Home Breaking News “JKN Ramah Anak”

“JKN Ramah Anak”

226
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Hari ini saya diundang untuk menghadiri FGD di KPAI yg mengambil tema Perlindungan Anak dalam Kebijakan JKN. Tentunya FGD dgn tema ini sangat baik dilaksanakan mengingat banyak kasus yang menimpa anak sebagai peserta JKN dan atau ketika anak baru lahir dari orangtua peserta JKN. Diharapkan dgn FGD ini KPAI dapat memberikan masukan kepada pengambil kebijakan JKN agar peraturan-peraturan JKN mampu memahami kebutuhan anak dengan segala kondisinya.

Ada beberapa usulan yang bisa saya sampaikan terkait acara FGD ini, yaitu :
1. Mengingat Peraturan Presiden No. 19 tahun 2016 mengatur tentang bayi yang lahir dari orangtua peserta PBI langsung dinyatakan sebagai peserta PBI tanpa harus mendaftar terlebih dahulu, tentunya hal ini berbeda dengan bayi yang baru lahir atau yang masih dalam kandungan dari orangtua peserta JKN non PBI yang harus didaftar dulu, sehingga bayi yg baru lahir tsb tidak otomatis menjadi peserta JKN. Saya kira ketentuan ini tidak memberikan perlakuan yg sama antara bayi yang baru lahir dari peserta PBI dan peserta non PBI. Terkesan terjadi diskriminasi. Nilai dari prinsip gotong royong adalah adanya perlakuan yg tidak diskriminatif. Kondisi ini pada akhirnya menyebabkan banyak kasus yg dihadapi bayi baru lahir yang kebetulan harus dirawat, apalagi harus dirawat di NICU. Memang dalam regulasi calon bayi sudah bisa didaftarkan sehingga bisa mengatasi masa aktivasi 14 hari, namun dalam prakteknya masih banyak peserta JKN yang tidak mengetahui ttg regulasi ini. Sosialisasi ttg regulasi JKN masih sangat minim sehingga banyak peserta tidak tahu. Oleh karenanya saya kira adalah baik bila Perpres no. 19 tahun 2016 juga bisa mengamanatkan bahwa seluruh bayi yg baru lahir dari orangtua peserta JKN otomatis menjadi peserta JKN dengan masa waktu untuk mendaftarkan sanga bayi selama 1 bulan sejak bayi lahir (untuk orangtua non PBI).

2. Maraknya kasus anak yang harus menjalani operasi atau tindakan khusus namun harus menanti giliran sampai berbulan-bulan dari RS merupakan kasus yang hingga kini belum bisa diatasi oleh pemerintah dan BPJS Kesehatan secara sistemik. Kondisi ini memang sangat urgen utk dicari solusinya mengingat kondisi anak yang tidak kuat dan berdampak pada penurunan kesehatan ketika harus menunggu giliran berbulan bulan. BPJS Watch beberapa kali mendapat laporan kasus seperti ini dan harus melakukan pendekatan kepada pejabat BPJS kesehatan utk bisa diprioritaskan. Dengan bantuan BPJS Kesehatan pada akhirnya memang anak2 tsb bisa diprioritaskan. Namun yg sangat baik adalah bila ada solusi secara sistemik yang dibangun pemerintah. Pemerintah harus membangun jaringan informasi antar RS yang bisa memenuhi kebutuhan urgen bagi anak2 yg membutuhkan tindakan khusus dan cepat. Tentunya jaringan informasi antar RS ini juga bisa mendukung peserta JKN mendapatkan ruang NICU dan PICU yang memang jumlahnya terbatas.

3. Ketentuan tentang pelayanan satu poli untuk satu hari yang diterapkan bagi peserta JKN seharusnya tidak diterapkan bagi pasien anak. Mengingat kondisi ketahanan tubuh anak maka seharusnya Anak mendapatkan perlakuan khusus dgn membolehkan anak bisa mendapatkan pelayanan lebih dari satu poli di RS dalam satu hari.

4. Terkait dgn jumlah PICU dan NICU yang terbatas seharusnya pemerintah pusat dan daerah menambah ruang PICU dan NICU di RSUD maupun RS pemerintah pusat. Hal ini tentunya membutuhkan anggaran khusus dari APBN maupun APBD.

5. Demikian juga dengan regulasi yang masih membatasi penggunaan ambulance hanya dari faskes ke faskes hendaknya juga bisa direvisi sehingga pelayanan ambulance bisa melayani dari rumah ke faskes. BPJS Watch beberapa kali mendapatkan pengaduan ttg pelayanan ambulance bagi pasien anak yg tidak bisa digunakan dari rumah ke faskes.
Demikian beberapa usulan yang saya tulis sebagai pengganti ketidakhadiran saya di acara FGD tsb. Semoga usulan usulan ini bisa menambah masukan dalam penyempurnaan regulasi JKN sehingga JKN lebih mampu memenuhi kebutuhan bagi pasien anak Indonesia. Semoga JKN ramah terhadap anak.

Pinang Ranti, 24 Oktober 2017
Tabik
Timboel Siregar

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar