Home Breaking News KKP: Pentingnya Kembangkan Usaha Mutiara untuk Masukan Devisa Negara

KKP: Pentingnya Kembangkan Usaha Mutiara untuk Masukan Devisa Negara

98
Mutiara. Foto ant

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto mengatakan, pentingnya tingkatkan branding Mutiara Laut Selatan Indonesia (Indonesian South Sea Pearl/ISSP) guna meningkatkan daya tarik terhadap mutiara sehingga menjadi sumber pemasukan devisa melalui perdagangan di dalam dan maupun ke luar negeri.

“Keberadaan usaha budidaya mutiara tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada pelaku usaha mutiara tetapi juga kepada industri lainnya. Usaha budidaya mutiara juga menumbuhkan kegiatan dan kreativitas yang memberikan manfaat. Sisa hasil budidaya mutiara seperti aneka hiasan dengan memanfaatkan kulit tiram mutiara, serbuk mutiara sisa hasil penggergajian kulit tiram mutiara untuk kosmetik dan bahan untuk cat kendaraan,” terang Rifky saat memberi sambutan pada pembukaan IPF ke-7, di Jakarta, Rabu (7/11/2017).

Guna memperkenalkan ISSP kepada masyarakat Indonesia maupun internasional, Dharma Wanita Persatuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (DWP KKP) sebagai penggagas bersama-sama dengan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) bekerja sama dengan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) menyelenggarakan 7th Indonesia Pearl Festival (IPF ke-7) dengan mengangkat tema “The Luminous Indonesian South Sea Pearl”, pada tanggal 7 – 12 November 2017 di Lippo Mall Kemang Jakarta Selatan, dengan jumlah peserta sebanyak 44 stand.

Di dunia terdapat sekitar 11 ton south sea pearl. Dari angka tersebut, Indonesia memproduksi kurang lebih 5 ton, disusul Australia dengan 4 ton, Filipina 1,5 ton, Myanmar, dan beberapa negara lainnya. Adapun negara tujuan utama ekspor mutiara laut selatan Indonesia adalah Hongkong, Australia, Jepang.

Menurut Rifky, tak sedikit pengusaha skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga skala besar untuk pembesaran tiram mutiara di Indonesia. Namun, luas laut maupun panjang garis pantai Indonesia baru dapat dimanfaatkan sekitar 2 persen untuk budidaya mutiara. Menurutnya, potensi budidaya ini masih dapat terus dikembangkan.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor mutiara Indonesia di tahun 2015 kurang lebih 30 juta dolar dan tahun 2016 meningkat menjadi 46 juta dolar, yang artinya terjadi peningkatan 35 persen. Namun demikian, nilai tersebut masih di bawah Hongkong, Uni Emirat Arab, Jepang, Tahiti, Australia dan Cina.

Menurut Rifky, hal menarik bahwa negara tujuan ekspor mutiara Indonesia adalah Hongkong. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar trading mutiara south sea pearl Indonesia ini dilakukan oleh Hongkong.

“Sudah saatnya kita membawa kembali ke tempat sumber produksinya (Indonesia). Jadi festival ini adalah sebuah momen yang saya kira sangat baik untuk menarik titik perdagangan mutiara dari Hongkong ke Indonesia,” papar Rifky.

Adapun Direktur Jenderal PDSPKP Nilanto Perbowo mengatakan, IPF ke-7 diselenggarakan untuk beberapa tujuan, yaitu mempromosikan dan mengenalkan ISSP kepada masyarakat; membangun international branding ISSP promosi dan pemasaran; memperluas jaringan bisnis dan pemasaran ISSP; dan mendapatkan umpan balik trend pasar mutiara dan produk turunannya.

“Kita mendorong agar masyarakat dalam negeri, masyarakat lokal, masyarakat Indonesia untuk mengenal bahwa ternyata mutiara ini diproduksi di Indonesia. Kalau sudah mengenal kita produsen utama mutiara laut selatan, harapannya masyarakat sadar kenapa harus pergi ke luar negeri untuk beli,” ujar Nilanto usai pembukaan IPF ke-7.

Nilanto juga menambahkan, dalam kegiatan IPF ini masyarakat dari berbagai kalangan tanpa terkecuali dapat berkonsultasi bagaimana proses lahirnya mutiara dari awal budidaya hingga panen. Masyarakat juga bisa memperoleh informasi bagaimana membedakan mutiara air laut, mutiara air tawar, dan mutiara yang palsu.

“Di sinilah tempat terbaik untuk mendapatkan mutiara laut selatan Indonesia yang asli. Kita pastikan bahwa seluruh vendor telah memberikan garansi bahwa semua mutiara yang dibawa di sini adalah mutiara laut asli Indonesia,” imbuh Nilanto. (*)

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar