Home Breaking News Isu Harga Cabai Turun, Kementan Langsung Tinjau Lapangan

Isu Harga Cabai Turun, Kementan Langsung Tinjau Lapangan

191
Dirjen Horti Kementan Spudnik Sujono bersama tim ketika blusukan di sentra produksi cabai di Malang, Rabu (16/8/2017). Foto Ningsih/citraindonesia.com).

MALANG, CITRAINDONESIA.COM- Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) spontan blusukan ke sentra produksi untuk memastikan ketersediaan aneka Cabai dan Bawang Merah dan melakukan panen Cabai di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

“Yang akan dipanen di areal lahan seluar 360 hektar dan sekalian memantau langsung kelapangan bagaimana keadaannya, karena kita dapat laporan bahwa harga di sini sedang turun. Untuk itu kita akan memastikannya dan sekaligus panen cabai,” ungkap Dirjen Hortikultura Kementan, Spudnik Sudjono, kepada awak media, Rabu (16/8/2017).

Dijelaskan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menjaga ketersediaan aneka cabai dan bawang merah itu. Secara nasional ketersediaan, tahun 2017 kata Dirjen yang akrab dengan media ini mencukupi. Bahkan indikatornya surplus, jika dibandingkan dengan kebutuhan bila dikomper dari rencana pola tanam yang telah dialokasikan kepada provinsi dan daerah- daerah sentra produksi komotitas itu.

“Untuk Cabai Rawit, prognosa produksi tahun 2017 mencapai 986.605 Ton dengan perkiraan surplus produksi sekitar 87.091 Ton dengan kebutuhan nasional sebesar 848.605 Ton. Untuk Cabai Besar prognosa produksi 1.283.692 Ton perkiraan surplus mencapai 87.232 Ton┬ádengan kebutuhan nasional sebesar 1.116.871 Ton,” paparnya.

Menurut Spudnik, Perbandingan neraca kebutuhan dan produksi cabai besar pada tahun 2017 di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara mengalami surplus, namun di Kalimantan mengalami defisit 1.094 Ton, Maluku serta Papua 738 Ton dan di pulau Jawa sendiri mengalami surplus 132.600 Ton.

“Untuk wilayah yang masih mengalami defisit seperti Kalimantan, Sumatera, Maluku dan Papua dalam pemenuhan kebutuhan masih mengandalkan distribusi dari Pulau Jawa dan Sulawesi,” paparnya.

Perbandingan neraca kebutuhan dan produksi Bawang Merah pada tahun 2017 di Pulau Jawa, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara mengalami surplus, namun di Kalimantan juga mengalami defisit 26.280 Ton, Sumatera 34.356 Ton dan Maluku Papua juga defisit 5.797 Ton serta di Pulau Jawa mengalami surplus 678.789 Ton.

“Dalam satu tahun Cabai Rawit memerlukan luas tanam sebesar 193.452 hektar atau rata-rata 16.100 hektar perbulan dan produksi 988.605 ton atau rata-rata 82.380 perbulannya,” terang Spudnik.

Dalam satu tahun Cabai Besar memerlukan luas tanam 156.648 ha atau rata-rta 13.054 hektar perbulan dan produksi 1.283.692 ton atau rata-rata 106.970 Ton perbulan dan untuk Bawang Merah memerlukan luas tanam 168.400 hektar atau rata-rata 14.033 hektar perbulan dan produksi rohol 1.390.000 Ton atau rata-rata 115.83 ton perbulan.

“Untuk kenaikan kebutuhan dan produksi pada Hari Besar Keagamaan Nasional sekitar 10-15 persen,” tambah Spudnik.

Untuk perkiraan ketersediaan aneka Cabai perkiraan produksi Cabai Rawit berturut-turut dari bulan Agustus sampai Oktober adalah 81.864 Ton, 78.606 dan 77.983 Ton.

Sedangkan perkiraan produksi cabai besar pada bulan Agustus 104.148 Ton dan untuk bulan September dan Oktober masing-masing sekitar 100.373 Ton. Untuk angka rata-rata kebutuhan Cabai Besar per bulan sekitar 92 ribu Ton dan rata-rata kebutuhan Cabai Rawit 70 ribu Ton. (Ning)

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar