Home Breaking News KKP dan Wildlife Conservation Society Sinergikan Data Hiu dan Pari

KKP dan Wildlife Conservation Society Sinergikan Data Hiu dan Pari

155
Ikan Pari Manta. Foto floresbangkit.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama para pakar kini tengah mevalidasi data status dan pengelolaan Ikan Hiu dan Pari di Indonesia.

“Data Hiu dan Pari sampai saat ini kurang baik. Dan pendaratan Hiu dan Pari masih tersebar sehingga data yang dikumpulkan tidak langsung dapat digunakan, pada kesempatan ini data-data tersebut dibahas secara menyeluruh,” ujar  Kepala Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP, Toni Ruchimat, Selasa (29/8/2017) di Gedung Mina Bahari II Jakarta.

Acara ini kerja sama Pusat Riset Perikanan, dengan WCS (Wildlife Conservation Society) dalam rangka pengelolaan perikanan khususnya  dibidang riset, adapun temanya untuk pengelolaan hiu dan pari manta.

Kondisi Hiu dan Pari Manta saat ini sudah dalam kondisi yang memprihatinkan baik dari populasi dan jenisnya. Kita perlu pengelolaan yang baik, tentu data-datanya dapat diperoleh dari hasil riset para pakar dibidang Hiu dan Pari, dalam hal ini pakar-pakar ikan hiu dan pari yang ada dilembaga kita,” jelasnya.

Para pencinta Ikan Hiu dan Pari Mantan, saat berdiskusi dengan KKP.

Sementara itu Direktur WCS, Noviar Andayani, mengungkapkan melalui kegiatan ini pihaknya mendukung pemerintah menghasilkan kebijakan atau strategi pemanfaatan Hiu dan Pari yang bekelanjutan.

“Kami bersama KKP menghadirkan berbagai pemangku kebijakan, para pakar dari dalam dan luar negeri, diharapkan secara strategis bisa menjawab permasalahan yang ada. Indonesia negara yang sangat besar dengan panjang pantai yang panjang pula. Data yang belum memadai atau terdokumentasikan dengan baik dan tanpa didukung oleh pemangku kebijakan maka akan sulit atau tidak akan bisa memberikan dampak luas bagi pelestarian dan pemanfaatan hiu secara luas,” ujar Noviar.

Ikan hiu merupakan ikan bertulang rawan yang termasuk dalam sub kelas Elasmobranchii, kelas Chondrichtyes. Sebagian besar jenis hiu yang umum dikenal berasal dari sub kelas Elasmobranchii. Sub kelas ini terdiri dari dua kelompok yaitu ikan hiu dan pari.

Hiu dan pari merupakan salah satu kelompok hewan air memiliki kerentanan tinggi terhadap eksploitasi, hal ini tidak terlepas dari karakter biologi seperti pertumbuhan lambat, umur dewasa yang lama, tingkat reproduksi yang rendah.

Eksploitasi terhadap hiu dan pari di Indonesia sangat tinggi dalam dua dekade terakhir, dipicu oleh permintaan pasar luar negeri terhadap produk hiu seperti sirip.

Indonesia sebagai salah satu pusat perikanan Hiu dan Pari di dunia telah diidentifikasi sebagai salah satu prioritas global untuk konservasi hiu dan pari. Hal tersebut membutuhkan strategi pengelolaan komprehensif untuk perlindungan, pengelolaan, pengaturan dan pemanfaatan yang berkelanjutan.

Dorongan untuk melakukan pengelolaan hiu dan pari yang lebih baik salah satunya berasal dari Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES),  memberikan momentum bagi Indonesia untuk tingkatkan pengelolaan dan konservasi hiu dan pari secara signifikan.

Di sisi lain, implementasi dari upaya pengelolaan dan konservasi memiliki tantangan yang cukup besar bagi Indonesia dengan keanekaragaaman dan kompleksitas yang tinggi. Salah satu tantangan tersebut adalah ketersediaan data dalam mendukung sebuah kebijakan dalam upaya pengelolaan dan konservasi.

Dengan latar belakang tersebut, KKP bersama WCS mewadahi para peneliti baik Indonesia maupun luar negeri untuk pembelajaran, mensintesiskan dan memvalidasi pemahaman dan pengetahuan tentang status, ancaman, dan peluang untuk konservasi dan pengelolaan hiu dan pari di Indonesia. Para ahli akan melakukan validasi dan konsolidasi terhadap pemahaman dan pengetahuan tentang hiu dan pari di Indonesia, yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan strategi konservasi prioritas di masa yang akan datang.

Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan konsultasi dan diskusi untuk beberapa isu, antara lain: (1) identifikasi sentra perikanan, perdagangan dan konsumsi hiu dan pari di Indonesia; (2) memetakan habitat penting bagi konservasi dan pengelolaan hiu dan pari di Indonesia, seperti lokasi agregasi, lokasi pengasuhan dan rute migrasi; (3) melakukan review terhadap jenis hiu dan pari yang tercatat di Indonesia, beserta status ancamannya; (4) menggali lebih dalam mengenai ancaman, peluang dan strategi untuk melakukan pengelolaan dan konservasi hiu dan pari di Indonesia; (5) memetakan kesenjangan tentang pengetahuan dan penelitian hiu dan pari di Indonesia.

Selama dua hari sampai dengan 30 Agustus 2017 akan menghasilkan (a) data komprehensif tentang perikanan hiu dan pari, sentra perdagangan dan konsumsi hiu di Indonesia; (b) peta besar lokasi dan habitat penting bagi hiu dan pari di Indonesia; (c) informasi jenis hiu yang ditemukan di Indonesia, dan spesies prioritas untuk dilakukan konservasi berdasarkan aspek biologi dan status keterancamannya; (d) overview tentang ancama utama dan strategi untuk pengelolaan dan konservasinya; serta (e) analisis kesenjangan mengenai pemahaman dan pengetahuan serta kebutuhan penelitian di masa yang akan datang.

Hadir 40 peserta yang terdiri dari perwakilan eselon I KKP dan peneliti perikanan khususnya hiu dan pari dari dalam dan luar negeri serta lembaga masyarakat terkait. (linda)

Komentar

Komentar