 persen, 7,25 persen, dan 5,90 persen.

Nilai impor Provinsi Bali pada bulan Februari 2017 mencapai US$ 4.573.455.

Angka ini mengalami penurunan sebesar 47,57 persen dibandingkan dengan keadaan bulan Februari 2016 dimana impor mencapai US$ 8.717.877.

Apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya dimana impor sebesar US$ 8.965.910, capaian bulan ini juga tercatat mengalami penurunan sebesar 48,99 persen.

Menurut negara, sebagian besar impor pada bulan Februari 2017 berasal dari Tiongkok, Singapura, Amerika Serikat, Australia, dan Hongkong dengan persentase masing-masing 37,09 persen, 16,07 persen, 13,62 persen, 5,88 persen, dan 4,31 persen.

“Tapi sebaliknya- apabila nilai impornya terlalu kecil, ini juga harus jadi perhatian pemprov. Bisa saja ini karena daya beli atau kebutuhan rakyat di Bali tak terpenuhi pada akhirnya. Misalnya tentang Minol ke hotel- hotel, daging, buah, dan lainnya untik mendukung bisnis wisata dan resto. Jadi harus agak seimbang,” pungkasnya. (putu)

Komentar

Komentar