Home Breaking News Pasuruan, Wisata Yang Patut Anda Jelajahi

Pasuruan, Wisata Yang Patut Anda Jelajahi

258
Objek Wisata Di Kabupaten Pasuruan.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Jawa Timur tak hanya punya Surabaya dan Malang untuk dijadikan tempat wisata pilihan. Cobalah bergeser sedikit ke Pasuruan, yang lokasinya berada 60 kilometer sebelah tenggara Surabaya.

Objek wisata pertama yang bisa Anda kunjungi di Pasuruan adalah Taman Safari, di Desa Jatiaro, Prigen. Kebun binatang seluas 400 hektare ini dibangun dengan konsep modern, satwa-satwa dilepas secara bebas seperti di habitat aslinya.

Salah satu fasilitasnya adalah Safari Adventure, pengunjung dapat mengenal satwa lebih dekat, mengetahui bagaimana tingkah laku satwa di habitat aslinya dan bisa memberikan makanan secara langsung untuk satwa.

Taman Safari ini juga memiliki beberapa wahana air, yaitu Pirate Ship Park, Gigantic Water Slide, Angkor Wat, dan Crocodile Cave Lazy River. Ada juga wahana permainan, seperti roller coaster, puri misteri, bom-bom car, bom-bom boat, rio bravo, dan sepeda layang.

Adapun pertunjukan seperti Sang Harjuna yaitu pergelaran drama berkolaborasi dengan satwa eksotis yang menceritakan kerajaan hindu di tanah india, Dolphins And Friends, pertunjukan edukasi tentang lumba-lumba, singa laut, dan linsang.

Lalu ada Jungle Boy, pertunjukan edukasi tentang petualangan seorang manusia rimba yang memiliki beberapa sahabat satwa dengan berlatar belakang hutan. Aksi kedekatan penjaga dengan harimau bisa disaksikan dalam Tiger Show. Bagi yang tertarik mengamati burung, ada juga kegiatan Bird Watching.

Tiket masuk Taman Safari ini cukup beragam, sesuai fasilitas apa saja yang ingin didapatkan, harga tiket mulai dari Rp80-195ribu.

Pantai Lekok

Hasil gambar untuk pasuruan Pantai Lekok

Pasuruan juga punya wisata pantai di Kecamatan Lekok. Di Pantai Lekok ini, pengunjung bisa melihat bendera aneka ukuran menghiasi perahu-perahu yang berada di tepi pantai. Bendera tersebut merupakan wujud semangat dan harapan para nelayan yang akan terus berkobar.

Selain menikmati suasana pantai, pengunjung dapat melihat aktivitas warga di kampung nelayan. Bila datang pada liburan Idul Fitri, Anda akan menyaksikan tradisi ski lot yang dilakukan oleh para nelayan.

Tradisi turun temurun tersebut merupakan kegiatan ski atau berselancar di lumpur sambil menangkap kepiting, ikan lele, dan belut.

Pemandian Banyu Biru

Hasil gambar untuk pasuruan Pemandian Banyu Biru

Alternatif objek wisata di Pasuruan adalah Pemandian Banyu Biru di Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan. Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati kesegaran air di kolam yang konon telah ada sejak 1847.

Uniknya, di dalam kolam terdapat ikan tombro, yang menurut warga, jumlah dan ukuran ikannya tak pernah bertambah dan berkurang sejak zaman dahulu. Mungkin terasa aneh berendam bersama ikan, tetapi tak perlu khawatir, karena ikan tak mengganggu.

Pemandian ini pun memiliki cerita mistis. Menurut Subandi, juru kunci pemandian, sumber air Banyu Biru sudah ada sejak ribuan tahun dan dimanfaatkan sebagai pemandian pada masa akhir Kerajaan Majapahit.

“Kawasan ini jadi lokasi peristirahatan raja dan petinggi-petinggi kerajaan. Kolam ini digunakan untuk para laki-laki dan di atas ada kolam lagi untuk para perempuan,” ujar Subandi.

Subandi juga mengatakan bahwa air di kolam ini dipercaya dapat menjadi obat dan membuat awet muda. Sedangkan ikan tombro yang berwarna hitam di kolam juga disebut ikan dewa.

Danau Ranu Grati

Hasil gambar untuk pasuruan Danau Ranu Grati

Ranu Grati merupakan danau alami yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik salah satu gunung berapi. Dasar danau ini mengandung sedimen mineral, menjadi bukti penguat status Ranu Grati sebagai danau vulkanik.

Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Ranu Grati sendiri merupakan danau alamiah yang mempunyai luas sekitar 1.085 hektare.

Danau ini juga tak lepas dari cerita rakyat. Legenda berlatar belakang Kerajaan Majapahit ini menceritakan tentang amarah Begawan Nyampo kepada masyarakat yang telah membunuh puteranya yang berwujud ular bernama Baru Klinting.

“Jadi waktu zaman Majapahit ada Begawan Nyampo, dia marah anaknya yang berwujud ular dibunuh masyarakat. Dia menantang warga satu desa untuk berkelahi dengannya, kemudian dia menancapkan tongkat, siapa yang berani dan bisa mencabut tongkat itu, dialah lawan yang sepadan untuk Begawan Nyampo. Tapi enggak ada yang bisa, akhirnya dicabut sendiri tongkat itu, dan mata air keluar, jadi danau sekarang. Silakan percaya atau tidak, tapi itu cerita orang-orang zaman dahulu begitu,” papar Slamet. (beritagar)

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar