Home Breaking News Pengamat : Bagus Kinerja Kementan Kembangkan Pertanian di Perbatasan

Pengamat : Bagus Kinerja Kementan Kembangkan Pertanian di Perbatasan

182
Bawang Merah dan kunker Dirjen Horti Kementan Spudnik Sujono (paling kiri). (Foto Ningsih/citraindonesia.com).

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kinerja Kementerian Pertanian (Kementan RI) yang terus memaksimalkan atau start up potensi sektor pertanian di daerah perbatasan kini mulai menunjukkan hasil positif dan diapresiasi berbagai kalangan nasional dan internasional.

“Kinerjanya mulai menunjukkan hasil yang cukup bagus. Patut diacungi jempol, namun harus berkelanjutan,” ujar Asman Parinduri, pengamat masalah pertanian di Jakarta, Sabtu (9/9/2017).

“Kok gak dari dulu ya kita garap lahan perbatasan. Itu makanya WNI yang seperti di perbatasan dengan Malaysia itu- setiap hari hanya konsumsi produksi Malaysia, duitnya juga Ringgit, bahasanya Melayu Malaysia. Ini harus diantisipasi. kan banyak katanya WNI yang jadi warga Malaysia. Itu bahaya!,” ujar Asman menambahkan.

Diakuinya sebenarnya kalau rezim pemerintahan kita mau mengarap lahan tidur di desa- desa dan perbatasan dengan negara tetangga dengan baik, kita ini kelebihan poduksi, tapi karena gak digarap yaaa itudia akibatnya kita ketergantungan impor.

“Anda hitung berapa miliar dolar AS devisa kita hanya dihabiskan untuk impor bahan pangan? Cuma rezim- rezim terdahulu itu malas. Maunya import dan import, karena diduga ada komisinya ada fee dari si importir. Tapi syukurlah, dari pada tidak … terlambat pun tak apa-apa. Dengan kerja keras Pak Mentan Amran Sulaiman dan the dream team menggarap lahan tidur perbatasan dengan negara jiran, sekarang kita mulai behasil swasembada. Malah hasil produksi petani sudah diekspor sepetti Beras, jagung, Bawang Merah. Alhamdulilla, semoga ini ditingkatkan lagi demi perut wong cilik, lagian bumi pertiwi ini sangat subur,” tegasnya mengingatkan.

Artinya Anda setuju program Kementan RI yang sudah berhasil mengejawantahkan program Presiden Joko Widodo, memulai pembangunan dari pinggiran sebagai embarkasi negeri ini di mata negara tetangga kemudian ke kota? “Ya… itudia hebat Nawa Cita Pak Jokowi dan konsep Trisakti-nya. Kita harus dukung. Dan yang tidak mendukung saya rasa perlu dicuci otaknya,” pungasknya semberi tertawa lebar.

Sebelumnya, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Ani Andayani, Kamis kemarin (7/9/2017) dilakukan panen perdana menyatakan daerah NTT sudah berhasil mengembangkan protensi pertaniannya. Di mana Bawang Merah organik produksinya akan diekspor ke Timor Leste waktu dekat ini.

“Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Program Upaya Khusus (UPSUS) Padi Jagung Kedelai (Pajale), Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab), dan Penguatan Lumbung Pangan Perbatasan Berorientasi Ekspor (PLBE),” kata Ani.

Menurut Ani, Kementan sedang berupaya menggenjot produksi bawang merah di NTT guna kebutuhan ekspor ke Timor Leste, setelah sukses meningkatkan luas tambah tanam padi (LTT) dan luas tambah tanam jagung (LTJ) di periode Oktober 2016 – Maret 2017 yang masih lanjut untuk menuju swasembadanya.

Adapun daerah di NTT yang menjadi lokasi penanaman bawang merah, yakni Kabupaten Malaka dan Belu. Di Malaka, telah dilakukan panen raya tepatnya di desa Fafoe. Kemudian, bawang merah jenis tuk tuk di Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu.

“Hasil panen tersebut atas pendampingan teknologi dan inovasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dengan rerata produksi hasil ubinan mencapai 13.28 ton/ha,” jelasnya.

“Menurut Direktur STO Ditjen Hortikultura, bawang merah di Malaka yang dikunjunginya beberapa hari lalu, itu berkualitas sangat baik dan layak ekspor selain bernas, warna cerah merona serta dibudidayakan secara organik. Produksi bawang merah di Malaka dan Belu belum menggunakan pupuk anorganik,”.

Ani menyebutkan sekitar 200 ton bawang merah hasil panen raya para petani di Kabupaten Malaka, sejak pekan pertama Agustus, rencananya sebagian bakal diekspor ke Timor Leste.

Hal ini sekaligus menegaskan, bahwa NTT yang selama ini dikenali identik dengan kering dan hanya ada  jagung, sekarang ini dengan terobosan program UPSUS Kementan kemudian bisa ditanami komoditas lain secara baik termasuk bawang merah dan bahkan bunga krisan.

“Sudah mulai banyak sawah beririgasi terhampar dalam kawasan. Bahkan, ada yang satu kawasan bertaut sampai 4.000 hektare yaitu di Lembor, Kabupaten Manggarai Barat,” sebut dia. (linda)

Komentar

Komentar