Home Breaking News Keunikan Pesona Danau Toba dan Agrowisata

Keunikan Pesona Danau Toba dan Agrowisata

176
Kawasan Danau Toba yang tampak kurang terpelihara.

PARAPAT, CITRAINDONESIA.COM- Panorama di kawasan Danau Toba (KDT) tidak hanya keindahan alamnya, tapi potensi agrowisatanya. Terutama di Samosir yang persawahan maupun perladangannya sangat unik. Kontur alam di Samosir itu unik.

Lembah dan pebukitan dengan latar belakang Danau Toba bersatu membentuk landscape tersendiri. Bentangan alam yang kompleks itu merupakan keunggulan yang tak dimiliki daerah-daerah lain di Indonesia.

Potensi yang dimilikinya itu dapat dijadikan modal untuk menjadikan kawasan ini sebagai destinasi objek wisata berkonsep agrowisata. Langkah awal Pemerintah Samosir, misalnya, bisa melakukan pemetaan kawasan mana yang cocok untuk itu.

Misalnya memilih desa-desa yang hamparan persawahan luas lengkap dengan pebukitan dan view Danau Toba itu sendiri.

Tortor batak. Foto ilustrasi.

“Di Bandung konsep itu berhasil dilakukan. Sejumlah kawasan persawahan ditata sedemikian rupa. Mereka bisa menjadikan persawahan sebagai objek wisata,” kata pendiri Wonderful Sumatera, Resi Tarigan kepada medan bisnis kemarin.

Hal itu juga pernah dipratikkan di Tanah Karo. Antara lain Berastagi dan Gundaling. Namun seiring waktu pesonanya mulai memudar.

Menurutnya hal itu bisa juga dilakukan di kawasan Danau Toba. Salah satunya Samosir. Dijelaskannya, dibanding dengan daerah lain di kawasan Danau Toba, Samosir bentangan alamnya lebih kompleks. Ada pebukitan, hutan, perkampungan, persawahan, perladangan, air terjun dan tentu saja Danau Toba itu sendiri.

Lebih jauh ia menjelaskan, konsep agrowisata pada dasarnya menekankan potensi pertanian/perkebunan masyarakat. Sehingga tidak perlu harus menciptakan sesuatu yang baru.

“Yang terpenting adalah penataan,” kata lulusan S2 UGM ini.

“Seiring dengan isu go green, sekarang trend pariwisata adalah agrowisata. Turis datang tidak hanya ingin menikmati alam, tetapi juga ingin menjadi bagian di dalamnya. Misalnya turis-turis dari Eropa. Pengalaman kami selama ini, mereka sangat tertarik ketika diajak ikut memanen padi bersama masyarakat. Samosir sangat berpeluang untuk itu. Kalau Bandung hanya punya persawahan. Kawasan Danau Toba punya semuanya,” katanya lagi.

Konsep agrowisata pada dasarnya mengakomodasi bentang alam dengan sensasi kehidupan alami masyarakat yang mendiaminya. Sehingga para wisatawan tidak merasa hanya sekadar berkunjung ke suatu tempat, namun juga ikut merasakan suasana kehidupan yang terjadi di tempat yang dikunjunginya. Apalagi bagi turis-turis mancanegara, yang seumur hidupnya belum tentu pernah memanen padi, misalnya.

Go Green :
Konsep wisata seringkali berbenturan dengan sisi ekologis. Kebutuhan pendukung pariwisata bahkan seringkali bertentangan dengan prinsip-prinsip ekologis.

Misalnya keberadaan hotel cenderung merusak ekosistem alam di sekitarnya. Untuk itu, wacana wisata berbasis go green harus terus disuarakan. Salah satunya dengan mengembangkan konsep agrowisata.

Hal itu juga ditegaskan pegiat wisata alternatif dari Young Mens Chrsitian Assosiation (YMCA) Medan, Nanda Hutabarat.

Bayangkan, betapa menariknya kalau turis ikut panen kopi atau mangga bersama masyarakat, misalnya. Dalam arti mereka tidak jadi penikmat tapi juga pelaku. Dan itu bisa terjadi kalau ada kawasan-kawasan yang ditata untuk itu. Misalnya ada yang khusus perkampungan mangga, perkampungan kopi, perkampungan terung Belanda dan sebagainya. Jadi turis bisa milih mau kemana,” kata Nanda.

Wisata agrowisata termasuk yang paling sangat memungkinkan dikembangkan di sekitar Danau Toba, seperti yang sudah dilakukan di Jawa Barat, Bali dan NTT dan NTB. Ditambah lagi dengan perhatian masyarakat modern kepada hal-hal yang berbau tradisi semakin tinggi. Wisatawan-wisatawan itu tak sekedar ingin melihat peninggalan-peninggalan nenek moyang satu daerah, tetapi ingin lebih merasakan aktivitas masyarakatnya langsung.

Misalnya merasakan sensasi makan di tengah pematang sawah, mandi di pancuran terbuka atau ikut bermain bersama anak-anak di halaman rumah di waktu malam.

“Sensasi-sensasi ini masih sangat memungkinkan dikembangkan. Mengingat peninggalannya itu masih ada di daerah-daerah. Paling tidak perlu direvitalisasi serta didesain sesuai kebutuhan industri wisata,” jelas Nanda.

“Saya yakin, sentuhan-sentuhan semacam ini akan membangkitkan gairah para wisatawan. Dan yang lebih penting, wisata dengan model seperti ini akan sejalan dengan konsep ekowisata yang memang tengah hangat-hangatnya dibicarakan,” lanjut Nanda. (*)

Komentar

Komentar