Home Breaking News Kasus Lahan PLTA Simarboru, Bangun Siregar : Kami Akan Lapor ke KPK

Kasus Lahan PLTA Simarboru, Bangun Siregar : Kami Akan Lapor ke KPK

61
Demo rakyat terkait pembebasan lahan proyek PLTA Simarboru, Sipirok terhadap Bupati Tapsel Syahrul P1000.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Harga tanah cuma Rp60/M2 di luar tanaman. Mirisnya warga diintimidasi bila warga tidak mau menjualnya Rp800/M2. Itulah nasib dialami para Warga Desa Aek Batang Payadan, Desa Luat Lombang Kec.Sipirok, Tapanuli Selatan sehingga mereka berdemo di Istana Negara dan pengaduan nasibnya ke wakil rakyat di Gedung DPR RI, Rabu (20/9/2017).

Para warga menakui bahwa tanah mereka yang dibebaskan untuk lahan PLTA Simarboru itu ada yang sudah dibayar seharga sepotong roti Rp8.000/M2.

“Kami minta Pak Jokowi menindak oknum- oknum yang mengintimidasi rakyat,” teriak para pendemo itu.

Koordinator aksi Bangun Siregar SH menanggapi aksi demi itu memastikan oknum Tim Pembebasan lahan itu mengintimidasi dan menakuti-nakuti masyarakat supaya melepas tanahnya dengan harga sepotong roti itu.

“Warga diintimidasi. Makanya mereka datang ke Jakarta dari Sipirok mewakili 140 KK. Yakni mantan Kades Gunung Hasaatan, Ramlan Purba, Kamiluddin Siregar, Wilson Harahap, Sampeyan Nasution dan Sakbanuddin Siregar,” jelasnya menyangkan.

Bangun Siregar memastikan tanah ulayat warisan leluhur itu adalah lahan tani pendaharian rakyat setempat. Karenya Bangun Siregar bilang akan adukan kasus ini ke KPK.

“Kami menduga ada perbuatan grativikasi. Kami tidak bilang Pemkab Tapsel. Tetapi dugaannya membuat kami harus menyampaikannya ke KPK,” kata Bangun.

Menurutnya dari data proyek itu PLTA 510 Megawatt itu sebesar Rp20triliun. Akan berdiri di atas lahan  600 hektar.

Keberatan rakyat setempat tanahnya terlalu murah, dari harga harga tawar asal Rp60/M2 kini dinaikkan jadi Rp8000/M2 oleh PT North Sumatera Hydro Energy berkantor di Jakarta. Kenaikan harga itu setelah berbagai aksi penolakan rakyat.

karean itu rakyat memnita Presiden Jokowi melindungi rakyat. Karena mereka hanya hidup dari ladang dan kebunnya. Bila harganya sepotong roti gimana mau sejahtera? (adams)

Komentar

Komentar