Home Breaking News Mentan : Cepat Tangani Hama Wereng Cokelat

Mentan : Cepat Tangani Hama Wereng Cokelat

124
Sawah para petani Desa Beji Pasuruan, Jatim dirusak hama wereng.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Memasuki musim kemarau, hama wereng menyerang batang cokelat (WBC) di beberapa sentra produksi padi nasional.  Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman jauh -jauh hari menginstruksikan tim pengendalian hama itu dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengendalikan serangan WBC agar tidak meluas.

“Luas lahan yang diserang sangat kecil perbandingannya dibandingkan luas keseluruhan lahan di Indonesia. Tapi pengendalian serangan hama WBC sekecil inipun harus segera dilakukan sejak dini untuk mengantisipasi meluasnya ledakan serangan hama sehingga tidak terjadi gejolak yang bisa menurunkan produksi padi nasional. Untuk itu, kiat-kiat pengelolaan pertanaman padi di lapangan perlu dilakukan,” ujar Amran Sulaiman di Jakarta, Sabtu (12/8/2017).

Meskipun serangan hama wereng belum menjadi ancaman besar, Amran tetap meminta jajarannya untuk tetap waspada dan sigap bergerak menanganinya.

Data Ditjen Tanaman Pangan Kementan yang diolah dari hasil pengamatan pihak internal maupun petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di daerah, total luas lahan yang terkena hama wereng dari bulan Januari hingga Juli adalah 67.749 hektare. Sementara lahan puso (gagal panen) yang diakibatkan wereng seluas 746,71 hektare.

“Saya sudah perintahkan semua unit kerja POPT bergerak. Balai-balai pertanian di daerah segera berkoordinasi dengan pemda setempat untuk mencari spot-spot daerah yang terdampak wereng. Saya minta tiap hari daerah  terdampak wereng dimonitor, dan segera dilaporkan, Insya Allah segera teratasi,” kata Amran.

Gerak cepat pemerintah pusat dalam antisipasi serangan WBC diapresiasi oleh pemerintah daerah, diantaranya Pemkab Purbalingga, Jawa tengah.

Bahkan Kepala Dinas Pertanian Purbalingga Lily Purwati memuji berbagai upaya yang dilakukan oleh semua pihak sehingga serangan wereng di Purbalingga sudah mampu dikendalikan. Serangan yang awalnya mencapai 150 hektare dari total pertanaman seluas 15 ribu hektare, kini tinggal 95 hektare.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari kerjasama yang kuat antara pemerintah daerah bersama-sama dengan Badan Litbang Pertanian Kementan, Universitas Jenderal Soedirman, TNI, dan Penyuluh,” ungkap Lily.

Bentuk kerjasama dengan Badan Litbang Pertanian ini diwujudkan di antaranya dalam penerapan teknologi. Badan Litbang Pertanian telah membawa teknologi Bioprotektor, Bio Decomposer, dan sistem taman Jarwo Super.

“Teknologi yang dibawa Badan Litbang Pertanian ini cukup ampuh dalam mengendalikan wereng,” imbuh Lily. (Ning)

Komentar

Komentar