Home Breaking News Pasar Tradisional Urat Nadi Perekonomian Jangan Cuma Jargon Semata!

Pasar Tradisional Urat Nadi Perekonomian Jangan Cuma Jargon Semata!

75
ilustrasi

PASAR TRADISIONAL. Disebut- sebut sebagai ‘Urat Nadi Perekonomian Rakyat’. Benarkah? Jangan – jangan cuma sebatas jargon semata ‘ibarat pentol korek api pengorek congek dari dalam kuping’. Bila itu yang terjadinya, akan jadi pukulan telak dan menyakiti naluri rakyat Indonesia, secara keseluruhan. Pasti itu! Jadi pemerintah jangan main. Harus betul- betul janji Nawacita itu dibuktikan. Dan kita harus terus mengawasinya!

Ingat kawan! Jangan cuma membangun pasar saja. Menghabiskan triliunan rupiah APBN. Itu dari sektor pajak rakyat setiap bulan loh. Pastinya tanpa pendampingan dari aparat terkait untuk manajemen yang baik kepada para pedangan pasar rakyat, maka mereka takkan pernah berkembang. Jangan harap. Mereka hanya sebagai pedagang yang bagai Ayam Broiler, mengais – cari pagi untuk makan malam, dan tidak bisa menabung dan sebagaimana seperti para entrepreneur sektor lainnya yang sudah berdagang dengan sistem onlie, super hamat, tak perlu sewa kios dan tetek bengek lainnya. Itulah yang mereka hadapi sekarang. Nah, gimana pedagang pasar berkembang tanpa bimbingan? Contoh sudah banyak. Lihat pasar Glodok, Jakarta Barat, Pasar Baru, Jakpus, Pasar Senen atau Pasar Jati Negara, jaktim, kini mangkrak. Kondisi sama terjadi di seluruh Indoensia. Pasar tradisonal mapun ritel moderen, kini kalah saing dengan pedagang online. Ini harus dipikirkan pemerintahan Jokowi- JK.

Karenanya, pemerintah harus memberikan bimbingan yang terukur bagi para pedagang pasar tradisional demi terciptanya sebuah trik berdagang yang baik, profesional dan memiliki market yang jelas. Maka menejemen harus baik – perhitungan akurat. Bila menejemen asal- asalan…. ya itu tadi pedagang itu bagai Ayam Broiler- dikagetin sedikit langsung pingsan. Sama artinya berkaca cermin retak. Bila itu adanya, berimplikasi kepada para petani, pengumpul dan konsumen itu sendiri, misalnya menjual barang semau gue…. harga melonjak gak karuan, rakyat menjerit, pasar tak kondusif, pedagang dikrangkeng Tim Satgas Pangan!

Presiden Jokowi disaksikan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel meletakkan batu pertama pembangunan 1000 Pasar Tradisional di Pasar Manis, Kedung Wuluh, Purwokerto Barat (Jateng), Selasa (30/6/2015). Foto Ton

Pembangunan menejemen bagi para pedagang pasar tradisonla itu sangat urgen sifatnya. Pemerintahan Jokowi-JK wajib menjamin perkembangan para pedagang pasar tradisional dalam sistem keuangan, pembayar pajak, memiliki NPWP sehingga mereka bisa menjadi pengusaha yang bankabel.

Pemerintah juga wajib memberikan modal usaha untuk memperkuat kemampuan para pedagang cilik itu. Jadi Jokowi- JK jangan cuma mikirin bangun jalan tol, bandara, Kereta Cepat, MRT dan sebagainya. Itu takkan berarti bila perut rakyat terganggu.

Pembarian modal kepada wong cilik itu misalnya untuk membeli alat pendingin seperti kulkas untuk mengawetkan komoditas dagangan mereka yang umumnya komoditas hasil pertanian, sayur, cabai, bawang, daging sapi dan lainnya. Kemudian pemerintah juga harus memberikan ruang usaha atau toko memadai bagi mereka sebagai sarana berdagang dengan harga murah, seperti di PD Pasar Jaya, Jakarta, menyiapkan koperasi di lingkungan pasar sebagai sarana simpan- pinjam modal juga bank berbunga kecil atau syariah juga bagus.

Yang tak kalah penting adalah pasokan untuk menjamin ketersediaan barang – barang pokok untuk diperdagankan para pedagang. Maka suplay harus lancar setiap hari dari sentra produksi agar harga ‘jinak’ tidak melonjak- lonjak. Pemerintahan Jokowi tidak galau. Karena  kalau harga melonjak- lonjak, pada akhirnya yang korban adalah rakyat atau konsumen, inflasi membubung tinggi, gain ekonomi negeri ini di mata investor dunia hingga Bank Dunia World Bank cetek alias rendah. Maka mereka akan menilai Indonesia bukan destinasi investasi yang menarik. Bila itu yang terjadi, penulis memastikan angka pengangguran tak terserap bahkan angka kemiskinan melonjak lagi dari angka terkini hampir 30 juta orang verswi BPS Pusat.

