Weather United States Of America, Ashburn United States Of America, Ashburn +26°C

Citra Indonesia

Pasar Tanah Tinggi, Cabe Rp30.000/Kg

Pasar Tanah Tinggi, Cabe Rp30.000/Kg

January 06
17:47 2011

Jakarta (Citra Indonesia): Kementerian Perdagangan tidak menampik kemungkinan adanya dugaan praktek oknum spekulan dalam kasus melonjaknya harga cabe hingga tembus Rp90.000/kg.

“Spekulan mungkin saja dapat bermain dalam gejolak harga cabe. Namun sangat beresiko mengingat ketahanan komoditas hanya tiga hari,” kata Gunaryo, Sesditjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag kepada wartawan dalam pemantauan di Pasar Tanah Tinggi Tangerang, Kamis (6/1/2011).

Dalam pantauan di pasar tersebut, untuk cabai merah kriting kualitas bagus semula Rp45.000/kg, sekarang Rp30.000-35.000/kg.  Untuk cabai kriting merah kualitas biasa semula harganya Rp35.000/kg, sekarang hanya Rp25.000.

Menurut Gunarnyo, pihaknya terus memantau pergerakan harga produk pertanian tersebut karena telah meresahkan masyarakat.  Di mana harga cabe di tingkat pengecer sempat menyentuh Rp90.000/kg, kini harga cabe mulai berangsur turun.  Namun di Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang, Kamis (6/1/2011) pedagang menjual Rp65.000/kg.

Budi Prayogo, ketua Komisi II DPRD Prov Banten mengatakan kepada pers dalam pantauan tersebut mengatakan  fluktuasi atau perbedaan harga cabe bisa terjadi di Jakarta dan Tangerang.

“Perbedaan tata niaga beras dan cabe menyebabkan terjadinya perbedaan harga,” kata Budi Prayogo.

Menurutnya perbedaan harga cabe di Tangerang dan Jakarta lebih disebabkan ketimpangan tata niaga yang akhirnya mempengaruhi supply and demand. Pasokan cabe ke Jakarta dan Tangerang masih mengandalkan produksi dari Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim).

Sementara pasokan dari luar pulau Jawa, seperti Sulawesi (Gorontalo, Manado), Sumatera (Lampung, Medan) sangat sedikit. ”Kalau masalah beras, pemerintah punya rumusannya dan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Kita tahu bagaimana siklus musim-an, dan panennya. Tetapi kalau cabe, kita belum tahu bagaimana

Tata niaga beras masih bisa diawasi dengan mekanisme Bulog sebagai penyanggah. Sementara cabe masih belum ditata, sehingga harganya yang melambung tinggi masih menjadi tanda tanya besar.

Bencana alam seperti letusan gunung Merapi di Jateng, dan gunung Bromo di Jatim merupakan yang paling memungkinkan untuk dijadikan alasan melonjaknya harga cabe.

”Karena cabe belum ada tata niaganya, sehingga kondisinya seperti yang kita lihat sekarang ini, harga sangat mahal,” jelasnya.

3 pasar induk:

Tiga Pasar Induk, yaitu Tanah Tinggi Tangerang, Kramat Jati Jakarta, Cibitung dalam keadaan normal mencapai 200 s/d 300 ton. Sementara kondisi sekarang ini, untuk pasokan di Tanah Tinggi hanya sekitar 40 ton.

Kondisi ini yang mengakibatkan harga cabe meningkat. Pasar Induk Tanah Tinggi juga merupakan ujung mata rantai distribusi pasokan, setelah Kramat Jati dan Cibitung. Sehingga, harga komoditi termasuk cabe biasanya lebih mahal 5-10 persen dibanding Kramat Jati dan Cibitung.

Selain itu, supply and demand berakhir biasanya di Tanah Tinggi. Karena Tanah Tinggi merupakan salah satu lokasi paling ujung dari limpahan pasokan berbagai komoditi dari Jateng, Jatim, Jabar, bahkan Sumatera dan Sulawesi .

“Kalau stok cabe sudah tidak ada di Kramat Jati dan Cibitung, jangan berharap pembeli bisa menemukan di Tanah Tinggi. Karena distribusi bahan pokok akan mentok di Tanah Tinggi,” kata Harun, pedagang Tanah Tinggi. (dewi)

Share

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Cari Konten