Home Breaking News Kementan: Petani Semakin Sejahtera!

Kementan: Petani Semakin Sejahtera!

229
Tampak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan panen raya padi mikik para petani Indonesia. Photo Ningsih.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Pertanian menegaskan tingkat kesejahteraan para petani Indonesia semakin meningkat karena program pangan yang diimplementasikan berdampak pada peningkatan produksi dan langsung menyentuh petani, sehingga pemerintahan sekarang tidak pernah mengabaikan petani.

“Sejak 2015 hingga sekarang petani semakin sejahtera. Hal ini berkat berbagai program pemerintah yang menyentuh langsung ke petani,” tegas Kepala Pusat Data Kementerian Pertanian Anna Astrid, di Jakarta, Jumat (16/6/2017).

Anna mengulas bahwa banyak sekali indikator menunjukkan para petani lebih sejahtera dalam kondisi sekarang ini antara lain;

  • Pertama, penduduk miskin di pedesaan September 2016 sebesar 17,28 juta jiwa turun dari September 2015 sebesar 17,89 juta jiwa;
  • Kedua, Gini rasio September 2016 sebesar 0,316, turun bila dibandingkan September 2015 sebesar 0,329;
  • Ketiga, Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2016 mencapai 101,65 meningkat 0,06 persen dibandingkan NTP 2015 yang sebesar 101,59.
  • Keempat, Nilai Tukar Usaha Petanian (NTUP) rata-rata nasional tahun 2016 berada di posisi tertinggi tiga tahun terakhir. Tahun 2016 NTUP mencapai 109,86 atau naik 2,3 persen dibandingkan tahun 2015.

“Meskipun NTP bukan indikator kesejahteraan terbaik, tetapi mampu gambarkan kemampuan daya beli petani. Wajar lah NTP berfluktuasi antar bulan dalam setahun, karena terkait dengan musim tanaman,” paparnya.

Indikator terkini cukup lanjutnya juga baik, yakni Mei 2017 NTP naik 0,14 persen dibandingkan bulan sebelumnya, upah buruh tani juga naik 0,29 persen.

“Seluruh data diatas ditujukan untuk menjawab pernyataan Faisal Basri yang menuding pemerintah hanya berpihak pada kalangan menengah keatas dan mengabaikan petani,” terangnya.

Ia mengingatkan bahwa program kerja pemerintah seperti membagikan benih gratis tidak sesederhana yang dibayangkan. Sejumlah kriteria teknis harus dipenuhi dan bibit tidak ditanam di lokasi eksisting, sehingga menambah luas tanam.

“Masih banyak program-program yang manfaatnya dirasakan ke petani. Pertama, rehabilitasi jaringan irigasi tersier 3,4 juta hektar berdampak meningkatkan indeks pertanaman, Kedua, bantuan traktor dan alat mesin pertanian 80.000 unit pertahuan berdampak menghemat biaya produksi, hemat tenaga, waktu kerja lebih cepat, menurunkan susut hasil dan lainnya. Ketiga, asuransi usahatani 1,0 juta hektar melindungi petani dari gagal panen, Keempat membangun 19.400 embung dan longstorage untuk multi fungsi kegiatan pertanian karena ada air berarti ada kehidupan,” jelas Anna.

Hasil dari program tersebut adalah luas tanam padi 2016 naik 1,05 juta hektar dibandingkan 2015 dan jagung juga naik 862 ribu hektar.  Dengan demikian produksi padi dan jagung naik fantastis. Kinerja ini diakui Kundhavi Kadiresan, FAO Regional Representative untuk Asia dan Pasifik mengatakan FAO menghargai keberhasilan Indonesia dalam swasembada beras 2016.

Selanjutnya Anna mengatakan pada aspek hilir telah ditetapkan kebijakan harga bawah dan harga atas untuk melindungi petani dan konsumen, dilakukan serap gabah/beras oleh BULOG dengan hasil serap gabah/beras 2016 naik 1,0 juta ton dibandingkan 2015.

“Ini kan bukti Pemerintah hadir melindungi petani dari harga jatuh saat panen raya. Pengendalian impor pangan sesuai kebutuhan dengan hasil sejak 2016 hingga sekarang tidak ada impor beras medium, tidak ada impor cabai segar dan tidak impor bawang merah konsumsi¬† dan pada 2017 tidak ada impor jagung,” imbuhnya.

Guna menata aspek tata niaga, masih menurut Anna, Kementan secara terpadu dengan Kemendag, Kemendagri, KPPU dan Polri membentuk Satgas Pangan dengan hasil lebih dari 80 kasus penimbunan barang dan peredaran pangan illegal ditindak. KPPU juga telah memberi sanksi bagi pelaku kartel sapi dan ayam.

“Perilaku pasar yang tidak sehat seperti kartel dan mafia selama ini lah yang telah menyengsarakan petani dan merugikan konsumen dan akan dibasmi habis oleh Menteri Pertanian,” tutup Anna. (Ning)

Komentar

Komentar