Home Breaking News Pemerintah Dorong Industri Kreatif Lebih Produktif

Pemerintah Dorong Industri Kreatif Lebih Produktif

3549
Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsing berfoto bersama di salah satu stan produk kerajinan pada Pameran dan Bazar Produk Kreatif Nusantara di Plasa Pameran Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (14/3/2017). Foto: Humas Kemenperin.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tuntut industri kreatif untuk terus melakukan inovasi agar mampu berdaya saing dan meningkatkan nilai tambah produknya sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

“Hal ini sesuai Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif. Untuk itu, kami memacu upaya tersebut dengan melaksanakan berbagai kebijakan strategis seperti fasilitasi pameran ini,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih, usai membuka secara resmi Pameran Produk Kreatif Nusantara yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (14/3/2017).

Gati menyampaikan, industri kreatif menyumbang sekitar 7,05% atau Rp642 triliun terhadap total PDB Indonesia pada tahun 2015. “Kontribusi terbesar berasal dari sektor kuliner sebanyak 34,2%, mode atau fashion 27,9%, dan kerajinan 14,88%,” sebutnya.

Industri kreatif nasional juga dinilai telah mampu bersaing di pasar global. Kekuatan ini terletak pada sumber bahan baku yang melimpah dan berkelanjutan, didukung dengan keragaman corak dan desain produk yang berciri khas lokal, serta ditunjang oleh para perajin yang cukup kompeten.

“Di pameran ini, kita bisa lihat beragam inovasi pelaku industri kreatif yang membuat bahan bekas menjadi produk kreatif bernilai seni tinggi,” ujarnya.

Gati mencontohkan, botol plastik yang dapat dikemas menjadi lampu hias, kardus bekas dapat menjadi google cardboard dan bahan bekas potongan kayu diolah menjadi cover buku agenda.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Direktorat Jenderal IKM Kemenperin, IKM terus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri yang cukup signifikan setiap tahun.

Hal ini terlihat dari capaian pada tahun 2016 meningkat 18,3% atau sebesar Rp520 triliun dibandingkan pada 2015. Sementara itu, nilai tambah IKM di tahun 2014 tahun naik 17,6% menjadi 439 triliun dari sebelumnya hanya Rp373 triliun.

“Untuk memacu produktivitas dan daya saing IKM, kami akan memberikan fasilitas pada tahun ini berupa pengembangan produk, restrukturisasi mesin dan peralatan, serta promosi dan pameran,” tutur Gati.

Dengan adanya pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), menurut Gati, pasar bebas tersebut bisa menjadi peluang dan tantangan bagi industri dalam negeri khususnya sektor IKM.

“Oleh karena itu, Kemenperin melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasinya, antara lain melalui penyusunan dan implementasi Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap produk kerajinan,” ucapnya.

Selain itu, diperlukan penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sebagai rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan keahlian, serta melaksanakan kegiatan pelatihan-pelatihan dalam rangka mengembangkan kemampuan para perajin di Indonesia.

“Hal lain yang tidak kalah penting adalah menguatkan branding produk nasional,” imbuhnya. Untuk itu, Kemenperin telah meluncurkan program e-Smart IKM yang mewadahi para pelaku IKM potensial untuk memasarkan produk unggulannya yang berkerjasama dengan marketplace yang sudah ada. “Karena jaminan kualitas dan ketepatan waktu adalah kunci untuk mencapai keberhasilan pemasaran,” tegasnya.

Gati memastikan, IKM yang telah memanfaatkan pemasaran melalui online mampu meningkatkan nilai penjualannya hingga tujuh kali lipat. “Hal ini yang terus kami dorong, karena dengan income meningkat, produkstivitasnya akan naik, dan tenaga kerjanya juga bertambah,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua ISWI Retno Sri Endah Lestari mengakui pihaknya aktif membina pelaku IKM dalam negeri agar terus produktif dan berdaya saing melalui pelaksanaan program pendidikan, pelatihan, dan pemasaran.

“Kami berdiri sejak tahun 1956, dengan ribuan anggota di seluruh Indonesia yang memiliki multi disiplin ilmu seperti bidang teknologi dan manajemen,” ujarnya.

Melalui pameran ini, ISWI berharap dapat mengangkat potensi produk unggulan IKM dari berbagai daerah.

“Kami rutin memfasilitasi pelaksanaan pameran IKM, tidak hanya mereka yang berasal dari kota besar saja, namun juga daerah perbatasan seperti Entikong, Sebatik, dan Nunukan. Bahkan dari lapas,” ungkapnya.

Untuk itu, melalui kerja sama dengan Kemenperin ini, dapat pula mendorong pertumbuhan wirausaha baru untuk mencapai target pemerintah sebanyk 20.000 pengusaha pada tahun 2019.

Komentar

Komentar