Search
Friday 19 December 2014
  • :
  • :

Pemerintah Toleransi SPBU Jual BBM Kurang 0,5% Tiap Liter

Wakil Menteri Perdagangan RI, Bayu Krisnamurthi, didampingi Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, meresmikan Peluncuran Buku Daftar Perusahaan Wajib Tera, sekaligus melakukan Pencanangan Pembentukan Daerah Tertib Ukur dan Pasar Tertib Ukur Tahun 2013, Rabu (13/2) di Bandung, Jawa Barat.

Wamendag , Bayu Krisnamurthi, didampingi Dirjen SPK, Nus Nuzulia Ishak (berjilbab), Sesditjen SPK Widodo, Direktur Metrologi Hari Prawoko dan Cecep Cecep Mufti Cahyana (ketiganya bagian belakang) saat Launching Buku Daftar Perusahaan Wajib Tera, sekaligus Pencanangan Pembentukan Daerah Tertib Ukur dan Pasar Tertib Ukur Tahun 2013, Rabu (13/2/2013) di Bandung, Jawa Barat.

CIN- Direktorat Metrologi, Kementerian Perdagangan RI memastikan Bejana Ukur dan Pompa minyak di seluruh Stasiun Pompa Bahan Bakar Umum (SPBU) berjalan sesuai standard (bagus).

Tapi ingat! “Ente” beli BBM 1 liter, yang didapat tidak cukup 1 liter “Bung”. Yang didapat kurang hingga 0,5% tiap pembelian 1 liter.

Tapi ingat juga! Devisit 0,5% per liter itu adalah dalam batas yang ditoleransi oleh pemerintah Cq Direktorat Metrologi, Kementerian Perdagangan RI. Jadi itu sama sekali tidak bisa dipermasalahkan oleh siapapun.

Ketetapan ukuran sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Pemnedag) No.08/M-DAG/PER/03/2010 Tentang Alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya (UTTP) yang Wajib Ditera dan Ditera Ulang. Dan Permendag No. 50/M-DAG/Per/10/2009 tentang Unit Kerja dan Unit Pelaksana Teknis Metrologi Legal.

Berikut petikan wawancara khusus CIN dengan Direktur Metrologi, Hari Prawoko, akhir pekan lalu di ruang kerjanya (Bandung) menyusul rencana pemerintah menaikkan BBM subsidi 16 Juni 2013. Ini juga dikaitkan dengan pelayanan SPBU dengan konsumen sesuai UU.8/1999.

CIN: Harga BBM bersubsidi rencananya dinaikkan 16 Juni 2013. Bagaimana ketepatan Tera SPBU bila dikaitkan dengan perlindungan konsumen?

Hari Prawoko: Saya sendiri belum tahu persisnya kapan harga BBM dinaikkan. Tapi begini. Persaingan bisnis BBM setelah ada SPBU asing makin tinggi. Apalagi harganya lebih mahal (non subsidi). Kalau SPBU Pertamina menjual Rp9.100/liter,  di SPBU asing itu bisa Rp9.200/liter. Nah kalau mereka (SPBU) menjual Rp9.200/liter, tapi  ukurannya harus pas. Tapi kalau harganya mahal,  ukuran melenceng- siapa yang mau beli di situ?

CIN- Kalau bu Dirjen SPK Nus Nuzulia Iskhak, “Kalau konsumen beli BBM 1 liter ya dapatnya harus 1 liter. Jangan dikurang- kurangin dong,”.

Hari Prawoko: Ya memang benar harusnya begitu.

CIN- Jadi bapak bisa memastikan saat harga BBM naik 16 Juni 2013, ukuran BBM yang dibeli konsumen sudah tepat?

Hari Prawoko: Ohh kami sih sudah yakin. Bahwa teman – teman di Metrologi legal di daerah- daerah  itu secara kontiniu melakukan pengujian dalam rangka Tera dan Tera Ulang.  Namun demikian ya… bisa aja sih dalam perjalanannya, namanya juga alat ukut ya… Ohh dalam setahun itu bisa aja di tengah jalan terjadi penyimpangan. Nah, tapi kita juga sejak awal memberikan pencegahan. Jadi setiap SPBU itu  dilengkapapi yang namanya Bejana Ukur. Dia (petugas SPBU) pagi malah harus ngetes- harus ngontrol apakah alat ukur pompa bensinnya masih batas toleransi atau tidak. Begitu dia (petugas SPBU) mendapati di luar batas toleransi  harus memanggil petugas untuk ditera ulang.

