Home Indonesian Way Parkir Bertingkat

Parkir Bertingkat

283
VW Classic

Oleh : Marzuki Usman

Salah satu karya nyata dari pembangunan ekonomi Indonesia, adalah setiap hari selalu bertambah jumlah mobil dan sepeda motor yang terus memadati jalanan. Kalau, selama dasa warsa tahun 1970 an, jumlah mobil dan sepeda motor di Jakarta relatif belum banyak betul. Pada waktu itu, penulis bersama keluarga bisa pada hari Minggu berkunjung ke kota Bandung, pulang hari ke Jakarta. Kita berangkat pada jam 7.00 pagi dengan mobil VW-Combi, ke Bandung, dan sempat pula ke kawah Tangkuban Perahu, dan toh masih bisa kembali ke Jakarta pada hari yang sama, pada jam 17.00 sore. Pada suatu hari, penulis mau pergi ke Ciputat, dan sebelum masuk pasar Ciputat, jalanannya pada macet, maka penulis memutuskan kembali ke rumah saja.

Pada dasa warsa tahun 2010 an, misalnya pada tahun 2014 ini, yang macet bukan lagi jalan di kota, yakni jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk, yang pada dasa warsa 1970 an pastilah macet, tetapi sekarang semua jalan-jalannya pada macet. Bahkan jalan tol juga pada ikut macet. Barangkali, di dunia ini hanya di Indonesia saja yang jalan tolnya macet berjam-jam?

Apakah kita harus menyerah dan menerima saja kemacetan ini sebagai suatu datum. Artinya, sebagai fakta yang tidak terelakan, dan harus kita telan saja? Menurut hemat penulis, kita harus belajar dari pengalaman kota-kota lain di dunia didalam mengatasi jalanan yang pada macet ini.

Ketika penulis berkunjung ke kota-kota besar di China pada tahun 2013 yang lalu,penulis melihat banyak sekali bangunan gedung parkir mobil bertingkat, yang tersusun rapi. Ketika mobil mau di parkir di gedung parkir bertingkat itu, yang bentuknya seperti menara. Mobil tersebut diambil oleh petugas, dan sipengendara mobil, diberi kartu tanda terima parkir. Lalu mobil tersebut, naik dengan sendirinya melalui lift, dan kemudian dengan secara otomatis disimpan di tempatkan di lokasi parkirnya. Persis seperti menata barang saja yang secara otomatis di gudang.

Andaikata fasiltas gedung parkir atau menara parkir bertingkat diperkenalkan di Jakarta, barangkali masalah kemacetan lalu lintas akan dapat teratasi. Misalnya pemerintah DKI menawarkan mereka-mereka pemilik rumah disepanjang jalan-jalan yang bermuara ke jalan Gajah Mada dan atau jalan Hayam Wuruk, akan diberikan fasilitas kredit usaha gedung parkir bertingkat. Yang punya rumah akan pindah ke lantai atas dari gedung parkir bertingkat. Dan, di gedung parkir ini, mobil-mobil akan diparkir secara otomatis oleh suatu mesin.

Kemudian Gubernur Provinsi DKI mengeluarkan peraturan bahwa mobil-mobil tidak boleh lagi parkir disepanjang jalan. Dan, mobil haruslah diparkir di gedung parkir bertingkat. Barang siapa yang melanggar, maka mobilnya akan ditarik, dan dipindahkan ke suatu tempat. Sipemilik mobil ini haruslah membayar denda yang mahal. Maka, dapat dibayangkan dalam waktu singkat kota Jakarta akan terhindar dari kaemacetan.

Apabila pola perparkiran seperti ini dijalankan oleh seluruh kota menengah, besar, dahulu Kota Madya, maka kota-kota ini yang jumlahnya sebanyak lebih dari 100 kota, pastilah akan menjadi kota yang enak, nyaman, dan asri untuk dihuni.

Hal seperti inilah yang terjadi di China. Kota-kotanya bersih dan banyak taman-tamannya. Jalan rayanya lebar-lebar. Dan untuk pejalan kaki, disediakan lebar-lebar jalan yang sangat leluasa. Kalaupun ada kemacetan lalu lintas di kota besar, tetapi sifatnya kebanyakan jalan sedikit lambat dan lancar. Kalau kita di Indonesia di jalan Tolnya ada papan informasi yang menayangkan kalimat seperti, “Grogol – Cawang, padat merayap!”

Seperti biasa penulis tidak pernah mau menyerah kepada keadaan atau nasib. Kalau China bisa, maka Indonesiapun harus bisa. Bukanlah kita telah meneriakan slogan, :”Indonesia bisa!” Semogalah!

 

Komentar

Komentar