Home Breaking News Kementan Pastikan Harga Beras Lebih Murah Setelah HET

Kementan Pastikan Harga Beras Lebih Murah Setelah HET

297
Pedagang beras ketan sedang menjajakan dagangannya di pasar tradisional Pasar Minggu (Foto: Badia Andrew/citraindonesia.com)

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Pertanian RI (Kementan), klaim konsumen menikmati harga Beras lebih murah setelah kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) bila dibandingkan sebelumnya.

“Harga beras premium di ritel dan pasar modern wilayah Jakarta dan sekitarnya turun mencapai 50 persen. Semula Rp22.000 – Rp36.000 per kg, turun menjadi Rp12.800 per kg,” ujar Kepala Pusat dan Sistem Informasi, Kementan, Suwandi tertulis hari ini.

Gak tanggung- tanggung. Tim Kementan mendapatkan up date harga perdagangan komoditas itu di sepermarket Vietnam periode September 2017 ini.

“Di supermarket Vietnam pada September 2017, beras varietas Nang-Xuan Rp15.185/ Kg, Lai sua Rp15.318/ Kg, Tran chau  Rp16.916/Kg, Bac Tham Nam Dinh Rp18.914/Kg, Dac San Thai Duong Rp16.250/Kg, kurs Rp13.320 per USD,” jelas Suwandi menambahkan.

Penelusuran Tim Kementan 1 Oktober 2017 di beberapa supermarket di My Tho City, Provinsi Tien Giang, Vietnam,  harga beras berkisar 11.400 hingga 24.000 Namdong. Harga tersebut setara dengan Rp 6.758 hingga 14.227 per kg.

“Dengan fakta ini terlihat harga beras di Vietnam tidak jauh berbeda dengan Indonesia,” sebutnya Suwandi.

Untuk diketahui, stok beras Bulog saat ini mencapai 1,53 juta ton. Suwandi menilai stok tersebut aman memenuhi kebutuhan beras hingga tujuh bulan ke depan yaitu April 2018 dan pada Februari-April 2018, akan panen raya padi.

Bahwa sejak tahun 2016 Indonesia sudah swasembada beras karena konsumsi beras sudah dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Indonesia sejak Januari tahun 2016 hingga awal Oktober 2017 tidak keluarkan rekomendasi impor maupun ijin impor beras medium,” tuturnya.

Data BPS Januari- Agustus 2017, Indonesia impor beras 191 ribu ton.  Ini bukan impor beras medium, tetapi beras pecah 100% (menir) sebesar 188 ribu ton dan sisanya berupa benih dan beras khusus.

“Beras khusus yang tidak tidak diproduksi di dalam negeri seperti: Thai Hom Mali, Thai Jasmine Rice, Parboiled Rice, Basmati, dibutuhkan untuk restoran asing yang ada di Indonesia,” tegasnya.

Masih data BPS, neraca perdagangan komoditas pertanian Januari- Agustus 2017 surplus USD 10,98 miliar. Nilai ekspor Indonesia USD 22,18 miliar, impornya USD 11,20 miliar.

Surplus neraca perdagangan ini naik 101 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2016 surplus USD 5,46 miliar.

Kontribusi terbesar surplus dari ekspor sawit dan karet, serta sebagian berasal dari penurunan impor pangan dan ada kenaikan ekspor pangan. (olo)

Komentar

Komentar