Home Breaking News Komedian Guatemala Terpilih Jadi Presiden

Komedian Guatemala Terpilih Jadi Presiden

140
Jimmy Morales, komedian yang memenangi Pilpres Guatemala. (foto: Ibtimes)

GUATEMALA CITY, CITRAINDONESIA.COM- Seorang komedian TV yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam bidang pemerintahan, secara mengejutkan memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) Guatemala, Minggu (25/10/2015).

Komedian tersebut, Jimmy Morales, memenangi Pilpres di tengah kondisi negera yang tengah dilanda tanah longsor, dan paska terbongkarnya skandal korupsi yang membuat masyarakat marah, sehingga presiden Guatemala terguling.

“Partai pengusung Morales, National Convergence Front (FCN), meledak dalam kegembiraan, dan merayakan kemenangan dengan musik,” ungkap Reuters, Senin (26/10/2015).

Morales meraih 72,4% dari 70% TPS, karena menjanjikan pemerintahan yang bersih. Sementara saingannya, mantan ibu negara Sandra Torres, meraih 27,6% suara.

Saat penghitungan belum seluruhnya selesai, Morales telah mengklaim bahwa dirinya menang, sementara Torres mengakui kekalahannya.

“Sebagai presiden, saya menerima mandat dan amanat rakyat Guatemala untuk memerangi korupsi yang menggerogoti negara. Tuhan memberkati, dan terima kasih,” kata Morales saat menyampaikan pidato kemenangannya.

Moarels berkiprah di bidang komedi di Guatemala selama 14 tahun. Ia kerap muncul dengan cerita-cerita sederhana dan lelucon yang kerap membuat orang terpingkal-pingkal.

Komedian 46 tahun ini nekat mencalonkan diri karena muak terhadap korupsi yang telah memicu protes rakyat dimana-mana, dan akhirnya membuat Presiden Otto Perez terguling pada September lalu.

“Kami lelah terhadap wajah lama (politikus). Jimmy Morales tidak benar-benar meyakinkan saya, dan saya bahkan tidak menggunakan hak pilih. Tapi dia satu-satunya pilihan,” kata Ana Fuentes (36), seorang pedagang asongan.

Morales sempat dihujani kritik atas ide kebijakannya yang dinilai aneh, seperti menjanjikan untuk membagikan smartphone kepada anak-anak, atau memasang perangkat GPS di pakaian para guru untuk memastikan mereka muncul di kelas.

Manifesto komedian ini hanya berjalan enam halaman, memberikan beberapa petunjuk tentang bagaimana ia mungkin mengatur negara, sementara partainya hanya memiliki 11 dari 158 kursi di Kongres.

“Dia tidak memiliki program dan tidak ada tim, tapi ketidakpuasan rakyat begitu tinggi terhadap para politikus yang selama ini mereka kenal, sehingga isu-isu tentangnya menjadi tidak penting bagi rata-rata pemilih,” kata Hugo Novales, seorang analis politik di Guatemala.

Pemilih sebagian besar menolak Torres yang berusia 60 tahun, karena dianggap sebagai bagian dari tatanan politik lama.

Torres berjanji untuk memperpanjang program kesejahteraan yang dulu juga dikampanyekan Presiden Alvaro Colom, sehingga kritikus menuduhnya sengaja menggunakan program itu untuk mendapat simpati dari kalangan kaum miskin di pedesaan.

Beberapa bulan lalu Morales nyaris tidak masuk daftar hasil jajak pendapat, tapi popularitas langsung melonjak di tengah meningkatnya publisitas untuk memerangi korupsi yang didukung PBB. (man)

Komentar

Komentar