Home Breaking News KPK Ingatkan Tumpang- Tindih Pengelolaan Dana Desa Rawan Korupsi

KPK Ingatkan Tumpang- Tindih Pengelolaan Dana Desa Rawan Korupsi

167
Ketua KPK Agus Rahardjo. (Foto: CNN)

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Pengelolaan Dana Desa yang tumpang – tindih itu harus dibenahi atau direformasi sehingga menjadi lebih mudaah dan transparan dan tidak rawan dikorupsi.

“Salah satu rekomendasi saya, kita reformasi birokrasi bukan hanya direformasi. Juga harus ganti mesinnya. Artinya yang tumpang tindih dibenahi, lebih sederhana, sistem pengantarannya didorong supaya ada check and balances juga,” ungkap Ketua KPK Agus Rahardjo di Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Agus menjawab pertanyaan soal penjabaran UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan peraturan pelaksanannya yang mengatur bahwa Kementerian Dalam Negeri melakukan pembinaan dan pengawasan Pengelolaan Keuangan Desa.

Sedangkan penyaluran Dana Desa oleh Kementerian Keuangan kepada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Dengan tiga lembaga yang mengurus dana desa tersebut, rawan diselewengkan karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab dari hulu ke hilir.

Salah satu buktinya adalah KPK baru melakukan Operasi Tangkap Tangan terhadap Bupati Pamekasan Ahmad Syafii, Kepala Kejaksaan Negeri Pamekasan Rudy Indra Prasetya, Inspektur Pemerintah kabupaten Pamekasan Sutjipto Utomo, Kepala Desa Dassok Agus Mulyadi dan Kapala Bagian Inspektur kabupaten Pameksan Noer Solehhoddin terkait suap untuk menghentikan penyelidikan penyelewenangan dana desa Dassok senilai Rp100 juta yang sedang ditangani Kejari Pamekasan.

“Sekarang ini kewenangannya juga tidak jelas, ini program (dana desa) tidak ada yang bertanggung jawab. Coba dibenahilah secara mendasar, kelembagaan dibenahi, tata kelola dibenahi, sistem dibenahi,” ucap Agus, menegaskan.

Dalam kasus suap Pamekasan, Inspektur pemerintah kabupaten Pamekasan bahkan ikut serta dalam pemberian suap tersebut.

“Sekarang sistem pengelolaan internal juga sekarang tidak jalan, KPK tidak pernah loh terima laporan dari inspektorat. Jadi pengawasan internal juga harus didorong, misalkan, di kabupaten (inspektorat) jangan bertanggung jawab ke bupati, kalau di provinsi jangan ke gubernur, kan inspektorat jenderal di Amerika bertanggung jawab langsung ke Presiden kan, jadi hal-hal seperti itu dibenahi secara mendasar,” ungkap Agus.

Namun, Agus menolak untuk menyebutkan siapa kementerian yang seharusnya paling bertanggung jawab terhadap dana desa tersebut.

“Kalau saya menyebut salah satu, itu akan menimbulkan permusuhan nanti, tapi harus ramping lah nanti biar nanti dikaji oleh Kementerian PAN-RB,” tambah Agus.

Menurut Agus, KPK juga menerima banyak pengaduan dugaan penyelewenangan dana desa. “Kalau KPK menangani sesuatu itu kan seperti gunung es saja, kasus itu banyak yang terjadi di banyak daerah, laporan banyak tapi akurasi, kematangan datanya yang belum,” ungkap Agus.

Tahun ini dana desa yang dikucurkan adalah sebanyak Rp60 triliun untuk 74.910 desa. Sebelumnya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan bahwa desa yang bermasalah dalam penyaluran dana desa kurang dari 500 desa.

“Artinya pengawasan sudah efektif dan tinggal ditingkatkan intensitasnya mulai dari penyaluran, alokasi dan distribusi. Atas OTT KPK soal dana desa, hal ini menunjukkan perlu ditingkatkannya pemahamanan dan koreksi konstruktif semua pihak mengenai arti penting pembinaan dan pengawasan yang berjenjang mengenai pengelolaan dana desa dalam satu kesatuan poros pemerintahan,” tutur Tjahjo dalam pernyataan tertulis. (ant/oca)

Komentar

Komentar