Home Breaking News Menperin: Kerja Sama Industri RI- AS Perlu Ditingkatkan

Menperin: Kerja Sama Industri RI- AS Perlu Ditingkatkan

183
Airlangga Hartarto didampingi Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Harjanto dan Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar menyampaikan pemaparan mengenai perkembangan sektor industri nasional di hadapan anggota Delegasi Business US ASEAN Business Council di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 3 Agustus 2017. (Foto : Kemenperin)

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, kerja sama Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) khususnya di sektor industri perlu ditingkatkan karena bersifat saling melengkapi.

“Selama ini, investasi Amerika masuk ke Indonesia utamanya di sektor industri padat modal dan teknologi,” ujarnya usai bertemu dengan US-ASEAN Business Council di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Kamis (3/8/2017).

Sedangkan, Indonesia dapat mengisinya melalui industri yang cukup berdaya saing seperti kelompok sektor tekstil, pengolahan karet, kulit, barang kulit dan alas kaki, serta makanan dan minuman.

Airlangga menyampaikan, pihaknya tengah mendorong perjanjian bilateral untuk meningkatkan ekspor industri tekstil Indonesia ke AS.

“Saat ini, produk tekstil kita kena bea masuk di sana sebesar 12,5 persen. Sedangkan, Vietnam sudah nol persen karena ada agreement kedua negara. Jadi, perjanjian tersebut juga akan mendongkrak daya saing produk kita,” ungkapnya.

Nilai ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2016 sebesar USD9,13 miliar. Adapun kelompok hasil industri yang juga memiliki nilai ekspor dengan tren positif, antara lain industri pengolahan kelapa sawit, furniture, pulp dan kertas, barang-barang kerajinan, elektronika, serta pengolahan alumunium.

Menurut Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Harjanto, untuk mengembangkan hubungan perdagangan dan investasi RI-AS, terdapat forum Trade Investment Council (TIC) tingkat menteri guna membahas dan menyelesaikan berbagai isu perdagangan dan investasi kedua negara.

“TIC terdiri dari empat Working Group, yaitu WG on Industrial and Agricultural Products, WG on Illegal Logging and Associated Trade, WG on Intellectual Property Rights, dan WG on Investment,” ungkapnya.

Dalam perkembangannya, lanjut Harjanto, RI dan AS telah sepakat untuk membentuk Commercial Dialogue (CD) sebagai pelengkap makanisme kerja sama yang telah ada.

“Commercial Dialogue merupakan kerja sama yang saling menguntungkan dan mengedepankan peran sektor swasta dalam memanfaatkan peluang investasi dan perdagangan antara kedua negara,” jelasnya.

Format dialog tersebut disepakati dalam dua track, yaitu pembahasan cross cutting issues dan issue per sektor. “Dialog diusulkan untuk fokus pada beberapa area kerjasama yaitu investment climate, trade expansion, small and medium enterprises, entrepreneurship, clean energy dan industrial cooperation,” pungkasnya. (pemi)

Komentar

Komentar