Home Breaking News Lagi Kementan Bantah Faisal Basri

Lagi Kementan Bantah Faisal Basri

207
Faisal Basri. Foto tempo

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Lagi Kementerian Pertanian (Kementan) membantah stetmen pakar ekonomi Faisal Basri. Versi Kementan, pembangunan pertanian saat ini hasilnya fantastis dan berjalan on-the track sesuai roadmap kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Dengan demikian tidak benar dikatakan karut marut kebijakan pertanian dan kesejahteraan petani terseok- seok sebagaimana diungkapkan oleh Faisal Basri pada blognya pada 31/1/017.

“Saya malah kawatir justru dia (Faisal basri) yang lagi karut marut,” ungkap Dr Ana Astrid Kasubag Data Sosial Ekonomi, Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Senin (19/5/2017).

Ana mengklaim pada era Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, kebijakan yang ditempuh berpihak kepada petani dan mampu menggerakan perekonomian di pedesaan.

Kebijakan pertanian pun sangat komprehensif dan terstruktur yakni membenahi regulasi, membangun infrastruktur, teknologi produksi, kemudahan investasi, penanganan tata niaga, pengendalian impor dan mendorong ekspor serta membenahi tata kelola pangan.

“Sesuai teori, pembangunan infrastruktur dan riset akan berdampak signifikan dalam pembangunan, maka APBN Kementan fokus pada infrastruktur untuk komoditas strategis dengan pentahapan secara terukur. Sudah dibedah dan dipilih hasil riset terbaik selama ini dan sudah disebarkan melalui program, seperti benih padi Impari, Impago, padi model hazton, tanam jajar legowo, tanam salibu, mekanisiasi dengan alat mesin buatan sendiri dan lainnya.  Setiap rupiah pengeluaran APBN pertanian harus menstimulir perekonomian.  Porsi anggaran untuk petani ditingkatkan dari semula 35 persen menjadi di atas 70 persen,” jelas dia.

Untuk diketahui APBN Kementan pada tahun 2016 dan 2017 turun Rp5 triliun dan Rp10 triliun dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp32 triliun. Alokasi subsidi pupuk Rp31 triliun dan benih Rp1,2 triliun, itu relatif konstan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan hasilnya nyata terhadap produksi.

APBN tersebut sebagian besar untuk investasi infrastruktur sehingga berdampak pada beberapa tahun kemudian, namun ada juga kegiatan fasilitasi sarana produksi benih, pupuk, teknologi budidaya hasilnya berdampak langsung pada produksi.

Dai juga mengklaim hasil kebijakan dan program terbukti sukses. Produksi pangan naik tinggi, tidak impor beras medium, cabai segar, bawang merah konsumsi dan 2017 tidak impor jagung. Nilai tambah dari peningkatan produksi 24 komoditas selama 2 tahun terakhir Rp288 triliun dinikmati petani. Indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan meningkat.

“Jadi tidak benar bila dikatakan anggaran Kementan tidak berdampak pada perekonomian,” pungkas Ana. (olo)

Komentar

Komentar