Sekedar tahu, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen), bertambah sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen) bulan Maret 2017.

‘Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2016 sebesar 7,73 persen, turun jadi 7,72 persen pada Maret 2017. Sementara, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2016 sebesar 13,96 persen, turun menjadi 13,93 persen pada Maret 2017′, ujar BPS, Senin (17/7/2017).

Di samping itu, untuk menarik konsumen kembali berbelanja ke pasar tradisional, lingkungan pasar harus bersih, tidak bau sangit apalagi cek- becek, keamanan terjamin 24 jam, sehingga kembali menjadi ‘roh’ denyut perekonomian rakyat sekaligus membangun kearifan lokal di manapun pasar itu berada.

Itulah antara lain yang harus disiapkan leading sector Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kemenkop, Pemda- pemda, Perum Bulog untuk memberdayakan para pedagang kecil yang umumnya masyarakat kecil. Dan lebih esensial bahwa triliun rupiah dana APBN membangun 5000 Pasar Tradisional Tahun periode 2014 – 2019 diharapkan menjadi berkah bagi mereka. Insya Alahh mereka bisa menyekolahkan anak- anaknya dan mudah- mudahan menjadi presiden seperti Jokowi- yang berlatar belakang anak wong cilik, anak seorang pengrajin Meubel di Solo, sana! Kalau sudah garis tangan siapa yang bisa menghalanginya?

Data kami peroleh dari Kementerian Perdagangan, total pasar yang sudah dibangun hingga Oktober 2017 sebanyak 4516 unit di seluruh Indonesia.

Masing – masing :

  1. Tahun 2017 berhasil membangun pasar tradisional 2.710 unit,
  2. Tahun 2016 sebanyak 783 unit,
  3. Tahun 2015 sebanyak 1023 unit.

Total target pembangunan pasar tradisional dilanunching Presiden Joko Widodosebelumnya sebanyak 5000 pasar periode tahun 2015- 2019. Artinya Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koperasi UKM dan Pemda- pemda masih harus berjibaku membangun 484 unit pasar lagi hingga tahun 2019. Dalam arti 1000 pasar setiap tahun.

Sekedar tahu, Jumat (29/12/2017), Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, Walikota Pontianak, Sutarmidji serta Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki menandatangani prasasti peresmian Pasar Tengah Pontianak.

Selain Pasar Tengah, Jokowi juga meresmikan 4 Pasar Rakyat di Kalbar yakni Pasar Pangkalan Mas dan Pasar Jungkat Kabupaten Mempawah, Pasar Tebas Kabupaten Sambas serta Pasar Kapuas Raya Kabupaten Sintang.

Program bangun dan revitalisasi pasar – pasar tradisional ini dilanching  Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara simbolis meluncurkan revitalisasi 1.000 Pasar Rakyat Tahun 2015, di Pasar Manis, Kelurahan Kedung Wuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, Selasa (30/6/2015).

‘Pasar tradisional kita tetap menjadi pasar yang tidak teratur, becek, bau, tempat parkir tidak ada, manjemen pedagang tidak pernah dibina. Inilah pekerjaan besar kita dalam lima tahun mendatang kalau tidak dikerjakan’, kata Jokowi didampingi Menteri Perdagangan Rahmat Gobel dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko.

Inti sarinya sbb :

  1. Presiden Jokowi dan jajaran harus membuktikan kinerjanya bahwa dengan membangun 10.000 pasar hingga tahun 2019, wajib mensejahterakan para pedagang pasar tradisional di seluruh tanah air dan merawat pasar yang direvitalisasi dan yang dibangun itu dengan baik seperti merawat dirinya sendiri!
  2. Sejatinya Presiden Jokwi membangun suah Hub atau Gudang khusus ketersediaan seluruh bahan pangan pokok atau Sembako untuk menjamin ketersediaan dan pasokan kepada para pedagang untuk mereka jual di pasar memenuhi perut rakyat. Ketersediaan dan stabilitas pasokan, menjadi visur stabilnya harga Sembako supaya tidak mendongkrak inflasi maupun mengganggu ruang fiskal kita.
  3. Tulisan ini refleksi terkait gonjang- ganjing atau melonjaknya harga berbagai komoditas pangan seperti Daging Sapi sempat tembus Rp160.000/Kg di berbagai daerah Indonesia termasuk Jakarta, harga Telur Ayam Broiler menjelang Natal Tahun 2017 dan menjelang Tahun Baru 2018 tembus Rp29.000/Kg dan lainnya serta kasus Beras PT Ibu tidak lagi terjadi pada tahun 2018. Biarlah itu semua pelajaran berharga bagi kita, sebagai soko guru. Dan mari kita tinggalkan peristiwa itu dan melangkah ke depan memperbaiki segala kekurangannya. ‘Selamat tinggal tahun 2017- selamat datang Tahun Baru 2018’. 

Oloan Mulia Siregar

Direktur Eksekutif Citra Institute

Email; [email protected]

 

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar