Home Breaking News Kawasan Industri Baja di Kalsel dan Nikel di Sulsel

Kawasan Industri Baja di Kalsel dan Nikel di Sulsel

394
Proses produksi baja.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Keluar dari Jawa Centris, Kemenperin sudah mengarahkan sejumlah investor untuk membangun industri strategis ke luar Pulau Jawa, sesuai arahan Presiden Jokowi. Bahwa industri Baja misalnya, tak lagi berpusat di Cilegon, Jabar saja demi pemerataan perekonomian masyarakat.

‘Kemenperin memiliki program pembangunan kawasan industri berbasis baja di Batulicin, Kalimantan Selatan’, ujar Menperin Airlangga Hartarto, Sabtu (13/1/2018) di Jakarta.

Kawasan yang dimaksud industri baja berdiri kokoh di atas lahan seluas 955 hektare ini diproyeksi akan menyerap tenaga kerja sebanyak 10 ribu orang. Saat ini sudah ada industri baja yang beroperasi, yaitu PT Meratus Jaya Iron and Steel serta dilengkapi dengan fasilitas pelabuhan ferry.

Dalam upaya penyiapan sumber daya manusia yang siap kerja di kawasan industri Batulicin, Kemenperin telah menginisasi pembangunan Politeknik pada tahun ini, sehingga putra-putri daerah dapat berperan lebih aktif dalam membangun industri baja di kawasan tersebut.

Sulawesi :

Proyek selanjutnya, yakni pembangunan industri berbasis nikel dan baja tahan karat (stainless steel) di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah.

Kawasan itu memiliki lahan seluas 2.000 hektare, realisasi investasi sepanjang tahun 2015-2017 sebesar Rp80 triliun dan ditargetkan pada tahun 2019 mencapai Rp105 triliun.

Selain itu, periode 2015-2017, kawasan ini menyerap tenaga kerja sebanyak 15 ribu dan ditargetkan pada 2019 akan membuka kesempatan lebih dari 40 ribu tenaga kerja.

Dari kawasan tersebut, juga ditargetkan akan menghasilkan 4 juta ton stainless steel per tahun, dan pabrik baja karbon berkapasitas 4 juta ton per tahun.

Produksi stainless steel tercapai 4 juta ton per tahun, Indonesia akan menjadi produsen kedua terbesar di dunia atau setara produksi di Eropa.

Meningkatkan daya saing industri baja nasional, Kemenperin telah menjalankan berbagai program strategis, antara lain memfasilitasi kerja sama investor asing dengan mitra dalam negeri, promosi investasi, pendampingan perolehan insentif bagi industri baja, dan perumusan regulasi yang mendukung industri baja.

Selanjutnya, memfasilitasi pembentukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Baja, penerapan kebijakan penggunaan produk dalam negeri di proyek-proyek pemerintah maupun swasta, melakukan perbaikan dan harmonisasi regulasi untuk menjamin kepastian industri baja nasional agar dapat tumbuh dan berkembang.

‘Serta mengusulkan harga gas yang kompetitif untuk industri baja nasional’, ujar Airlangga. (linda)

 

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar