Home Breaking News Monitor Luas Tanam Harian, Kementan Gunakan Teknologi Penginderaan Jauh

Monitor Luas Tanam Harian, Kementan Gunakan Teknologi Penginderaan Jauh

335
Tanaman padi berusia sekitar 20 hari yang rawan diserang hama. (Foto: Eman/Citraindonesia)

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Direktur Jenderal Tanaman pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Gatot Irianto menegaskan bahwa penghitungan luas panen sudah menggunakan teknologi penginderaan jauh.

“Cara ini dinilai lebih praktis, efisien dan cepat dan di update setiap 16 hari sekali,” tegasnya melalui siaran tertulis yang diterma citraindonesia.com, di Jakarta, Sabtu (15/7/2017).

Selain itu, Kementan juga saat ini telah bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan mengolah data dari citra setelit landsat-8. Sehingga lebih mudah melakukan monitoring luas tanam padi dan jagung secara harian dan berjenjang, mulai dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional.

Data dikumpulkan petugas lapangan dan dikirim melalui SMS ke smscenter dengan aplikasi secara online. Data luas tanam harian ini diperlukan untuk kepentingan intern kementan sebagai bahan pengambilan kebijakan dan langkah teknis operasioanal di lapang guna meningkatkan produksi.

Sebagai contoh untuk target luas tanam padi nasional bulan Juli 2017 seluas 1.179.065 ha, realisasi sampai dengan tanggal 14 Juli 2017 seluas 415.801 ha. Begitu juga untuk jagung, kedelai, cabai, bawang merah, Inseminasi Buatan (IB), sapi bunting, sapi melahirkan dan lainnya.

Kementan sepakat dengan apa yang disampaikan Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono yang menyatakan bahwa pengujian di Kabupaten Indramayu dan Garut pada 2015 tidak dimaksudkan untuk memperkirakan produksi.

Uji coba digelar untuk memperbaiki cara menghitung selama ini dengan SP-padi. Hasil uji coba Kerangka sampling area (KSA) tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan luas panen sebab masih ada kekurangan.

Dalam upaya untuk meningkatkan keakurasian data pangan tersebut, Kementan bersama Institusi terkait saat ini sedang berupaya meningkatkan keakurasiannya. Selain itu, dalam mewujudkan mimpi besar tersebut, segala upaya sedang digalakkan Kementan dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Sedangkan untuk menghindari kesimpangsiuran data, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementan Suwandi mengungkapkan sudah ada kebijakan “satu data” dikoordinasikan BPS bersama Kementan, BPPT, LAPAN, BIG, BPN dan lain, melalui roadmap yang sudah disusun untuk memperbaiki data pangan.

“Sesuai roadmap berbagai metode perbaikan data pangan sudah harus diselesaikan pada 2018,” ungkap Suwandi.

Ia menjelaskan beberapa metode perbaikan pengumpulan data yakni BPS dengan BPPT mengembangkan metode Kerangka Sampling Area (KSA). Kementan bersama LAPAN telah memanfaatkan satelit landsat-8 memantau data luas tanam dan panen padi detil sebaran spasial dan data tabular.

Data citra satelit ini resolusinya 1 pixel setara 30x30m atau 900m2 dan resolusi temporal 16 hari sekali. Data hasil citra disajikan transparan bisa akses publik ke: http://sig.pertanian.go.id

“Demikian juga guna memperbaiki perhitungan produktivitas padi metode ubinan, Kementan juga mengembangkan metode ubinan padi jajar legowo. Untuk diketahui tanam padi pola jajar legowo ini berpengaruh nyata pada produksi padi,” pungkasnya. (*)

Komentar

Komentar