CIN: Bagaimana dengan SPBU asing?

Hari Prawoko: Ya memang asing menjual BBM nonsubsidi. Tapi itupun sudah memberikan persaingan. Pelayanan SPBU makin bagus. Menguntungkan kami juga. Membantu secara tidak langsung. Walaupun kami berharap konsumen lebih kritis bila ada kecurigaan mengenai ketepatan ukuran. Walaupun itu secara teknis memerlukan waktu pembuktian. Tapi tentunya kami berharap konsumen tidak ragu- ragu melaporkan ke petugas Metrologi bila ditemukan ada pelanggaran terhadap dirinya.

CIN: SPBU lokal apa masih ada yang curang?

Hari Prawoko: Saya yakin. Apalagi sekarang Pertamina sudah pakai Pasti Pas. Adalagi sekarang  melalui bintang  4, bintang 3, kan- hebat itu. Ukurannya pas. Itu meringankan tugas kami juga. Apalagi mereka bersaing  dengan SPBU asing. Kalau ukurannya tidak tepat, siapa yang mau beli kesitu?

CIN: Persiapan seperti apa?

Hari Prawoko: Ohh kami sih sudah yakin bahwa teman – teman di Metrologi legal di daerah itu secara kontiniu melakukan pengujian dalam rangka Tera dan tera ulang. Namun demikian ya bisa aja sih dalam perjalanannya, namanya juga alat ukut ya. Ohh dalam setahun itu bisa aja di tengah   jalan terjadi penyimpangan. Nah, tapi kita juga memberikan pencegahan. Jadi setiap SPBU itu  dilengkapi yang namanya Bejana Ukur. Dia pagi malah. Harus ngetes- harus ngontrol apakah alat ukur pompa bensinnya masih batas toleransi atau tidak. Begitu dia (petugas SPBU) mendapati di luar batas toleransi  langsung harus memanggil petugas untuk ditera ulang.

CIN- Bagaimana kerjasama Metrologi dengan Hiswana Migas?

Hari Prawoko: Permainan transporter itu beragam. Misalnya membeli di depot Balongan (maksudnya Depot Pertamina di Indramayu). Itu bisa sampai ke Kuningan. Bayangin dari Balongan ke Kuningan- jaraknya berapa itu?  Itukan masa bisa kita control? Itu yang kerjasama kita dengan Hiswana Migas untuk memberikan peringatan kepada supir- supirnya jangan membawa Mobil Tanki ke penampungan illegal.

Berdasarkan data CIN, hasil uji petik atau (pengawasan terpadu) Direktorat Metrologi pada tahun 2011-2012, di SPBU seluruh Indonesia, faktanya secara umum melanggar. Tapi itu tadi, pelanggarannya tidak melebihi angka 0,5%.

Pengawasan di 10 SPBU Merak (Banten) No.34.423.03, 34.422.09, 34.153.05, 34.156.07, 34.424.07, 34.424.08, 34.423.10 dan 34.157.06. Rata- rata penyimpangan terhadap standar sebesar 0,082%. Tak ada yang melebihi tolerasi 0,5%.

Di Brebes (Jateng) diawasi 9 SPBU, BKD-nya 0,183%. Karawang 4 SPBU, BKD 0,112%, Cirebon 8 SPBU, BKD 0,068%, Tangerng 1 SPBU, BKD 0,16%, Bogor 3 SPBU 0,208%, Yogyakarta 22 SPBU, BKD nya 0,09%, Solo 3 SPBU BKD nya 0,105%. Juga tidak ditemukan pelanggaran melebihi tolerasi 0,5%.

Pengawasan di wilayah Regional I (Sumatera) terhadap 449 SPBU, hasilnya baik. Pun di Indonesia Timur sebanyak 280 SPBU.

Di 2 wilayah ini, rata- rata tingkat kesalahan pengukuran BBM terbesar -0,22%,  terkecil -0,06%. Untuk Pertamax, rata- rata kesalahan -0,18% dan Premium -0,14%. Terkecil -0,11%.

Seperti diketahui harga BBM subsidi itu akan dinaikkan dari harga semula Solar Rp4.500 menjadi Rp6.000/liter, Premium dari Rp4.500 menjadi Rp6.500/liter. (olo)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *