Home Breaking News Panglima TNI : Pancasila Tidak Boleh Diubah Sudah Final

Panglima TNI : Pancasila Tidak Boleh Diubah Sudah Final

170
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat memberikan pengarahan pada pserta Rakornas Partai Hanura di Bali, Jumat (4/8/2017).

BALI, CITRAINDONESIA.COM- Pancasila sebagai Ideologi Negara tidak boleh dirubah dan sudah final, karena Pancasila dirumuskan dengan nilai-nilai Ketuhanan yang sudah disepakati oleh para pemuka agama pada awal kemerdekaan.

“Untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan negara Republik Indonesia sepanjang masa kita harus menguatkan persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Inilah landasan dan semangat kebangsaan yang harus kita yakini dan Pancasila sebagai dasar negara masih tetap kuat,” jelas Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Hal tersebut ditegaskan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, di hadapan 1.651 peserta Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Hanura, di The Stone Hotel, Jl. Raya Pantai Kuta, Banjar Legian Kelod, Bali, Jumat (4/8/2017).

Lebih lanjut Nurmantyo mengatakan bahwa, Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil kesepakatan bersama para pendiri bangsa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia.

“Kalau ada Ulama, Pendeta atau siapapun dia yang akan merubah Pancasila dengan ideologi lain, dia pasti orang-orang yang sudah disusupi dari luar dan dibayar untuk merusak atau memecah belah bangsa Indonesia,” tegasnya.

Mengenai perkembangan penduduk dunia luar biasa, di mana energi dan pangan makin berkurang, lanjutnya, ini dapat menyebabkan persaingan global antar negara di dunia, karena dunia tidak bertambah luas tetapi semakin sempit.

“Apabila hal ini tidak terkontrol, dikhawatirkan kebutuhan sumber daya alam berupa energi dan pangan dimasa mendatang akan menimbulkan konflik,” katanya.

Panglima TNI menambahkan bahwa menurut teori Maltus (1798) perkembangan populasi penduduk meningkat seperti deret ukur, sedangkan ketersediaan pangan meningkat ibarat deret hitung. Apabila garis pertambahan penduduk dengan garis ketersediaan pangan bersinggungan di suatu titik, maka disitulah terjadinya titik kritis.

“Kalau kita analisa teori tersebut maka ketersediaan pangan dan energi akan sangat terbatas, karena jumlah penduduknya berkembang secara pesat, ini merupakan warning bagi Indonesia dimasa yang akan datang,” ungkapnya.

Bahwa kata Nurmantyo mengatakan, Bung Karno pernah mengingatkan kita tentang  kekayaan alam Indonesia akan membuat iri negara-negara lain di dunia. Demikian juga Presiden RI Ir. Joko Widodo pada saat disumpah di Senayan dalam sambutannnya mengatakan kaya akan sumber daya alam justru akan menjadi petaka.

“Jadi Presiden RI Pertama dan Presiden RI saat ini mengingatkan kita semuanya harus waspada,” tutupnya. (putu)

Komentar

Komentar