Home Breaking News Jelang Referendum Inggris, 2 Kubu Berdebat Sengit

Jelang Referendum Inggris, 2 Kubu Berdebat Sengit

237
Kubu Brexit dan yang ingin tetap berada di Uni Eropa terlibat perdebatan sengit. (Foto: Sbs)

LONDON, CITRAINDONESIA.COM- Kubu yang ingin Inggris tetap di Uni Eropa dan yang ingin keluar, berdebat sengit, Selasa (21/6/2016) malam waktu setempat dalam acara yang disaksikan ribuan penonton di Webley Arena, sebuah tempat konser terkemuka di London.

“Perdebatan ini merupakan yang terakhir bagi kedua kubu untuk meraih dukungan sebanyak-banyaknya sebelum Inggris menggelar referendum pada Kamis (23/6/2016),” ujar Aljazeera, Rabu (22/6/2016).

Panelis dari kedua kubu bersitegang terkait banyak hal, termasuk soal imigrasi.

Walikota London Sadiq Khan yang menjadi juru bicara kelompok yang ingin Inggris tetap di Uni Eropa, menyerang Boris Johnson yang menjadi juru bicara kelompok yang ingin keluar dari Uni Eropa.

“Anda berbohong dan cuma menakut-nakuti orang,” kata Khan sambil mengacungkan leaflet bertuliskan “Leave!” yang mengingatkan bahwa Turki bisa bergabung dengan Uni Eropa.

“Itu meresahkan, Boris, dan Anda harus malu … Anda menggunakan tipu muslihat tentang Turki untuk menakut-nakuti orang agar memilih meninggalkan Uni Eropa,” kata Khan, dan disambut sorak-sorai dari penonton.

Johnson membalas dengan menuding pihak yang pro-Uni Eropa sebagai pihak yang tengah menjalankan “Proyek Takut” karena berdalih meninggalkan blok beranggotakan 28 negara itu akan merusak ekonomi Inggris.

“Mereka mengatakan kami tidak punya pilihan selain sujud ke Brussels. Kami mengatakan mereka sangat tidak meremehkan negara ini dan apa yang dapat dilakukan,” katanya.

Anggota parlemen dari partai konservatif ini berjanji bahwa jika saat referendum esok Inggris memilih meninggalkan Uni Eropa, maka hari itu akan dicanangkan sebagai Hari Kemerdekaan, dan janjinya itu mendapatkan tepuk tangan berkepanjangan dari penonton.

Prospek Inggris untuk menjadi negara pertama yang membelot dari Uni Eropa dalam 60 tahun sejarah blok itu, telah menimbulkan kekhawatiran akan efek domino atas runtuhnya proyek Eropa.

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker sebelumnya memperingatkan bahwa jika Inggris meninggalkan Uni Eropa, maka negara itu tak hanya akan “menyakiti dirinya sendiri”, namun juga akan membahayakan semua orang Eropa.

Acara ini dipadati 12.500 penonton yang menduduki kursi Wembley Arena. Kubu yang menginginkan tetap di Uni Eropa meramaikan gedung yang kerap dijadikan tempat konser penyanyi dunia itu dengan menyanyikan lagu “All You Need is Love”.

Panitia Avaaz mengatakan, serenade itu merupakan upaya untuk melawan “rasa takut dan kampanye yang membuat warga Inggris terbelah”, namun kedua kubu tetap bertentangan.

“Rasanya seperti suasana dalam stadion sepakbola … rasanya sangat bermusuhan. Anda bisa mengatakan hampir ada kabut darah di udara,” kata Michael Flaxington, seorang mahasiswa dari Kent.

Linda Mayne, seorang pensiunan berusia 60 yang juga berasal dari Kent, mengatakan, kedua pihak berdebat dengan baik, tapi hal itu tidak mempengaruhinya untuk tetap memilih Brexit.

“Saya mendukung “Leave” karena saya ingin Inggris memiliki demokrasinya sendiri lagi, dan dapat mengatur dirinya sendiri lagi,” kata Mayne.

Tapi Anton Georgiou, seorang mahasiswa, argumen para pemilih “Leave” adalah “slogan kosong yang tanpa rencana rincian apapun.

Dua surat kabar Inggris, Daily Express dan The Sun, di halaman depannya memuat berita bahwa Ratu Elizabeth II menantang untuk diberi “tiga alasan yang baik” mengapa Inggris harus tetap di Uni Eropa.

The Times menerbitkan sebuah peringatan dari ratusan pemimpin bisnis, termasuk bos Virgin Richard Branson dan media mogul US Michael Bloomberg, bahwa keluarnya Inggris dari UE dapat menyebabkan “shock ekonomi”. (man)

Komentar

Komentar