Home Breaking News Komisi XI DPR RI Soroti Bengkaknya Utang Luar Negeri

Komisi XI DPR RI Soroti Bengkaknya Utang Luar Negeri

445
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Hafisz Tohir. Photo ist

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Hafisz Tohir, kini tengah menyoroti sistem keuangan dalam Pemerintahan Presiden Jokowi-JK, menyusul kian membengkaknya jumlah hutang luar negeri Indonesia yang kini di atas Rp4 ribuan triliun. Meski baru berkuasa 2 tahun.

“Hutang (negara Indonesia) total hampir Rp4300 triliun. Era Jokowi hutang dibayar, tetapi tambahan hutang lebih besar. Jadi lebih besar pasak daripada tiang,” ujar Hafisz Tohir kepada citraindonesia.com di Jakarta, Rabu (26/10/2016).

Kondisi itu tentunya mirip dengan penggalan dendang si Raja Dangdut Rhoma Irama, yakni gali lobang tutup lobang.

Kader PAN ini juga menyatakan bahwa sekarang ini telah terjadi defisit negatif primer yang sangat besar.

Parahnya lanjut wakil ketua komisi membidangi masalah keuangan ini menyatakan bahwa negara kita ini malah tidak mempunyai dana lagi untuk menutup hutangnya kepada asing tersebut.

“Inilah yang dinamakan defisit negatif primer. Dana yang ada tidak cukup untuk membayar hutang, meskipun hanya untuk membayar cicilan bunga hutang saja. Apalagi kalau APBN dipakai untuk membayar cicilan pokok. Maka semakin tambah jeblok saja,” tegas Hafisz menyindir.

Untuk itu, dirinya menyarankan kepala rezim yang berkuasa saat ini agar dana APBN kini dan ke depan difokuskan kepada sektor- sektor yang bisa untuk membangkitkan pergerakan ekonomi saja.

“Fokuskan belanja APBN kepada sektor yang bisa membangkitkan pergerakan ekonomi saja, agar terjadi pertambahan angkatan kerja serta mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” tandasnya.

Sebelumnya, Muliaman Hadad memang menyebutkan bahwa kredit macet (Non Performing Loan/NPL) belum bermasalah, yaitu di bawah 5 persen.

“Saya pikir NPL tersebut (3,22 persen) masih normal, atau di bawah 5 persen seperti yang sering kita jadikan sebagai benchmark untuk menjadi perhatian kita,” tandas Muliaman, Senin (24/10/2016). (bas)

Komentar

Komentar