Home Breaking News Lintong Sopandi Hutahean Soroti Pentingnya Riset Komponen Lokal

Lintong Sopandi Hutahean Soroti Pentingnya Riset Komponen Lokal

167
Kepala BPPI Ngakan Timur Antara (kanan). Foto Humas Kemenperin RI.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Perindustrian RI (Kemenperin), kembali menjalin kerja sama antara beberapa unit litbangnya dengan produsen komponen otomotif seperti PT Rekadaya Multi Adiprima (RMA). Ini upaya mereka meningkatkan kinerja dalam hal riset komponen lokal guna memenuhi industri otomotif agar dapat bersaing secara global.

“Berbagai jenis produk seperti nonwoven, plastik, metal, interior dan printing yang menjadi fokus bisnis RMA dapat lebih dikembangkan lagi dengan kerja sama R&D dan pengembangan material dan desain. Sejauh ini sinergi antara Litbang dengan RMA sudah bisa dikomersialisasi, sehingga kerja sama ini perlu diperluas,” ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kemenperin, Lintong Sopandi Hutahean, kemarin di Jakarta.

Dia menyoroti pentingnya sebuah riset atau penelitian konfrehensif teknologi sektor industri nasional. Bahwa hasil penelitian dan pengembangan yang bagus itu kata dia, dapat menjawab segala peluang dan tantangan di sektor industri saat ini. Untuk itu, pemerintah kata dia, berharap investasi baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dapat terus mengalir ke sektor ini serta menghasilkan berbagai inovasi kekinian.

Al kisah, ujar Lintong, tahun 2016, PT RMA telah bersinergi di bidang litbang dan komersialisasinya dengan tiga Balai Besar Kemenperin, yaitu Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T), Balai Besar Tekstil (BBT), dan Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI).

Riset yang dikerjasamakan antara PT RMA dengan B4T adalah implementasi cover baterai accu untuk kendaraan roda empat. Cover ini berfungsi untuk melindungi aki dari pengaruh panas baik itu yang ditimbulkan oleh mesin maupun lingkungan.

Dengan BBT, PT RMA bekerja sama dalam pengembangan prototipe panel pengendali kebisingan suara (noise pollution) dari serat alam.

“Kerja sama antara PT RMA dengan BBTPPI, yang dilakukan adalah membuat inovasi produksi membran selulosa asetat dari tekstil spinning,” tutur Lintong.

Menilik kesuksesan beberapa kerja sama tersebut, tahun ini BPPI Kemenperin dan PT RMA berencana memperluas kerja sama dengan lima unit Balai Besar, yaitu Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK), penelitian dan pengembangan material flame retardant, anti fungi, painting dan transport packaging.

Kemudian, Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) terkait pengembangan material composite berbasis serat, Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) terkait teknologi machine stamping, Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) terkait interior otomotif berbasiskan budaya lokal Indonesia, serta Balai Besar Kulit Karet dan Plastik (BBKKP) terkait material berbasis karet dan plastik.

“Kerja sama tersebut ditandai melalui penandatanganan lima MoU baru pada Forum Inovasi dan Intermediasi Litbang Industri yang diselenggarakan pada tanggal 4 September 2017,” jelas Lintong membeberkan.

Pada kesempatan itu, ditampilkan hasil kerja sama litbang sebelumnya dengan tiga Balai Besar Kemenperin serta penyelenggaraan business matching antara perusahaan industri dengan unit litbang BPPI.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, produk Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan daya saing sehingga mampu berdaya saing dengan produk impor. Capaian ini merupakan hasil nyata dari pelaksanaan riset dan pengembangan yang dijalankan oleh industri nasional dalam menghasilkan inovasi produk.

“Peningkatan daya saing dan produktivitas bangsa itu merupakan bagian dari Nawacita pemerintahan Jokowi-JK. Makanya, upaya peningkatan daya saing dan produktivitas menjadi penting," ungkapnya ketika memberikan kuliah umum di Universitas Mercu Buana (UMB), akhir pekan lalu.

Di hadapan 5.500 mahasiswa baru UMB yang terdiri dari program ahli madya, sarjana, magister, dan doktor, Menperin menyarankan agar seluruh perguruan tinggi di Indonesia memasukkan mata kuliah coding sebagai pelajaran dasar. Hal tersebut karena pasar dunia saat ini lebih dominan di bidang internet hosting atau berbasis startup.

“Kemenperin juga mendorong perguruan tinggi untuk tidak hanya memasukkan hardware sebagai mata kuliah dasar, tetapi juga coding,” tuturnya.

Menurut Airlangga, langkah tersebut perlu dilakukan lantaran dunia kerja saat ini khususnya di sektor industri kreatif lebih banyak diminati oleh para generasi muda. Dengan begitu, mahasiswa ataupun lulusan perguruan tinggi tidak melulu akan menjadi marketing, melainkan mampu menguasai startup.

“Semua berbasis aplikasi, jadi bukan hanya lulusan informatika saja yang akan memahami startup, tetapi semua jurusan atau program studi,” ujarnya. (olo)

Komentar

Komentar