Home Breaking News Meski Status Awas, Gunung Agung Tak Dapat Dipastikan Kapan Meletus

Meski Status Awas, Gunung Agung Tak Dapat Dipastikan Kapan Meletus

514
Gunung Agung Bali.

BALI, CITRAINDONESIA.COM- Hingga saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, Gunung Agung di Bali memasuki fase kritis, namun dmikian belum dapat dipastikan kapan akan meletus atau erupsi.

“Meski berstatus awas, tidak diketahui pasti kapan meletus. Tidak ada instrumen yang bisa memprediksi kapan gunung akan meletus,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers Antisipasi Menghadapi Letusan Gunung Agung di Bali di kantor BNPB, Jakarta, Senin (25/9/2017).

Sutopo menyampaikan, saat ini BNPB juga telah menetapkan kawasan rawan bencana (KRB) I-III di mana radius 12 kilometer dari kawasan Gunung Agung tidak boleh lagi ada aktivitas apapun.

“KRB III merupakan kawasan paling berbahaya. Awan panas yang meluncur temperaturnya bisa 600-800 derajat celcius. Kekuatan luncurannya pun mencapai 30 km per jam,” ucapnya.

Tipe letusan Gunung Agung yang vertikal pun akan membawa aliran lava, guguran batu, lontaran baju pijar dan abu lebat. Di radius berbahaya yang ditetapkan BNPB ini terdapat 62.000 jiwa dan mereka semua harus mengungsi.

“Hingga saat ini, jumlah pengungsi mencapai 48.540 jiwa di 301 titik di sembilan kabupaten seperti Buleleng, Gianyar, Bangli, Karangasem, Jembrana, Tabanan dan Badung,” ungkapnya.

BNPB pun sudah memberikan bantuan Rp1 miliar ke Bupati Karangasem. BNPB masih memiliki dana penganggulangan bencana sebesar Rp 2 triliun.

“BNPB sudah menyiapkan rencana kedaruratan jika terjadi erupsi besar,” ucapnya.

Selain itu, saat ini BNPB memastikan penerbangan ke Bali masih normal. Lokasi wisata di Bali pun lanjutnya, masih aman untuk dikunjungi kecuali di radius 12 km dari Gunung Agung. Di lokasi tersebut hanya ada objek wisata Pura Besakih dan kawasan pendakian Gunung Agung.

Sekedar tahu, Gunung Agung meletus terakhir kalinya di tahun 1963. Letusan tersebut terjadi selama satu tahun dari 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964. Dampak letusan menyebabkan 1500 jiwa tewas, 1700 rumah hancur, 225.000 jiwa kehilangan mata pencaharian dan 100.000 jiwa mengungsi. (*)

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar