Home Breaking News Kemenperin Perdalam Struktur Industri Farmasi

Kemenperin Perdalam Struktur Industri Farmasi

130
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono (kanan) bersama Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek (kedua kiri) dan Fresenius Kabi Board Member and President Region Asia, Gerrit Steen (ketiga kiri) meninjau proses produksi obat di PT. Ethica Industri Farmasi, Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, 23 November 2017.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Perindustrian tengah memprioritaskan pendalaman struktur industri farmasi nasional terutama di sektor hulu atau produsen penyedia bahan baku farmasi. Upaya strategis ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

“Pemerintah telah menyediakan beberapa insentif fiskal seperti tax allowance dan tax holiday,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Pabrik Produksi Sediaan Steril PT. Ethica Industri Farmasi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (23/11/2017).

Dengan fasilitas pengurangan pajak tersebut, diharapkan semakin banyak pelaku industri farmasi yang akan mengembangkan pabrik bahan baku farmasi di Indonesia. Selanjutnya, guna memacu daya saing, Kemenperin sedang fokus melaksanakan program pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis kompetensi untuk menciptakan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Dalam hal ini, Menperin memberikan apresiasi kepada PT. Ethica Industri Farmasi yang membangun pabrik barunya untuk memproduksi obat injeksi steril. Di samping itu, diharapkan dapat ikut serta dalam program vokasi industri dengan membina beberapa Sekolah Menengah Kejuruan di sekitar wilayahnya.

Untuk membangun pabrik di atas lahan seluas 4,3 hektare di Kawasan Industri Jababeka ini, perusahaan menanamkan investasi sebesar Rp1 triliun dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 230 orang. Produk obat injeksi yang dihasilkan dalam bentuk ampul maupun vial dengan proses produksinya menggunakan teknologi aseptik dan sterilisasi akhir.

PT. Ethica Industri Farmasi merupakan perusahaan patungan antara Fresenius Kabi AG dengan SOHO Global Health, yang berupaya merealisasikan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat produksi obat injeksi utama bagi pasar Asia, Australia, dan ke depannya ke berbagai pasar potensial di dunia.

Fresenius Kabi Board Member and President Region Asia, Gerrit Steen menyampaikan, pihaknya akan menyediakan akses kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia dengan beragam pilihan obat injeksi bagi penyakit kritis dan kronis. “Pabrik ini dilengkapi dengan teknologi farmasi terkini,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT. Ethica Industri Farmasi, Indrawati Taurus mengatakan, perusahaan juga berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai upaya penyediaan produk kesehatan yang berkualitas global dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Perusahaan ini sudah menyediakan 20 jenis produk obat injeksi, di antaranya digunakan untuk perawatan ginekologi, anestesi, dan perawatan pasien kritis yang saat ini telah beredar di Indonesia.

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menjelaskan, saat ini terdapat 230 industri farmasi yang berperan aktif dalam upaya pemenuhan ketersediaan obat di dalam negeri.

“Program JKN dimulai sejak tahun 2014, dan ditargetkan pada 2019 sudah harus mencapai universal health coverage. Saat ini peserta program JKN mencapai 183 juta. Dengan adanya JKN, terlihat peningkatan penjualan obat melalui e-katalog, terutama untuk obat generik,” paparnya.

Kemenperin mencatat, industri farmasi Indonesia mampu menyediakan 70 persen dari kebutuhan obat dalam negeri. Sedangkan, nilai pasar produk farmasi ke ASEAN mencapai USD4,7 miliar atau setara dengan 27 persen dari total pasar farmasi di ASEAN. Ini menjadi peluang cukup besar bagi industri farmasi dalam negeri untuk lebih mendominasi pasar domestik atau ekspor.

Pemerintah akan mendorong pengembangan sektor industri farmasi, herbal, dan kosmetika karena Indonesia mempunyai potensi sumber daya alam yang mampu mendukung proses produksinya. Terlebih lagi, Indonesia akan berkerja sama dengan Singapura dalam penetapan standar dan keamanan pengan termasuk juga produk herbal agar bisa lebih berdaya saing di tingkat global. (dewi)

 

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar